HADIRI WISUDA UNIBA | INI PESAN DAN HARAPAN KDM
BALIKPAPAN – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), hadir memberikan orasi ilmiah penuh makna dalam acara wisuda Universitas Balikpapan (Uniba). Dalam pidato akademiknya, KDM menyampaikan pandangan filosofis tentang hubungan manusia dengan alam, tantangan masa depan sarjana di era modern, serta pentingnya dunia pendidikan tinggi sebagai mercusuar pemikiran bagi keberlangsungan negara.

Filosofi Alam dan Nasionalisme
Mengawali orasinya, KDM mengapresiasi perjuangan para wisudawan beserta keluarga yang telah berkorban materi dan waktu demi meraih gelar akademik. Lebih jauh, KDM menyoroti pergeseran nilai dalam memandang alam. Menurutnya, setiap manusia hakikatnya terikat pada empat elemen dasar: tanah, air, udara, dan sinar matahari.
KDM mengkritisi terputusnya hubungan emosional antara generasi milenial dan gen Z dengan alam, berbeda dengan generasi terdahulu yang menjaga “resonansi” dengan leluhur dan lingkungannya. Ia menegaskan bahwa definisi nasionalisme sejati bukan sekadar urusan ketatanegaraan, melainkan perilaku mencintai lingkungan.
“Nasionalisme itu adalah ikatan moral. Manusia yang tidak berbuat kerusakan pada alam dan lingkungannya, itulah nasionalis. Menjaga pohon, menjaga kebeningan air, mencium tanah airnya, itulah nasionalisme sejati,” tegas KDM di hadapan ribuan audiens.
Ia mengingatkan bahwa dosa terbesar manusia di era modern sering kali dilupakan, yakni dosa merusak alam. “Tanah, air, udara, dan matahari adalah ibu asal muasal kita secara genetik. Durhaka terbesar adalah durhaka pada ‘ibu’ tersebut (alam semesta),” ujar KDM filosofis.
Kritik Eksploitasi Sumber Daya Alam
KDM juga menyinggung nasib daerah yang kaya akan sumber daya alam (SDA), termasuk Kalimantan Barat maupun daerah lain di Indonesia. Ia memberikan analogi menohok tentang mengelola alam ibarat merawat seorang istri yang cantik jelita.
“Istri yang cantik jelita, dia senyum saja bisa jadi bintang iklan pasta gigi, mengurai rambut jadi iklan sampo. Alam yang indah, jika dijual keindahannya (pariwisata/konservasi), bisa membuat kaya raya dan itu abadi,” paparnya.
Namun KDM memperingatkan dampak eksploitasi yang merusak. “Tapi kalau ‘si cantik’ itu menjual dirinya (dieksploitasi habis-habisan), maka hanya bertahan 15 tahun, setelah itu jatuh hina dan berpenyakit. Begitu juga alam, jika hanya dilihat kekayaannya saja, kelak akan ada residu dan kerusakan yang harus ditanggung anak cucu kita,” kritik KDM tajam.
Tantangan Pendidikan dan Beasiswa KDM
Menyikapi tantangan ke depan, KDM mengajak institusi pendidikan, termasuk Uniba, untuk menjadi laboratorium riset masa depan. Ia menyoroti lemahnya pemetaan kebijakan negara yang sering kali mengabaikan landasan akademis jangka panjang (seperti geologi, planologi, hingga antropologi) dan hanya terfokus pada kepentingan politik praktis jangka pendek.
Untuk membekali putra-putri daerah agar mampu menjadi negosiator, diplomat, dan ahli strategi yang hebat dalam mengelola kekayaan wilayahnya, KDM secara spontan memberikan bantuan beasiswa.
“Saya minta 10 anak mahasiswa untuk dikuliahkan di sini, dari berbagai daerah, terutama daerah pelosok. Dan untuk program S2, saya biayai lima orang sampai selesai,” janji KDM yang langsung disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Menutup orasinya, KDM berpesan agar kampus terus melahirkan ilmuwan, agamawan, dan negarawan yang independen serta berpihak pada kebenaran objektif, bukan sekadar algoritma politik jangka pendek.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=FMy_rSsxAjc









