TANAH DIBAYAR SEBAGIAN | KUWU WANASIGRA TUTUP JEMBATAN DENGAN BAMBU | INI SOLUSI KDM
Polemik penutupan jembatan penghubung antara Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya yang sempat dinonaktifkan oleh Kuwu Wanasigra akhirnya menemukan titik terang. Kang Dedi Mulyadi (KDM) meninjau langsung lokasi jembatan di Desa Wanasigra, Ciamis, untuk mendengarkan aspirasi warga dan memberikan solusi nyata demi pemanfaatan fasilitas publik bernilai miliaran rupiah tersebut.
Penonaktifan jembatan dengan menggunakan pagar bambu dipicu oleh adanya rasa ketidakadilan terkait status lahan. Warga di sisi Ciamis, termasuk seorang sesepuh desa bernama Abah Maman Suherman, secara ikhlas menghibahkan tanah milik mereka untuk pembangunan infrastruktur jembatan tersebut demi kepentingan umum. Namun, pihak warga merasa kecewa setelah mengetahui bahwa pembebasan lahan untuk jalur terusan di sisi Kota Tasikmalaya, tepatnya di Desa Sukamenak, dilakukan melalui mekanisme ganti rugi berbayar oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya. Kondisi ini diperparah dengan belum tersedianya akses jalan yang memadai di seberang jembatan, sehingga fungsi jembatan menjadi tidak optimal.
Merespons persoalan tersebut, Kang Dedi Mulyadi menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukanlah memperdebatkan perbedaan mekanisme pembebasan lahan, melainkan memastikan infrastruktur yang sudah dibangun menggunakan uang negara dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Sebagai langkah konkret, Kang Dedi Mulyadi berkomitmen untuk segera mengundang pihak Pemerintah Kota Tasikmalaya, Kepala Desa Sukamenak, serta Kuwu Wanasigra guna duduk bersama dan menyamakan persepsi. KDM juga mengumumkan rencana pembangunan jalur terusan sepanjang kurang lebih 400 meter menuju Sukamenak dengan estimasi anggaran sekitar Rp1,5 miliar. Lahan tersebut nantinya akan dilakukan pengecoran beton agar dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Selain penyelesaian infrastruktur jalan, kunjungan ini juga diwarnai aksi kemanusiaan. KDM memberikan bantuan modal kepada Abah Maman Suherman yang sebelumnya harus kehilangan mata pencaharian sebagai petani sawah akibat terdampak proyek urugan jembatan. Bantuan tersebut ditujukan agar Abah Maman dapat membangun kandang, membeli beberapa ekor domba untuk diternakkan, serta mendirikan warung kopi di sekitar area jembatan yang diproyeksikan akan ramai setelah akses jalan resmi dibuka.
Melalui musyawarah dan pembangunan jalan terusan ini, diharapkan hubungan bertetangga antara dua wilayah kabupaten/kota dapat berjalan harmonis, serta jembatan penghubung di atas Sungai Citanduy ini bisa berfungsi penuh sebagai urat nadi perekonomian dan mobilitas warga.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ObG7khG0-EA



