DICURHATI PELAMAR MASIH TERJADI PERCALOAN TENAGA KERJA | INI LANGKAH KDM
Kehadiran kawasan industri baru semestinya menjadi angin segar bagi perekonomian warga lokal. Namun, harapan ini kerap dinodai oleh praktik percaloan yang mencekik para pencari kerja. Merespons hal tersebut, Dedi Mulyadi (KDM) turun langsung ke kawasan industri di Subang untuk memberantas keluhan warga mengenai mahalnya ‘harga’ sebuah pekerjaan.
Kunjungan KDM diawali dengan interaksi hangat bersama para pekerja proyek konstruksi yang sedang membangun fasilitas pabrik. Para pekerja yang berasal dari berbagai daerah, seperti Bogor dan Sumedang, mengaku bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak, yakni berkisar antara Rp120 ribu untuk tukang hingga Rp300 ribu per hari untuk operator alat berat.

KDM berdialog dengan pekerja konstruksi
Keluhan Para Pelamar: Syarat Kerja Harus Bayar Rp 3 Juta
Di tengah tinjauannya, KDM dihampiri oleh sekelompok perempuan pencari kerja yang berasal dari daerah Pagaden dan Cilamaya. Mereka mencurahkan kesulitan menembus pabrik-pabrik baru tersebut karena sistem aplikasi lowongan kerja yang disediakan pemerintah daerah dianggap belum berfungsi maksimal dan banyak pabrik yang belum terintegrasi di dalamnya.
Kondisi ini memaksa para pelamar datang menyerahkan berkas fisik secara langsung, yang akhirnya membuka celah bagi praktik percaloan. Fakta mengejutkan pun terungkap saat KDM menanyakan besaran biaya yang diminta oleh oknum calo.
“Rata-rata tiga juta (rupiah) sih Pak. Itu untuk tenaga kontrak 6 bulan. Lewat orang luar yang kerja sama dengan orang dalam pabrik,” ungkap salah seorang pelamar kepada KDM.
Praktik ini jelas merugikan warga lokal. Pelamar harus membayar mahal hanya untuk masa percobaan 6 bulan, dan jika tidak diperpanjang, mereka akan kehilangan pekerjaan sekaligus uang yang sudah disetorkan.
Langkah Cepat KDM: Instruksikan Kadisnaker dan Datangi Pabrik
Merasa prihatin dengan kondisi tersebut, KDM spontan memberikan bantuan uang transportasi kepada para pelamar agar mereka tidak semakin terbebani. Namun, KDM sadar bantuan uang saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan.
Secara kebetulan, KDM bertemu dengan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) setempat di lokasi tinjauan. Ia pun langsung memberikan instruksi tegas untuk membenahi sistem. “Pak Kadis, segera undang seluruh industri baru yang ada di sini agar mengakses (aplikasi) ‘Nyari Gawe’. Agar tidak ada lagi orang datang bawa lamaran manual begini yang rawan percaloan,” tegas KDM.
Tindakan proaktif KDM berlanjut dengan melakukan inspeksi mendadak ke salah satu pabrik pembuat boneka, PT Kissplay Indonesia, yang tengah bersiap untuk berproduksi. KDM langsung menemui perwakilan pabrik dan meminta penjelasan mengenai sistem rekrutmen mereka.
Pihak pabrik mengakui bahwa mereka belum sepenuhnya terkoneksi dengan sistem pencari kerja milik daerah akibat kendala pendaftaran, namun mereka menepis adanya instruksi pembayaran. Untuk mencegah klaim sepihak dari calo yang memanfaatkan ketidaktahuan warga, KDM meminta perwakilan pabrik untuk mengumumkan alamat email resmi rekrutmen mereka di depan kamera. Pihak HRD pun menyampaikan bahwa lamaran dapat dikirimkan secara langsung tanpa biaya melalui email recruit@kidsplayid.com.
Melalui langkah nyata ini, KDM berupaya agar warga lokal tidak lagi menjadi korban eksploitasi di tanahnya sendiri. KDM juga menegaskan bahwa pemimpin harus tanggap menjembatani permasalahan antara pencari kerja dan perusahaan agar penyerapan tenaga kerja berjalan bersih, adil, dan transparan.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=aogLMNKVDjw









