KDM MINTA PROF. ZULYS, GURU BESAR FMIPA UI BERI PERTIMBANGAN PENYUSUNAN AMDAL BDX
SUBANG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), terus menunjukkan keseriusannya dalam mengawal transparansi pembangunan pusat data (Data Center) BDX di wilayah Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. KDM mengundang Prof. Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) yang juga ahli di bidang kimia dan analisis lingkungan, untuk berdiskusi dan memberikan pandangan akademis terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek tersebut.
Dalam diskusinya, KDM menekankan bahwa proses perizinan AMDAL tidak boleh hanya sekadar memenuhi persyaratan administratif yang normatif, tetapi harus diuji melalui ruang dialog publik yang terbuka dan berbasis sains. KDM menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat memang tidak memiliki otoritas langsung atas izin AMDAL tersebut karena ranahnya berada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta, namun sebagai Gubernur ia merasa berkewajiban memastikan jalannya investasi tidak merugikan lingkungan sekitar.
Analisis Kebutuhan Air: Lebih Aman dari Eksploitasi Air Tanah
KDM dan Prof. Zulys kembali mengupas tuntas isu krusial mengenai kebutuhan air untuk sistem pendingin (cooling system) cip Data Center BDX. KDM memaparkan data bahwa kuota air dari Waduk Jatiluhur untuk PDAM Purwakarta saat ini mencapai 3.000 liter per detik, namun baru terpakai sekitar 11 persen. Kebutuhan operasional BDX yang ditaksir memakan sekitar 380 liter per detik dinilai hanya akan menyerap kuota PDAM menjadi total 25 persen, sehingga masih menyisakan kelonggaran (spare) kuota sebesar 75 persen yang belum dimanfaatkan.
Prof. Zulys membenarkan perhitungan tersebut dan menyatakan bahwa ketersediaan kuota air tersebut sangat mencukupi tanpa harus mengganggu pasokan bagi masyarakat setempat. Lebih jauh, KDM dan Prof. Zulys sepakat bahwa mengambil kuota air permukaan yang berlimpah dari Waduk Jatiluhur jauh lebih aman dan tidak berisiko dibandingkan jika perusahaan mengeksploitasi sumber air tanah secara langsung, yang secara nyata akan memicu kekeringan pada sumur-sumur warga [23:42], [23:50].
“Ini kan airnya sudah ada, sudah melimpah. Apalagi kalau musim hujan, airnya malah terbuang. Makanya bangun Data Center di Jatiluhur, bukan di tengah pemukiman warga,” ujar KDM menegaskan kesesuaian lokasi [24:00], [24:16].
KDM Tunjuk Prof. Zulys Dampingi DLH Purwakarta
Sebagai langkah konkret menjamin kenetralan, KDM secara langsung menugaskan Prof. Zulys untuk menjadi narasumber ahli independen dalam mendampingi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta selama memproses perizinan AMDAL BDX. KDM berharap kehadiran akademisi murni sekelas Prof. Zulys dapat menelaah kelayakan lingkungan secara objektif, mendebat kajian pihak konsultan apabila diperlukan, dan terbebas dari intervensi. Prof. Zulys pun menyambut baik dan menyatakan kesediaannya untuk mengemban tugas tersebut demi kepentingan kelestarian lingkungan.
Edukasi Mitigasi di Hulu Citarum (Cisanti)
Di sela-sela pembahasan Data Center, KDM juga membagikan keprihatinannya mengenai kondisi hulu Sungai Citarum di kawasan Cisanti. KDM menyoroti area tangkapan air (catchment area) yang kondisinya kian gersang akibat dirambah dan beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur, sehingga mengancam kelestarian sumber mata air.
Sebagai solusi, KDM telah merancang program besar untuk menghijaukan kembali 2.000 hektare lahan milik negara di kawasan tersebut. Untuk memastikan perawatannya, KDM tidak akan menggunakan cara konvensional. Ia berencana memberdayakan para buruh tani setempat untuk beralih profesi menjadi penjaga kelestarian hutan, dan akan memberikan upah rutin senilai Rp2,5 juta per bulan (untuk perawatan per 2 hektare), yang dinilainya lebih layak dibandingkan upah buruh tani harian mereka selama ini.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=SqDiWLPHK6g









