RIUH TEPUK TANGAN ENGINEER SAAT KDM SAMPAIKAN BUKA ACARA CAFEO 44
Konferensi ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) ke-44 yang diselenggarakan di Hotel Pullman, Bandung, resmi dibuka dengan dihadiri oleh sekitar 1.200 tamu dan delegasi dari 11 negara. Dalam acara pembukaan tersebut, Kang Dedi Mulyadi menyampaikan pidato penting yang menyoroti peran strategis para insinyur (engineer) sebagai fondasi utama kebudayaan, kemanusiaan, dan peradaban bangsa.
Di hadapan para insinyur nasional dan mancanegara, Kang Dedi memaparkan perspektif bahwa dunia engineering sejatinya telah ada sejak awal peradaban manusia. Ia mengibaratkan Nabi Adam sebagai representasi seorang engineer pertama yang memilih kehidupan nyata di bumi berbasis pemahaman material (tanah, air, udara, dan energi) demi proses keberlanjutan.
Selain itu, ia juga mengenang kontribusi besar para insinyur terkemuka Indonesia dalam sejarah kepemimpinan bangsa, seperti Ir. Soekarno yang melahirkan gagasan-gagasan besar pembangunan infrastruktur nasional, serta Prof. B.J. Habibie yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun kemandirian industri strategis nasional mulai dari dirgantara, perkapalan, perkeretaapian, hingga teknologi pertahanan.
Menolak Hegemonisasi dan Mengutamakan Keadilan Sosial
Dalam arahannya, Kang Dedi mengingatkan agar para engineer di kawasan ASEAN tidak bekerja untuk kepentingan hegemoni kapitalisme global atau kolonialisme yang kerap mengeksploitasi bahan baku secara tidak adil. Ia mencontohkan realitas di berbagai daerah penambangan di mana kekayaan alam dikeruk habis, sementara masyarakat lokal justru terjebak dalam kemiskinan dan kerusakan ekosistem.
“Kita hari ini harus membangun kesadaran agar para engineer di negara-negara ASEAN adalah mereka yang bekerja untuk keadilan dan kemanusiaan, bukan untuk hegemoni dan dominasi,” tegasnya.
Ia mendorong agar kawasan ASEAN mengedepankan sistem ekonomi komplementer yang setara di mana wilayah penghasil bahan baku didorong untuk bertransformasi memiliki kapasitas industri dan teknologi mandiri, bukan sekadar menjadi penonton di atas tanah mereka sendiri.
Menjaga Integritas Profesi dan Kebenaran Eksakta
Sebagai profesi yang berlandaskan pada ilmu-ilmu eksakta yang menjunjung tinggi hukum kausalitas, para engineer dituntut untuk selalu berpegang pada prinsip kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Kang Dedi juga berpesan kepada Persatuan Insinyur Indonesia (PII) agar secara tegas menindak anggotanya yang menyimpang dari sumpah profesi akibat intervensi kekuasaan atau pragmatisme politik.
“Kalau ada bangunan roboh, di situ ada karya seorang engineering yang salah dan melawan kausalitas alam… PII bisa mengeluarkan dia karena itu bukan insinyur yang baik, melainkan insinyur yang manipulatif,” ujarnya.
Konferensi CAFEO ke-44 ini diharapkan mampu mempererat kolaborasi antar-negara ASEAN guna melahirkan solusi-solusi inovatif yang aplikatif, berpihak pada kesejahteraan rakyat, serta memperkuat kedaulatan industri dan teknologi di dalam negeri.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Pi5QXoDQNas









