SAPA TARUNA SMK | INI FAKTA YANG DITEMUKAN | KDM SEGERA PERCEPAT PERUBAHAN PENDIDIKAN
SUBANG – Dalam rangka meninjau langsung realitas pendidikan di tingkat menengah kejuruan (SMK), Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), kembali melakukan kunjungan ke sebuah SMK dengan sistem pendidikan Taruna di Subang. Kunjungan yang tadinya direncanakan sebagai ajang sapa siswa tersebut justru membuka fakta memprihatinkan tentang rendahnya kedisiplinan dan lemahnya kemampuan dasar matematika siswa yang harus segera dibenahi.

KDM sapa taruna SMK
Siswa Tidak Terawat dan Uang Jajan yang Tidak Tepat Sasaran
Momen teguran pertama terjadi ketika KDM menemukan seorang siswa kelas 3 Taruna bernama Akhtar yang datang dengan kondisi seragam kotor dan sepatu yang sobek parah. Akhtar mengaku sepatu tersebut tidak pernah digantinya sejak kelas 1 SMK, meskipun biaya pendidikannya sudah digratiskan oleh pemerintah.
Teguran semakin tajam saat KDM menelusuri alokasi pengeluaran harian siswa tersebut. Akhtar ternyata menghabiskan Rp13.000 untuk transportasi ojek online (Grab) dan uang jajan sebesar Rp15.000 per harinya total pengeluaran Rp28.000 sehari, yang merupakan angka cukup besar bagi ukuran pelajar di daerah tersebut.
KDM memberikan nasihat menohok agar siswa tersebut bisa mengatur prioritas, dengan menyarankan untuk menggunakan sepeda ke sekolah agar uang transportasinya bisa ditabung untuk membeli sepatu yang layak seharga Rp200.000. KDM bahkan menantang siswa tersebut untuk bersepeda selama sebulan penuh, dengan janji akan membelikan sarana transportasi yang baik jika ia berhasil. KDM juga menemukan siswa Taruna lain yang memiliki kebiasaan merokok secara ketengan hingga menghabiskan jatah jajannya.
Soroti Peran Pihak Sekolah dan Orang Tua
Gubernur Jabar tidak hanya menegur siswa, tetapi juga memberikan peringatan keras kepada pihak sekolah dan guru. Mengingat SMK tersebut menerapkan sistem pendidikan semi-militer (Taruna), KDM menilai seharusnya sekolah lebih ketat dalam mengawasi kerapian seragam, kebersihan, dan kedisiplinan.
“Ajarin hal yang mendasar di sekolah: cara pakai kaos kaki, cara ngelipat sepatu, cara nyemir sepatu. Taruna itu harus rapi dan bersih,” tegas KDM meminta seluruh siswa membetulkan pakaian dan menyemir sepatu mereka.
Lebih lanjut, KDM meminta sekolah untuk secara aktif memanggil para orang tua murid agar lebih memperhatikan pendidikan dan kelayakan sandang anak-anaknya. “Sekolah tidak mungut apa-apa, gratis. Tapi orang tuanya harus punya perhatian. Jangan uang jajan lebih gede daripada seragam,” imbau KDM.
Fakta Lemahnya Matematika Dasar Siswa SMK
Di luar urusan kedisiplinan, KDM dibuat tercengang saat mengetes kemampuan matematika dasar para siswa SMK tersebut. Pertanyaan perkalian dan pembagian sederhana seperti “4 x 8”, “8 x 3”, “24 : 2”, hingga “36 : 3” tak mampu dijawab secara cepat dan tepat oleh mayoritas siswa, baik yang berasal dari daerah lokal maupun dari luar daerah (program Afirmasi Pendidikan Menengah/ADEM dari Palembang hingga Papua).
Menyadari hal ini merupakan masalah serius bagi calon tenaga kerja industri, KDM langsung menginstruksikan para pakar dan jajarannya untuk segera merubah metodologi pengajaran.
“Mau masuk industri nanti tesnya matematika dasar. Jangan ngomong pendidikan jika matematikanya rendah banget,” sentil KDM seraya memberikan mandat perbaikan sistem edukasi matematika kepada tim profesor yang mendampinginya.
Komitmen Perbaikan Infrastruktur Sekolah
Kendati kecewa dengan kondisi kedisiplinan dan akademik siswa, KDM tetap berkomitmen memenuhi hak warga sekolah. Sebelum mengakhiri kunjungannya, KDM memastikan akses jalan berlubang sepanjang 1 kilometer dari gerbang depan hingga area sekolah akan segera diperbaiki dengan aspal hotmix pada pekan depan. Langkah ini menjadi bukti bahwa perbaikan pendidikan akan berjalan beriringan dengan pemenuhan infrastruktur yang memadai.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=PM_GLGfs1Qg









