PIDATO KDM DI KAHMI | LIONEL MESSI | TEOLOGI | FILOSOFI | TEKNOKRASI | SENI & SPIRITUALITAS SEMESTA
Kang Dedi Mulyadi menghadiri dan memberikan pidato utama dalam forum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Wilayah Sumatera Barat. Pidato tersebut menekankan pentingnya pembangunan daerah yang berakar pada jati diri kebudayaan, rasionalitas politik, keterbukaan, serta pengelolaan sumber daya alam yang transparan dan berkeadilan.
Dalam pemaparannya, Kang Dedi Mulyadi menggarisbawahi bahwa kekuatan substansial bangsa Indonesia sejatinya terletak pada local wisdom atau kearifan lokal yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan teknokrasi. Ia mencontohkan Sumatera Barat yang memiliki identitas kebudayaan kuat melalui arsitektur Rumah Gadang. Menurutnya, identitas arsitektur khas daerah harus dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah.
Dalam pidatonya, Kang Dedi mendorong pemerintah daerah untuk mengeluarkan regulasi khusus agar setiap bangunan di daerah memiliki sentuhan identitas budaya lokal, seperti Rumah Gadang di Sumatera Barat, guna memperkuat branding pariwisata dan pelestarian sejarah.
Selain isu kebudayaan, KDM mengulas problematika desentralisasi dan sentralisasi keuangan daerah .Menurutnya, pemerintah harus hadir secara utuh dalam menjamin pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan 12 tahun bagi seluruh lapisan masyarakat.
Terkait sektor pengelolaan sumber daya alam dan pertambangan, KDM menawarkan gagasan pembaruan dalam tata kelola perizinan . Ia mengusulkan skema kepemilikan saham bagi pihak desa, kabupaten, hingga provinsi pada industri pertambangan. Langkah ini dinilai penting agar pendapatan dari izin pertambangan dapat mengalir langsung ke kas negara dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar.
Merujuk pada gagasan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan, Dedi mengimbau agar masyarakat membiasakan pola pikir rasional dan inklusif serta menghentikan narasi perselisihan yang berpotensi memecah belah. Ia berpandangan bahwa rasionalitas merupakan syarat mutlak bagi kemajuan sistem politik dan pemerintahan.
Di bagian akhir pidatonya, Kang Dedi menggunakan analogi filosofis dan spiritualitas dalam cabang olahraga sepak bola. Ia memaparkan bagaimana nilai-nilai kesetiaan, kerendahan hati, kepasrahan, dan kebersamaan menjadi landasan penting dalam membentuk jiwa kepemimpinan yang berintegritas.
Pidato tersebut ditutup dengan pesan agar seluruh elemen masyarakat kembali pada jati diri bangsa yang menyatu dengan alam, menjaga keragaman, dan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan politik praktis.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=F-WImj56S_s



