GEMURUH TEPUK TANGAN SAAT KDM SEBUT PERSIS DAN PERSIB KEBANGGAN ORANG SUNDA
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pidato inspiratif sekaligus tajam saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI Persis) Bandung. Dalam balutan suasana akademik, KDM menyoroti berbagai persoalan mendasar di Jawa Barat, mulai dari krisis ekologi, ketidaksesuaian lulusan perguruan tinggi dengan pasar kerja, hingga perubahan perilaku masyarakat dalam beragama dan berekonomi.

Gelar Sarjana, Pengangguran, dan Transformasi Pendidikan
Mengawali sambutannya, KDM memberikan penghormatan khusus kepada para orang tua wisudawan yang telah rela berkorban, dari menahan lapar hingga menggadaikan aset, demi pendidikan anak-anaknya. Namun, ia mengingatkan sebuah realita pahit pascawisuda: “Di balik kebahagiaan, besok ada kesedihan. Kesedihannya adalah geus kuliah, engke gawe naon (habis kuliah, nanti kerja apa?)”.
KDM menyoroti problem utama sistem pendidikan di Indonesia, di mana jumlah sarjana yang dilahirkan tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja. Hal ini menyebabkan penumpukan pengangguran intelektual yang berujung pada tingginya kekecewaan sosial yang kerap ditumpahkan di media sosial, menjadikan ruang publik penuh pertengkaran.
Untuk itu, KDM mendesak agar sistem pendidikan bertransformasi dengan memproyeksikan kebutuhan publik untuk 10 hingga 50 tahun ke depan, serta menggeser orientasi akademik yang sekadar “hafalan” menjadi pendidikan yang berorientasi pada nilai produksi produktif.
Pergeseran Moral Berutang: Dari Kesadaran (Ihsan) Menjadi Keterpaksaan (Abid)
Mengenang sejarah panjang Persis, KDM memuji kultur kemandirian ekonomi warganya, terutama para pedagang dari Tasikmalaya dan Garut yang gigih merintis usaha dari nol mulai dari memikul dagangan hingga memiliki toko.
KDM membandingkan moralitas berutang (ngeredit) di masa lalu yang didasari rasa malu dan tanggung jawab yang tinggi, dengan kondisi saat ini. “Zaman dulu, punya utang malunya tinggi. Saking malunya ditagih, nyumput. Tapi rasa malu itu adalah nilai agama. Hari ini, kenapa banyak yang bangkrut? Karena yang ditagih lebih galak dari yang menagih!” singgung KDM.
Ia menyayangkan bergesernya nilai beragama masyarakat dari Ihsan (melakukan kebaikan atas dasar kesadaran dan ketakwaan batin) menjadi Abid (ketaatan yang lahir karena keterpaksaan atau ketakutan). “Hari ini syiar agama berkembang di mana-mana, tapi perilaku umatnya bergeser. Kalau tidak diintimidasi (dep collector), tidak mau bayar. Kita berubah menjadi bangsa yang melakukan sesuatu hanya karena hadiah atau hukuman,” paparnya.
Seruan Taubat Ekologi dan Penyelamatan Citarum
Sebagai pemimpin yang konsen pada lingkungan, KDM mengajak seluruh hadirin, termasuk para pemuka agama, untuk mulai serius membahas teologi lingkungan. Ia mengkritik keras alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai, seperti Gunung Tilu, Gunung Wayang, dan Cikuray, yang dieksploitasi atas nama ekonomi namun hanya menguntungkan segelintir pemodal dan terus memiskinkan warga sekitar.
“Yang dibutuhkan oleh publik hari ini adalah mendorong kesadaran untuk segera melakukan Taubat Ekologi. Bahwa kita sebagai khalifah di bumi telah berbuat kerusakan,” tegas KDM.
Sebagai langkah nyata (legacy), KDM menargetkan penghijauan kembali 2.000 hingga 4.000 hektare lahan di hulu Sungai Citarum pada bulan November dan Desember mendatang. Ia berjanji akan menggaji warga yang mau merawat pohon sebesar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan agar mereka tidak kehilangan pendapatan ekonomi.
KDM juga menyinggung pentingnya ketaatan pada Amdal dalam proyek-proyek besar, serta fatwa tegas terkait lingkungan. “Nanti harus ada ulama yang tegas menyatakan bahwa jika kapasitas keramba (di waduk) harusnya 4.000 tapi diisi 40.000, maka itu hukumnya haram. Babi haram, iya. Tapi merusak lingkungan dan menghirup udara dengan timbal tinggi, itu ancaman yang nyata,” urainya.
Menutup pidatonya, KDM mengapresiasi kebersamaan keluarga besar Persis yang selalu mengutamakan kerukunan, pendidikan anak, serta argumentasi yang sistematis dan rasional.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=VnHEz-CgEzE









