SAMBUT INVESTOR JEPANG SEPERTI TEMAN | KDM SAJIKAN SATE DAN BAKAKAK AYAM JAMUAN MAKAN
SUBANG – Diplomasi tidak selalu harus dilakukan di atas meja perundingan yang kaku dan formal. Hal ini dibuktikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), saat menjamu para delegasi investor dari Sumitomo Corporation, Jepang. Kunjungan penting terkait proyek besar ini justru dibalut dengan suasana hangat, penuh canda tawa, dan tentu saja sajian kuliner khas Sunda.
Dalam pertemuan tersebut, KDM menyambut para eksekutif Jepang layaknya sahabat karib. Alih-alih menyajikan hidangan restoran mewah ala fine dining, KDM justru menghidangkan makanan tradisional seperti sate dan ayam bakakak (ayam bakar utuh khas Sunda) di atas daun pisang.

Gubernur Jawa Barat menerima investor asal Jepang
Cairkan Suasana dengan “Culture Shock” Kuliner Sunda
Delegasi Jepang yang hadir tampak menikmati hidangan tersebut. Saat KDM menanyakan apakah mereka terbiasa makan ayam bakar, tamu dari Jepang itu merespons dengan menyebut masakan yang familiar di negaranya seperti sabu-sabu atau ikan salmon mentah (sashimi). “Kalau dikasih salmon sashimi kan sudah tidak aneh. Dikasih ayam bakar namanya bakakak,” canda KDM sambil menjelaskan cara membakar ayam telentang ala Sunda.
Kehangatan semakin terasa saat KDM membandingkan filosofi kebahagiaan dan ritme kerja dua negara. Ia berseloroh bahwa orang Jepang terkenal serius dengan etos kerja 10 jam sehari namun hanya tertawa 5 menit, sementara orang Sunda dikenal santai, murah senyum, dan alamnya sudah menyediakan segalanya. “Orang Jepang harus banyak ketawa kayak orang Sunda. Standar hidup orang Sunda itu makan sama tidur, alamnya kan serba ada, tidak usah kerja capek-capek,” kelakar KDM yang disambut tawa delegasi Sumitomo.
KDM juga membahas betapa mahalnya harga beras dan biaya pernikahan di Jepang jika dibandingkan dengan di Indonesia. Perbedaan musim yang membuat Jepang hanya bisa panen padi setahun sekali menjadi topik bahasan yang mengalir akrab bersama rombongan [07:43], [15:10]. Tak hanya itu, KDM menyinggung ketergantungan masyarakat Indonesia sehari-hari terhadap produk-produk asal negeri Sakura, mulai dari bumbu masak (Ajinomoto/Miwon), AC (Panasonic), Kamera (Canon), hingga kredit mobil (Oto Finance yang ternyata juga di bawah naungan grup Sumitomo).
Tuntaskan Proyek PLTSa Legok Nangka
Di balik jamuan makan siang yang santai dan penuh humor tersebut, pertemuan ini membawa angin segar bagi penanganan masalah lingkungan di Jawa Barat. Sumitomo Corporation merupakan pihak investor utama yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.
Di penghujung pertemuannya, KDM memberikan penegasan terkait komitmen strategis tersebut.
“Kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka, dan kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan sudah siap. Nanti masyarakat Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Garut, dan Sumedang sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka,” tegas KDM seraya merangkul eksekutif Sumitomo yang ia sebut sebagai “sohib” atau temannya dari Jepang.
Melalui diplomasi bakakak ini, KDM tidak hanya mempererat hubungan bilateral secara personal, tetapi juga berhasil mengawal realisasi proyek krusial bernilai triliunan rupiah yang akan mengubah timbunan masalah sampah di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya menjadi sumber energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.BANDUNG – Diplomasi tidak selalu harus dilakukan di atas meja perundingan yang kaku dan formal. Hal ini dibuktikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), saat menjamu para delegasi investor dari Sumitomo Corporation, Jepang. Kunjungan penting terkait proyek besar ini justru dibalut dengan suasana hangat, penuh canda tawa, dan tentu saja sajian kuliner khas Sunda.
Dalam pertemuan tersebut, KDM menyambut para eksekutif Jepang layaknya sahabat karib. Alih-alih menyajikan hidangan restoran mewah ala fine dining, KDM justru menghidangkan makanan tradisional seperti sate dan ayam bakakak (ayam bakar utuh khas Sunda) di atas daun pisang.
Cairkan Suasana dengan “Culture Shock” Kuliner Sunda
Delegasi Jepang yang hadir tampak menikmati hidangan tersebut. Saat KDM menanyakan apakah mereka terbiasa makan ayam bakar, tamu dari Jepang itu merespons dengan menyebut masakan yang familiar di negaranya seperti sabu-sabu atau ikan salmon mentah (sashimi). “Kalau dikasih salmon sashimi kan sudah tidak aneh. Dikasih ayam bakar namanya bakakak,” canda KDM sambil menjelaskan cara membakar ayam telentang ala Sunda.
Kehangatan semakin terasa saat KDM membandingkan filosofi kebahagiaan dan ritme kerja dua negara. Ia berseloroh bahwa orang Jepang terkenal serius dengan etos kerja 10 jam sehari namun hanya tertawa 5 menit, sementara orang Sunda dikenal santai, murah senyum, dan alamnya sudah menyediakan segalanya. “Orang Jepang harus banyak ketawa kayak orang Sunda. Standar hidup orang Sunda itu makan sama tidur, alamnya kan serba ada, tidak usah kerja capek-capek,” kelakar KDM yang disambut tawa delegasi Sumitomo.
KDM juga membahas betapa mahalnya harga beras dan biaya pernikahan di Jepang jika dibandingkan dengan di Indonesia. Perbedaan musim yang membuat Jepang hanya bisa panen padi setahun sekali menjadi topik bahasan yang mengalir akrab bersama rombongan [07:43], [15:10]. Tak hanya itu, KDM menyinggung ketergantungan masyarakat Indonesia sehari-hari terhadap produk-produk asal negeri Sakura, mulai dari bumbu masak (Ajinomoto/Miwon), AC (Panasonic), Kamera (Canon), hingga kredit mobil (Oto Finance yang ternyata juga di bawah naungan grup Sumitomo).
Tuntaskan Proyek PLTSa Legok Nangka
Di balik jamuan makan siang yang santai dan penuh humor tersebut, pertemuan ini membawa angin segar bagi penanganan masalah lingkungan di Jawa Barat. Sumitomo Corporation merupakan pihak investor utama yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.
Di penghujung pertemuannya, KDM memberikan penegasan terkait komitmen strategis tersebut.
“Kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka, dan kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan sudah siap. Nanti masyarakat Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Garut, dan Sumedang sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka,” tegas KDM seraya merangkul eksekutif Sumitomo yang ia sebut sebagai “sohib” atau temannya dari Jepang.
Melalui diplomasi bakakak ini, KDM tidak hanya mempererat hubungan bilateral secara personal, tetapi juga berhasil mengawal realisasi proyek krusial bernilai triliunan rupiah yang akan mengubah timbunan masalah sampah di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya menjadi sumber energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DCAM-fkZWik









