Dedi Mulyadi Minta Pengelolaan Kawasan Eks Hibisc Ditata Ulang: Fokus Penghijauan, Bukan Pembibitan Kopi

CIANJUR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan inspeksi mendadak ke kawasan eks lahan Hibisc di Puncak, Cianjur. Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti pengelolaan lahan seluas 14 hektar yang dinilai tidak optimal akibat pembagian tugas pekerja yang tumpang tindih.

Dedi Mulyadi menekankan bahwa prioritas utama kawasan tersebut adalah pemulihan ekosistem melalui penghijauan kembali guna mencegah banjir, bukan fokus pada proyek pembibitan lain yang mengabaikan tanaman yang sudah ada.

Keluhan Warga Terkait Polusi Asap Arang Batok

Kunjungan diawali dengan laporan langsung dari warga Kampung Pasir, RT 03, yang mengeluhkan polusi asap dari pembuatan arang batok kelapa. Warga menyatakan masalah ini sudah berlangsung selama 15 tahun tanpa solusi permanen. “Asapnya masuk ke rumah-rumah, Pak. Ini sudah 15 tahun kami alami,” ujar seorang warga kepada Dedi. Dedi pun berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut kepada pihak berwenang di tingkat kabupaten.

Kritik Terhadap Manajemen Pekerja dan Kadis Kehutanan

Saat meninjau lahan eks Hibisc, Dedi menemukan ketidakefisienan dalam pembagian tenaga kerja. Dari 14 hektar lahan yang harus diurus, hanya ada 9 orang pekerja dan 3 orang yang aktif di lapangan ketika inspeksi dilakukan. Hal ini dikarenakan 6 pekerja lainnya ditarik oleh Kepala Dinas Kehutanan untuk mengurus proyek pembibitan kopi.

Kondisi ini membuat rumput liar (gulma) tumbuh subur dan menutupi pohon-pohon yang sedang dalam masa pertumbuhan. Dedi pun langsung memerintahkan agar seluruh 9 pekerja dikembalikan ke fungsi awal untuk merawat pohon di lahan 14 hektar tersebut. Ia bahkan berencana menambah 4 hingga 5 orang pekerja lagi agar setiap orang bertanggung jawab atas 1 hektar lahan.

Langkah Reboisasi: Penanaman Pohon Lame dan Samida

Untuk mempercepat penghijauan di area yang masih gersang atau “keri”, Dedi menginstruksikan penanaman 200 pohon Lame yang sudah berukuran besar agar lebih cepat tumbuh. Selain itu, ia secara spesifik mencari bibit pohon Samida pohon yang memiliki nilai historis erat dengan Prabu Siliwangi untuk ditanam di kawasan tersebut.

“Saya minta tanam pohon Lame yang tingginya sudah cukup, sekitar 200 pohon. Dan cari informasi tentang pohon Samida, kita akan tanam 100 pohon di sini,” tegas Dedi kepada pekerja.

Instruksi Kebersihan Jalur Puncak

Tidak hanya soal penghijauan, Dedi juga menyoroti kebersihan di sepanjang jalur Puncak yang dipenuhi sampah plastik. Ia menugaskan Bupati Cianjur dan Kepala Dinas PU Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pembersihan massal.

“Orang-orang cari uang setiap hari dari Puncak melalui hotel, vila, dan restoran, tapi jalannya kotor. Saya tugaskan PU untuk bersihkan sampah dan mengangkat batu-batu bekas coran di pinggir jalan ini,” ucapnya.

Dampak Positif Bagi Warga: Pengurangan Banjir

Upaya penghijauan di lahan eks Hibisc ini diakui warga mulai membawa dampak positif. Aliran air yang biasanya meluap ke pemukiman saat hujan deras kini mulai berkurang seiring dengan tumbuhnya pohon-pohon di area tersebut. Dedi mengingatkan para pekerja bahwa apa yang mereka lakukan bukan sekadar menanam, melainkan ibadah untuk menyelamatkan lingkungan dari bencana banjir.

Kunjungan ini diakhiri dengan instruksi agar mulai besok para pekerja fokus pada pembabatan rumput, pemupukan menggunakan pupuk mutiara dan pupuk organik, serta pembersihan sampah plastik di seluruh area.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=sqkUjlbmRhs