Kunjungan Cisanti | Ini Langkah KDM Hadapi Krisis Hulu Citarum
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan kunjungan kerja dan ground talk di kawasan hulu Sungai Citarum, hulu Mata Air Cisanti, serta kawasan hulu Gunung Wayang. Dalam kunjungannya, Pemprov Jawa Barat menegaskan komitmen ekologis untuk menyelamatkan ekosistem hilir hingga Jakarta dengan mengubah pendekatan pemulihan hutan melalui pemenuhan kesejahteraan masyarakat lokal.
Filosofi Gunung dan Pelestarian Peradaban Tatar Sunda
Dalam pemaparannya di alam terbuka Cisanti, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya menjaga kelestarian hulu sungai sebagai benteng peradaban Tatar Sunda (Jawa Barat, Jakarta, dan Banten). KDM menjelaskan filosofi Gunung Parahiangan makin ke atas makin memuncak dan menjaga keseimbangan alam.
KDM menegaskan bahwa indikator utama ketaatan spiritual dan moral masyarakat Sunda te anyar tercermin dari kondisi gunungnya. Jika gunung merana dan hutan rusak, maka ketaatan terhadap Tuhan hanya sebatas ucapan, bukan tindakan nyata.
Beralih dari Usaha Komoditas ke Skema Pengalihan Hak Kelola
Melihat maraknya alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi lahan bisnis swasta yang merusak ekosistem hutan, Pemprov Jawa Barat mengambil langkah tegas. Lahan-lahan terbuka milik PTPN maupun Perhutani di kawasan kritis hulu akan diambil alih hak kelolanya oleh Pemprov Jawa Barat untuk ditanami kembali dengan tanaman konservasi dan pelindung.
Langkah ini diambil guna menghentikan eksploitasi hutan oleh pemodal besar yang memanfaatkan kemiskinan warga lokal untuk pembukaan kebun komoditas sayur.
Solusi Konkret Kemiskinan: Menggaji Petani Penanam Pohon Rp2,5 Juta per Bulan
Sebagai solusi holistik untuk menghentikan perambahan hutan sekaligus menuntaskan kemiskinan warga perkebunan, Pemprov Jabar meluncurkan program penanaman 1.000 hektar lahan di hulu Citarum yang dimulai pada Desember 2026.
Setiap petani akan ditugaskan mengelola dan merawat 2 hektar lahan dengan gaji rutin dari Pemprov Jabar sebesar Rp2,5 juta per bulan. Program ini menargetkan pengangkatan 500 hingga 4.000 petani lokal, sehingga mereka tidak lagi digaji rendah oleh pemodal sayur.
KDM menegaskan bahwa pengeluaran anggaran daerah untuk menggaji warga merawat hutan jauh lebih hemat dan berdampak ketimbang membuang anggaran pengerukan sedimentasi Citarum yang menelan biaya lebih dari Rp1 triliun setiap tahunnya.
Penataan Pemukiman Warga dan Pengembangan Homestay
Selain pengalihan skema kerja petani, Pemprov Jabar juga berencana merenovasi rumah-rumah bedeng buruh petik teh di kawasan Pangalengan, Malabar, dan Ciwidey menjadi hunian layak dan homestay pariwisata.
Langkah ini bertujuan agar warga lokal mendapatkan nilai tambah ekonomi secara langsung dari potensi pariwisata daerah, bukan sekadar menjadi penonton bagi pengusaha besar.
Penutupan Akses Gunung Wayang dan Pengetatan Aktivitas Wisata Hutan
Untuk memulihkan kembali keanekaragaman hayati dan habitat satwa liar di Gunung Wayang, Pemprov Jawa Barat berencana menutup total akses Gunung Wayang bagi aktivitas umum.
Selain itu, Pemprov Jabar bakal menerbitkan aturan ketat terkait wisata alam (tracking), membatasi sampah plastik, serta melarang keras aktivitas sepeda motor offroad/trail ke dalam hutan agar tidak merusak ekosistem dan mengganggu flora-fauna endemik.
Kolaborasi Lintassektoral dan Penegakan Hukum Limbah Industri
Program penyelamatan kawasan hulu ini dijalankan melalui kolaborasi lintas instansi antara Pemprov Jabar, Mabes TNI Angkatan Darat, Perhutani, PTPN, hingga pemerintah desa setempat. Terkait penanganan limbah industri di sepanjang aliran Citarum, Komandan Satgas Citarum Harum menyampaikan bahwa hingga tahun 2026 telah ditindak puluhan pelaku usaha yang kedapatan membuang limbah sembarangan untuk diproses hukum.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=i7XHpVXofJ0









