KDM SAMPAIKAN PANDANGAN KEMANDIRIAN EKONOMI DI DEPAN KADIN JABAR
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pidato inspiratif di hadapan jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat. Alih-alih membawakan teori ekonomi makro yang rumit, KDM memaparkan pandangannya mengenai manajemen anggaran daerah dan kemandirian ekonomi yang bersumber pada intuisi, rasa, dan filosofi “Dapur Ibu”.
Filosofi “Samara Pawon” dan Spiritualis Seorang Ibu
Dalam pidatonya, KDM mengisahkan bagaimana ibunya yang buta huruf mampu membesarkan dan menyekolahkan 12 anak hanya dengan mengandalkan sumber daya yang ada di sekitar rumah. Ia menyebut konsep ini sebagai Samara Pawon (bumbu dapur).
“Ibu saya tidak belajar ilmu ekonomi tinggi, ia belajar dari apa yang dimiliki di lingkungan. Dapur adalah sendi utama ketahanan ekonomi. Ia mengorkestrasi tumbuhan di belakang rumah, ada cengek (cabai), ada aren dibuat gula, tomat, dan hanya garam yang diimpor dari dapur,” kenang KDM. Dari kesederhanaan itulah lahir kreativitas pangan lokal seperti Sambal Goang dan aneka olahan singkong yang kini bernilai jual tinggi.
Lebih dari sekadar memutar otak, KDM menekankan bahwa ketahanan ekonomi keluarganya tak lepas dari kekuatan spiritual. “Di balik bilik yang miskin, lahir orang-orang penuh harapan—ada jenderal, menteri, profesor. Ingat, mereka tidak meminjam ke mana pun. Kekuatan roh dan keyakinan total pada Allah yang diajarkan ibu menjadi kuncinya,” tuturnya penuh haru.

Gubernur Jawa Barat ketika berpidato di acara Kadin Jabar
Rombak Birokrasi: Hapus Seremonial, Dorong Investasi
KDM kemudian menganalogikan peran pemerintah provinsi dalam mengelola APBD layaknya seorang ibu yang memutar keuangan keluarga yang terbatas (“saeutik mahi, loba nyesa”). Ia menggeser paradigma tata kelola dengan menitikberatkan pada tiga prinsip utama: output, outcome, dan benefit—yang harus bermuara pada kesejahteraan warga pedesaan.
Langkah konkret yang ia lakukan adalah menghapus seluruh kegiatan seremonial pemerintahan dan penggunaan gedung sewaan, lalu mengalihkan anggarannya untuk investasi infrastruktur daerah. KDM bahkan mendorong agar ornamen infrastruktur bangunan pemerintah menggunakan bambu.
“Bambu itu ramah lingkungan, ada di kampung, dan bisa menggerakkan ekonomi. Dari tukang potong bambu, tukang angkut, sampai tukang bilik yang selama ini kurang dihargai, kini terserap tenaganya. Saya mengubah harga sebatang bambu dari Rp3.000 menjadi Rp20.000,” tegas KDM.
Distribusi Kekayaan dan Revolusi Ruang Sosial
Gubernur juga menyoroti masalah sentralisasi uang di ibu kota yang berakibat pada disparitas ekonomi antara pusat dan daerah. Ia menggagas konsep tata ruang yang radikal: orang kaya tidak lagi berdiam di kawasan elite yang eksklusif, melainkan harus tinggal berbaur di lingkungan pedesaan atau bersama masyarakat miskin.
“Orang kaya tidak boleh tinggal di komplek orang kaya, itu tidak ada maknanya. Mereka harus tinggal di lingkungan masyarakat pedesaan. Di sana, mereka akan menjadi kekuatan bagi lingkungannya; membantu yang sakit, membangun jalan, masjid, gereja, hingga vihara. Dengan begitu, ekonomi desa akan bergerak tanpa perlu lagi pusing soal subsidi,” jelas KDM memberikan sudut pandang taktisnya.
KDM juga mendorong Kadin Jabar dan pemimpin daerah untuk memperbanyak perputaran uang di daerah alih-alih menghabiskannya di ibu kota provinsi atau Jakarta. Ia bahkan menekankan pentingnya menghargai budaya lokal dengan menyajikan kuliner tradisional (seperti lotek dan soto) untuk tamu internasional sebagai bentuk kebanggaan dan kepercayaan diri bangsa.
Penataan Keuangan APBD: Pendidikan Gratis dan Jalan Layak
Melalui pergeseran anggaran yang strategis, KDM membuktikan bahwa efisiensi tanpa menambah APBD bisa mendatangkan manfaat nyata. Hasilnya, Jawa Barat berhasil membebaskan biaya pendidikan untuk sekolah negeri tahap pertama, menggratiskan sekolah swasta yang bekerja sama, hingga memberikan bantuan seragam dan tas sekolah gratis bagi keluarga tak mampu senilai puluhan miliar rupiah.
Di sektor infrastruktur, Pemprov Jabar menanamkan investasi hingga hampir Rp4 triliun. “Bagi saya, jalan bukan sekadar jalan; jalan adalah cermin peradaban. Silakan cek jalan provinsi hari ini, pasti ada betonnya, drainasenya, dan PJU-nya,” KDM menantang para hadirin dengan penuh percaya diri.
Pidato KDM diakhiri dengan pesannya kepada para pengusaha UMKM dan pedagang untuk memuliakan tempat usahanya. Ia berjanji akan membenahi dan mempercantik etalase warung-warung kecil hingga toko suku cadang di sepanjang jalan sebagai wujud nyata keadilan ekonomi bagi masyarakat kecil.
Melalui sentuhan intuitif dan kebijakan pro-rakyat ini, Pemprov Jawa Barat optimistis dapat mencetak fondasi ekonomi daerah yang tangguh, mandiri, dan bermartabat.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=cJ8XI94AWHc









