UBAH SAMPAH PLASTIK JADI BBM | PAK TARZAN CERITA PENGALAMAN HIDUP

Subang – Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), memperkenalkan sebuah inovasi revolusioner yang berpotensi menyelesaikan masalah sampah plastik sekaligus menghasilkan energi alternatif. Bertempat di Lembur Pakuan, KDM meninjau langsung alat yang dirancang untuk mengonversi sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dapat digunakan untuk mengoperasikan motor, mobil, hingga mesin alat berat seperti beko. Inisiatif ini berfokus pada pemanfaatan limbah yang selama ini mencemari lingkungan, mengubahnya dari ancaman menjadi sumber daya bernilai.

Alat konversi ini memiliki spesifikasi tertentu mengenai bahan baku yang efisien. Jenis plastik yang ideal diproses adalah yang elastis atau lentur, seperti kantong keresek dan bungkus minyak goreng kemasan, sementara plastik keras seperti botol kurang optimal karena hanya menghasilkan sedikit minyak. Namun, terlepas dari efisiensinya, tujuan utama proses ini adalah pemusnahan sampah yang menumpuk di sawah dan kebun. Untuk mendorong partisipasi, warga Lembur Pakuan didorong untuk mengumpulkan dan membawa sampah kresek, yang kemudian akan dibeli seharga Rp2.500 per kilogram.

Secara teknis, mesin reaktor ini menunjukkan efisiensi konversi yang mengesankan. Dengan kapasitas sekali isi mencapai 1 kuintal atau 100 kilogram plastik, mesin tersebut mampu menghasilkan hampir 80 liter BBM. Berdasarkan harga beli sampah dari warga (100 kg setara Rp250.000), rasio konversi ini menghasilkan potensi nilai ekonomi yang tinggi dari limbah yang semula dianggap tidak berguna.

Meskipun BBM hasil konversi ini dapat digunakan untuk motor, efisiensinya lebih maksimal untuk mesin diesel atau alat berat. Dari 80 liter hasil produksi, sebagian besar merupakan bahan bakar jenis solar/diesel, sementara hasilnya untuk bahan bakar motor (bensin) hanya menghasilkan sekitar 6 liter. Setelah diuji coba pada mesin beko dan truk diesel, BBM dari plastik ini terbukti tidak menimbulkan keluhan dari operator; sebaliknya, bahan bakar ini dinilai lebih bagus, lebih irit, dan membuat mesin menjadi lebih adem dibandingkan bahan bakar konvensional.

Inovasi ini dinilai sebagai solusi taktis dan permanen untuk menyelesaikan krisis sampah plastik di lingkungan. Dengan kemampuan mengubah plastik menjadi energi, masalah penumpukan sampah yang menyebabkan polusi dapat diatasi, bahkan mengubahnya menjadi berkah yang memiliki nilai jual dan manfaat praktis. KDM pun menekankan bahwa bahan bakar diesel hasil konversi ini sudah teruji dan layak untuk mendukung operasional alat berat yang sering digunakan dalam proyek pembangunan.

Poin-Poin Utama

  • Inovasi: Penemuan alat konversi yang mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis diesel.
  • Bahan Baku: Plastik yang diutamakan adalah yang lentur/elastis (kresek, bungkus minyak kemasan), karena menghasilkan minyak yang lebih baik dibandingkan plastik keras seperti botol.
  • Motivasi Lingkungan: Tujuan utama proses ini adalah memusnahkan sampah plastik yang menumpuk di kebun dan sawah.
  • Skema Pembelian: Sampah plastik dibeli dari warga dengan harga Rp2.500 per kilogram.
  • Rasio Konversi: 100 kg (1 kuintal) plastik dapat menghasilkan hampir 80 liter BBM.
  • Prioritas Penggunaan: BBM ini difokuskan untuk mesin diesel (alat berat seperti beko dan truk tronton) karena hasilnya yang lebih optimal, dengan produksi untuk motor yang relatif sedikit.
  • Keunggulan BBM Plastik: Setelah diuji pada alat berat, bahan bakar ini dilaporkan lebih irit, lebih bagus, dan membuat mesin lebih adem dibandingkan solar konvensional.