Dedi Mulyadi Tinjau Hutan Lindung Istana Cipanas: Soroti Masalah Sampah hingga Potensi Wisata Edukasi
CIANJUR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan mendalam ke kawasan Hutan Lindung Istana Kepresidenan Cipanas, Cianjur. Dalam kunjungan tersebut, ia menyoroti berbagai aspek, mulai dari pengelolaan limbah, pelestarian hutan hujan tropis, hingga potensi pengembangan wisata edukasi di area bersejarah tersebut.
Kunjungan yang terekam dalam kanal YouTube-nya ini memperlihatkan sisi lain dari Istana Cipanas yang jarang diketahui publik, khususnya mengenai tantangan ekologis dan manajemen satwa yang ada di dalamnya.
Masalah Sampah dan Kelestarian Sungai
Mengawali tinjauannya, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya sinergi pengelolaan sampah agar tidak mencemari kawasan istana. Ia menegaskan konsep agar sampah dari masyarakat luar tidak masuk ke area istana, dan sebaliknya, limbah dari dalam istana harus terkelola dengan baik agar tidak menjadi masalah bagi lingkungan sekitar.
Selama menyusuri jalur sungai, ia juga mengamati jembatan bersejarah peninggalan era Belanda yang masih berdiri kokoh dan menjadi bagian dari infrastruktur di kawasan tersebut. Sungai ini menjadi titik vital karena alirannya bersinggungan langsung dengan hutan lindung seluas 2,5 hektar.
Hutan Lindung dan Invasi Pohon Aren
Kawasan hutan lindung di Istana Cipanas didesain sebagai miniatur hutan hujan tropis. Namun, pengelola mengungkapkan adanya fenomena unik terkait populasi pohon aren (kawung) yang berlebih atau overpopulation. Diduga, penyebaran benih aren dilakukan secara alami oleh musang yang banyak menghuni kawasan tersebut.
Pihak pengelola secara rutin melakukan pengendalian terhadap pohon-pohon aren yang masih kecil agar tidak mengganggu nutrisi pohon utama lainnya. Selain itu, kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus dilakukan melalui pemantauan kesehatan pohon untuk mendeteksi tingkat kerawanan pohon tumbang.
Sumber Mata Air dan Telaga Kahit
Salah satu kekayaan alam terbesar di kawasan ini adalah keberadaan 15 titik mata air yang berkumpul menjadi satu telaga besar, yang dikenal sebagai Telaga Kahit. Telaga ini bukan sekadar pemandangan, melainkan sumber air utama bagi internal istana yang memiliki kualitas pH sangat baik, mencapai angka 8.
Di area ini juga terdapat amfiteater yang sering digunakan untuk kegiatan edukasi anak-anak, seperti lomba melukis dan baca puisi setiap perayaan 17 Agustus.
Manajemen Satwa: Kandang Kuda Standar Internasional
Dedi Mulyadi juga meninjau instalasi kuda yang menampung sekitar 19 ekor kuda, mayoritas berjenis Sandalwood asal Sumbawa. Ia memberikan apresiasi terhadap perubahan standar manajemen kandang yang kini mengacu pada aspek animal wellness.
“Kandang yang baru sekarang lebih terbuka, komunikatif, dan memperhatikan posisi leher kuda agar tidak tertekan, mencontoh standar kandang di Hambalang,” ungkap pengelola saat menjelaskan renovasi kandang kepada Dedi. Dedi yang dikenal penyayang binatang bahkan sempat berkelakar siap menampung jika ada kelebihan populasi satwa di istana.
Jejak Meditasi Bung Karno
Kunjungan berakhir di sebuah bangunan bersejarah tahun 1954 yang sering digunakan oleh Presiden pertama RI, Soekarno, untuk berkontemplasi dan mencari inspirasi. Bangunan ini menghadap langsung ke arah Gunung Gede Pangrango, memberikan suasana tenang yang dahulu digunakan Bung Karno untuk menerima tamu negara, seperti Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam.
Dedi Mulyadi berharap kawasan ini terus dijaga kelestariannya. Ia juga mengusulkan adanya sistem barikade sampah di aliran sungai menuju istana untuk memudahkan pembersihan secara berkala.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=DJNAY9_ANag



