MAHKOTA BINOKASIH BERSEMAYAM DI PANGKUAN KI JAGA RASA | PESAN NYI HYANG BIKIN TERCENGANG

Dalam rangkaian perayaan Milangkala Tatar Sunda dan Hari Jadi Sumedang, sebuah momen sakral terjadi di Alun-alun Sumedang. Mahkota Binokasih, simbol kedaulatan tanah Sunda, resmi bersanding dengan kereta kencana Ki Jaga Rasa dalam prosesi Napak Tilas Pajajaran.

Acara yang dihadiri oleh Kanjeng Raja Sumedang Larang, tokoh adat, serta jajaran pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Sumedang ini, menjadi simbol penyatuan kembali antara pemerintah, kerajaan, dan rakyat. Kehadiran Mahkota Binokasih di tengah masyarakat Sumedang dimaknai sebagai upaya “mulih ka jati, mulang ka asal” atau kembali ke jati diri dan nilai-nilai luhur Sunda.

Kang Dedi Mulyadi, dalam orasi budayanya, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya sistem nilai Sunda dalam pembangunan. Ia menekankan bahwa Sunda bukan sekadar seni pertunjukan seperti tarian atau ucapan (jangjawokan), melainkan sebuah filosofi hidup yang terintegrasi dengan nilai-nilai Ilahiah.

“Pertemuan Mahkota Binokasih dengan Ki Jaga Rasa adalah simbol harmonisasi, seperti air dan jernihnya, atau gula dengan manisnya. Ini adalah spirit untuk menghidupkan kembali alam kasundaan yang adiluhung, di mana pemimpin dan rakyat bersatu dalam adab,” ujar KDM.

Dalam kesempatan tersebut, muncul pula aspirasi untuk menamai Alun-alun Pusat Pemerintahan Sumedang menjadi Alun-alun Taji Malela, sebagai penghormatan kepada tokoh besar sejarah Sumedang. KDM juga mendorong agar Sumedang benar-benar mengevaluasi diri untuk menjadi “Puseur Budaya” (Pusat Budaya) dengan menata kota dan menjaga ekologi lingkungan, bukan sekadar menjadi pusat pertambangan.

Pesan lingkungan juga kuat disampaikan melalui personifikasi “Nyi Hyang” yang mengingatkan pentingnya kembali mencintai alam, seperti gunung yang hijau, sungai yang mengalir, dan sawah yang produktif.

Prosesi ini juga menandai rencana besar untuk tahun-tahun mendatang, di mana jalur napak tilas dari Keraton Sumedang Larang menuju alun-alun akan ditata lebih estetis dengan gapura dan lampu-lampu ikonik Mahkota Binokasih, guna memperkuat posisi Sumedang sebagai destinasi wisata religi dan budaya.

Acara ditutup dengan harapan agar masyarakat Jawa Barat, khususnya Sumedang, terus menjaga semangat kebersamaan (sabilulungan) dalam membangun daerah dengan tetap berpijak pada akar sejarah dan budaya leluhur.

sumber: https://youtube.com/watch?v=fbOvt8CSs88