KDM IKUTI UJIAN PROPOSAL PENELITIAN | INI GAGASAN PEMIKIRAN YANG DIUSUNG
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), secara resmi memaparkan gagasan pemikiran akademisnya dalam ujian proposal penelitian program doktoral ilmu politik di Universitas Padjadjaran (Unpad). Di hadapan tim promotor dan penguji, KDM mempresentasikan usulan risetnya yang berjudul “Transformasi Ideologi Politik Tradisionalisme Sunda dari Kabayan Menuju Bujangga Manik”.
Dalam paparannya, KDM menyoroti kesalahan fundamental masyarakat modern yang kerap mereduksi makna kebudayaan sebatas pada produk kesenian atau kepariwisataan [[03:20]]. Menurutnya, kebudayaan adalah akar dari setiap sendi kehidupan, baik itu pengelolaan pemerintahan, keuangan, lingkungan, maupun ekonomi [[03:36]]. Kebudayaan merupakan manifestasi dari hubungan harmonis antara manusia dengan semestanya yang kemudian membentuk tradisi serta cara berpikir sebuah bangsa.

Kabayan Sebagai Simbol Relasi Sosial dan Otokritik
KDM mengangkat tokoh fiktif “Si Kabayan” bukan sekadar sebagai figur humor, melainkan sebagai prototipe dialektika masyarakat Sunda pada masa lalu yang masih homogen dan hidup dalam harmoni alam yang melimpah. Kabayan mewakili bagaimana masyarakat kelas bawah membangun hubungan horizontal yang jenaka dengan sesamanya, sekaligus cara mereka menyampaikan pesan otokritik terhadap kekuasaan tanpa konfrontasi keras.
Menurut KDM, ketiadaan kompetisi ekstrem untuk bertahan hidup di masa lalu membuat karakter budaya Sunda cenderung santai. “Karena waktu itu seluruh kebutuhan operasional hidup manusia sudah tersedia dan menggunakannya berdasarkan ukuran, maka budayanya menjadi sangat rileks dan dipenuhi simbolisme,” jelas KDM.
Bujangga Manik: Kebutuhan Intelektualitas Pemimpin di Era Heterogen
Namun, KDM menegaskan bahwa pendekatan jenaka ala Kabayan sudah tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman saat ini. Jawa Barat dan Indonesia kini telah bertransformasi menjadi masyarakat yang sangat heterogen beragam dari suku, agama, serta dialektika ekonomi politik yang kompetitif. Saat ini, pendatang bukan hanya sekadar berniat untuk singgah dan bertahan hidup, namun juga berniat menguasai hingga mengkapitalisasi sumber daya yang ada.
Oleh karena itu, KDM menawarkan transformasi ideologi kepemimpinan yang disimbolkan oleh perjalanan “Bujangga Manik” seorang tokoh pengembara intelektual yang merepresentasikan pencarian spiritualitas, basis pengetahuan akademis yang terbuka, serta keberanian melintasi batas geografis pemikiran.
“Dalam sebuah negara demokrasi, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengakrobatikan cara berpikir akademik semata karena ia berhadapan dengan publik yang sangat heterogen. Pemimpin yang utuh (kaluhur sirungan) harus bisa memadukan kebijaksanaan cara berkomunikasi Kabayan yang menghibur dan diterima rakyat, namun tetap berpijak pada intelektualitas akademis seorang Bujangga Manik,” tegas KDM membedah konstruksi kepemimpinan ideal.
Membongkar Stigma Klenik Menjadi Naskah Akademik Kenegaraan
Gagasan KDM ini juga bertujuan mulia untuk merekonstruksi warisan peradaban Karuhun (leluhur) Sunda. Selama ini, banyak nilai-nilai peradaban masa lalu yang terputus, dimistifikasi, dianggap klenik, atau bahkan dibenturkan dengan nilai agama.
KDM berambisi untuk membawa nilai-nilai kebijaksanaan lokal ini kembali ke atas meja akademis. Ia mendorong para akademisi, filolog, dan pembuat kebijakan untuk mengkaji nilai leluhur Nusantara bukan sebagai barang pusaka yang mistik, melainkan sebagai literatur akademik yang empiris untuk menyusun landasan kehidupan bernegara di masa depan.
“Adalah sebuah ironi, kita membangun bangsa ini, tetapi seluruh perspektif berpikirnya tidak pernah menggunakan kearifan leluhur kita yang telah sukses membangun peradaban sebelumnya,” tutup KDM. Melalui penggabungan sastra, sejarah, dan antropologi politik, kajian ini diharapkan mampu menjawab krisis identitas dan kegagapan Indonesia dalam menghadapi benturan peradaban global.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=toqQU_X1m28








