GAGASANNYA TERUS DIBEDAH | KDM JAWAB SELURUH PANDANGAN DENGAN SENYUMAN
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), kembali menuangkan pemikiran-pemikiran kritisnya tentang kebudayaan dan ketatanegaraan. Hal tersebut mengemuka saat KDM merespons pandangan serta kritik dari tim penguji dalam sidang usulan riset doktoralnya yang membahas transformasi kepemimpinan dan ideologi Sunda. Sidang yang dihadiri sejumlah akademisi tersebut berlangsung dinamis namun penuh kehangatan.
Dalam kesempatan tersebut, KDM menjawab secara runut dan filosofis sejumlah pertanyaan kritis dari para promotor dan penguji, termasuk mengenai relevansi nilai-nilai tradisional dalam sistem demokrasi saat ini, hingga diskursus seputar kesetaraan gender (feminisme) dalam perspektif kearifan lokal Sunda.

Feminisme Sunda: Penyatuan Rasa, Bukan Sekadar Anatomi Tubuh
Menjawab kritik terkait minimnya tokoh perempuan (feminisme) dalam gagasan “Kabayan” dan “Bujangga Manik”, KDM memberikan perspektif yang berbeda pada para penguji. Menurut KDM, budaya Sunda tidak meletakkan feminisme pada perbedaan anatomi biologis atau jenis kelamin semata, melainkan pada keutuhan spiritual dan “rasa”.
“Sunda itu tidak mengenal pemisahan, dia adalah penyatuan. Budaya Sunda meletakkan sendi ketuhanan dengan simbol Sunan Ambu, itu kan manifestasi tertinggi feminisme. Orang yang berpikir (maskulin) itu harus diimbangi dengan orang yang memiliki rasa (feminin),” papar KDM.
KDM mengkritisi diskursus feminisme modern yang kerap terjebak hanya pada urusan biologis atau sekadar perlawanan hegemoni materialistis. Baginya, tanpa rasa, sebuah peradaban hanya akan melahirkan penjajahan dan eksploitasi, seperti era imperialisme masa lalu di mana produsen bahan mentah selalu dikerdilkan menjadi kasta terendah.
Kritik Terhadap Demokrasi Pragmatis: Bahaya Kepemimpinan “Kaum Sudra”
KDM juga menyinggung problematika dalam sistem demokrasi populis (demokrasi formalisme) yang hanya mengandalkan administrasi ijazah tanpa menilai karakter dan kualifikasi spiritual kepemimpinan seseorang.
Dengan menggunakan analogi kasta (kualifikasi manusia), KDM menjelaskan bahwa kelompok “Sudra” bukanlah kelompok yang didasarkan pada keturunan, melainkan manusia yang orientasi hidupnya hanya berfokus pada pemenuhan nafsu material (perut dan bawah perut).
“Dalam demokrasi yang manipulatif, di mana publik tidak memiliki kecerdasan dalam memilih, bisa terjadi yang terpilih justru dari kaum Sudra. Bayangkan, orang yang hanya mengandalkan mulut dan pemenuhan kebutuhan primernya, disuruh mengambil keputusan dan menyusun undang-undang. Inilah yang akan melahirkan kekacauan peradaban,” ujar KDM membedah ironi politik saat ini.
Oleh karena itu, KDM menekankan pentingnya melahirkan para kesatria dan resi (Brahma) di kursi kepemimpinan yang berani mengambil keputusan objektif karena bersandar pada nalar akademis sekaligus keluhuran hati nurani.
Tantangan untuk Dunia Akademik: Jangan Hanya Membaca, tapi “Merasa”
Di akhir paparannya, KDM memberikan tawaran gagasan mendasar kepada dunia pendidikan tinggi. Ia mengkritik metode perkuliahan yang selama ini terfokus hanya pada “tradisi membaca” dari buku-buku literatur asing semata, tanpa membekali mahasiswanya dengan “tradisi merasa” atau kepekaan dalam membaca fenomena alam dan masyarakat lokal.
“Apakah semua perguruan tinggi harus mengajarkan pada siswanya hanya metodologi membaca? Padahal dalam tradisi padepokan atau pesantren lama, kualifikasi seseorang didasarkan pada kemampuan menulis/membaca sekaligus kemampuan merasa. Orang yang akan menang dalam kehidupan adalah mereka yang memadukan pengalaman material dan pengalaman spiritual,” tegas KDM memberikan tawaran pemikiran di hadapan tim penguji.
KDM mencontohkan tokoh historis Bujangga Manik yang mendapat kedalaman pengetahuan lewat pengembaraan, melepaskan ego duniawi, hingga batinnya mampu menangkap fenomena alam (agroforestry) secara utuh. Sidang bedah riset tersebut ditutup dengan apresiasi, menandakan bahwa gagasan ideologi kultural dari KDM ini berpotensi memberikan sumbangsih unik dalam literatur ilmu politik Nusantara.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=c8EKq6Mui3c









