KESERUAN SAAT KDM JADI PEMBACA PRAKIRAAN CUACA DADAKAN
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), melakukan kunjungan ke kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau kesiapan mitigasi cuaca di Jawa Barat. Dalam kunjungannya tersebut, KDM mendapatkan penjelasan komprehensif mengenai kondisi iklim, sekaligus mencoba pengalaman baru menjadi pembawa acara ( presenter ) prakiraan cuaca dadakan.

Gubernur Jawa Barat menjadi pembawa acara ( presenter ) prakiraan cuaca dadakan.
Pantau Potensi Hujan dan Puncak Musim Basah di Jabar
Kedatangan KDM disambut langsung oleh jajaran pimpinan BMKG yang menjelaskan sistem radar cuaca yang memantau 24 jam penuh kondisi awan dan intensitas hujan secara langsung (real-time).
Dari layar pantauan citra radar, KDM mendapati bahwa hujan alami (tanpa modifikasi cuaca) sudah mulai turun dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah titik seperti kawasan Banjar, Ciamis, Sumedang, hingga jalur Subang (Jalancagak-Ciater).
Namun, pihak BMKG mengonfirmasi bahwa musim hujan tahun ini mengalami kemunduran sekitar 10 hingga 30 hari (satu bulan) dari kondisi normal akibat masa transisi.
Terkait prediksi awal musim hujan, BMKG memetakan kedatangan curah hujan di Jawa Barat secara bertahap berdasarkan ketinggian wilayah:
1. Akhir Oktober: Hujan mulai turun mendahului di kawasan dataran tinggi, utamanya wilayah Bogor, Cianjur, dan sebagian Bandung Barat.
2. Awal November: Hujan akan meluas ke wilayah tengah hingga selatan Jawa Barat, meliputi Garut, Bandung, Sumedang, Purwakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, dan Kuningan.
3. Akhir November hingga Desember: Wilayah Pantura atau utara Jawa Barat (Subang Utara, Indramayu, Majalengka, Cirebon, Karawang, dan Bekasi) akan menjadi daerah terakhir yang diguyur hujan.
Sementara itu, puncak curah hujan di seluruh Jawa Barat diprediksi baru akan terjadi pada bulan Januari, Februari, dan Maret.
Pesan KDM untuk Nelayan dan Kesiapan Infrastruktur Drainase
Selain cuaca darat, BMKG juga memaparkan inovasi aplikasi INAWIS ( maritim.bmkg.go.id/inawis ) yang dapat mendeteksi titik kumpul (fishing ground) ikan di lautan.
KDM mengapresiasi teknologi ini dan meminta agar informasi tersebut disosialisasikan lebih masif kepada para nelayan, khususnya melalui aplikasi Sapa Warga milik Pemprov Jabar. “Jadi target nelayan kita bukan lagi mencari ikan, tapi langsung menangkap ikan,” pesan KDM agar nelayan dapat bekerja lebih efisien di laut.
Lebih lanjut, melihat potensi hujan ekstrem di masa mendatang, KDM menyerukan kewaspadaan kepada seluruh Bupati dan Wali Kota di Jawa Barat. Ia meminta seluruh drainase, irigasi, dan pengerukan sungai yang mengalami sedimentasi di kawasan rawan genangan (seperti Bandung, Karawang, dan Bekasi) diselesaikan sebelum puncak musim hujan tiba.
Gaya Kocak KDM Jadi Pembaca Cuaca Dadakan
Kunjungan yang biasanya berlangsung serius dan kaku khas instansi ilmiah itu berhasil dicairkan oleh KDM. Ia berkelakar bahwa pejabat di BMKG terlalu serius, sehingga ia harus melempar banyak guyonan. “Biar ketawa Bu. Soalnya saya kalau ke BMKG harus banyak guyon, orang di sini serius semua. Biasanya orang nakal itu (bisa) menguasai orang pintar,” canda KDM yang disambut tawa lepas jajaran BMKG.
Di akhir kunjungannya, KDM ditantang untuk tampil di depan green screen layaknya seorang pembaca berita prakiraan cuaca ( weather forecaster ). Dengan gayanya yang lugas, komunikatif, dan diselingi banyolan, KDM sukses memandu acara bertajuk “Perkiraan Cuaca Kerja Sama Haji Udin Official dan BMKG”.
“Bagi warga Jabar yang mau malam mingguan (10 Oktober 2026), harap waspada, atau lebih tepatnya harap bahagia! Hujan mulai datang. Hati-hati yang naik mobil bak terbuka ( kolbuntung ), siapin jaket. Jemput hujan dengan penuh kebahagiaan, tanam air di balik akar, rawat air di tengah sawah,” tutup KDM dalam siaran dadakannya yang menghibur.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=IRRJICZROCQ









