INI PESAN KDM SAAT MELANTIK DOKTER ASEP SURYA ATMAJA MENJADI BUPATI BEKASI
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), secara resmi melantik dr. Asep Surya Atmaja sebagai Bupati Bekasi untuk masa jabatan hingga 2030, pada Jumat (23/10/2026). Pelantikan ini tidak sekadar menjadi seremonial birokrasi, melainkan diwarnai dengan rentetan instruksi keras, lugas, dan menohok dari KDM yang menuntut perubahan revolusioner di Kabupaten Bekasi.
Dalam sambutannya usai pengambilan sumpah jabatan, KDM langsung membidik dua hal krusial yang selama ini menjadi kelemahan di Bekasi: ketimpangan ekonomi warga lokal dan tata kelola lingkungan yang buruk di tengah besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Selamatkan Warga Lokal Lewat Pendidikan dan Kesehatan
KDM menyoroti fenomena memprihatinkan di mana warga asli Bekasi kerap tersisih secara ekonomi karena gagal mengelola uang ganti rugi tanah, dan berujung pada kebangkrutan. Untuk memutus rantai kemiskinan tersebut, KDM memberikan ultimatum agar Pemkab Bekasi memfokuskan anggaran untuk pendidikan dan kesehatan.
“Bagaimana agar warga Bekasi yang asli lahir dan besar di situ berubah nasibnya? Tidak ada jalan lain kecuali pendidikannya harus mendapat perhatian. Mereka harus sekolah gratis sampai perguruan tinggi,” tegas KDM memberikan instruksi mutlak. Ia juga menargetkan agar pada 2027 tidak ada lagi sekolah jelek di Bekasi, dan semua anak Bekasi minimal tamat SMA/SMK agar bisa diserap oleh kawasan industri di tanah mereka sendiri.
Di sektor kesehatan, KDM menantang dr. Asep yang memiliki latar belakang sebagai dokter untuk merekrut dokter-dokter kontrak yang siap berkeliling masuk ke desa-desa setiap harinya, bukan hanya berjaga di puskesmas. “Orang miskin ada dokter datang ke rumah mengobati seperti orang kaya punya dokter pribadi, itu baru luar biasa!” tegas KDM.
Sentil SiLPA Rp1,8 Triliun dan Tata Estetika Kota
Di balik besarnya kas daerah Bekasi, KDM mengkritik keras budaya birokrasi yang gemar menumpuk Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA). KDM membandingkan kondisi Pemprov Jabar yang diproyeksikan defisit anggaran dengan Pemkab Bekasi yang selalu surplus triliunan rupiah tiap akhir tahun.
“Uang dari masyarakat ditagih, disimpan di BJB, habis itu tidak dibelanjakan. Ngapain dikumpulkan tidak dibelanjakan? Ini duit negara, harus cepat balik ke rakyat! Perbanyak belanja infrastrukturnya, jalannya harus mulus,” kritik KDM tajam.
KDM juga menyoroti mirisnya estetika Kabupaten Bekasi yang berjuluk “Kota Metro Dolar” namun dipenuhi sampah di sungai-sungai, baliho semrawut, hingga fasilitas umum yang dijarah oknum tak bertanggung jawab. KDM berjanji bahwa Pemprov Jabar akan membantu full penataan tata ruang Kabupaten Bekasi agar wajah perbatasan industri tersebut tertata rapi seperti Lembang dan Subang.
Tuntutan Nyali, Integritas, dan Gaya Kepemimpinan “Blusukan”
Menutup instruksinya, KDM mengingatkan bahwa memimpin masyarakat Bekasi yang sangat heterogen (Betawi, Sunda, Batak, Minang, Jawa hingga Palembang) membutuhkan ketegasan layaknya “buldoser” pantang mundur saat dihadapkan pada tekanan premanisme atau oknum pencari jatah tender.
KDM memerintahkan dr. Asep untuk mengubah gaya kepemimpinan elitis menjadi pemimpin yang turun langsung ke lapangan.
“Pak Bupati harus sudah ngeluyur pakai motor masuk ke gang-gang, periksa selokan. Jangan jadi bupati kantoran, harus jadi bupati selokan, bupati trotoar, bupati sawah, bupati pabrik!” seru KDM mengingatkan esensi pelayanan publik sejati.
Terakhir, KDM juga meminta agar Bupati Asep Atmaja tidak ikut campur dalam urusan bisnis atau limbah pabrik, mengingat latar belakang keluarga sang bupati yang sudah sangat mapan dengan ratusan hektare lahan warisan keluarga di Karawang dan Bekasi.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=RN8U-8PgfXY









