BERTEMU GURU DAN SISWA DI KELAS | KDM INGIN UBAH TEORI AKADEMIS JADI PRODUK PRAKTIS

Dalam kunjungannya ke sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Jonggol, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menekankan pentingnya perubahan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia. Beliau menyoroti perlunya pergeseran dari teori akademis yang menjenuhkan menuju pengajaran yang menghasilkan produk praktis dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Dalam interaksi langsung dengan siswa dan guru di ruang kelas, KDM menyampaikan keprihatinannya terhadap beban kurikulum yang terlalu fokus pada teori tanpa aplikasi nyata. Beliau mengusulkan agar mata pelajaran eksakta seperti Fisika, Kimia, dan Biologi diterapkan sebagai “ilmu terapan” yang mampu menjawab tantangan zaman, khususnya dalam bidang energi terbarukan dan pengelolaan lingkungan.

KDM mendorong sekolah untuk melakukan praktikum nyata, seperti mengubah bahan baku nabati (sawit, jagung, jerami) menjadi biosolar atau bahan bakar alternatif. Beliau menekankan bahwa siswa harus mampu menciptakan solusi atas krisis energi global.

Selain itu, sekolah diharapkan menjadi pusat inovasi di mana sampah plastik dikonversi menjadi bahan bakar dan sampah organik diolah menjadi pupuk atau energi listrik. Hal ini dianggap sebagai solusi nyata atas permasalahan sampah di masyarakat.

Dengan penguasaan teknologi tenaga surya (solar cell), sekolah diharapkan dapat memproduksi listrik sendiri untuk kebutuhan AC dan penerangan, sehingga dapat menghemat anggaran operasional. KDM mengusulkan kebijakan di mana siswa yang mampu mengubah teori menjadi karya nyata (teknokratis/praktis) berhak mendapatkan apresiasi dan nilai yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya menguasai teori akademis.

Selain fokus pada kurikulum, KDM juga menaruh perhatian pada kesejahteraan guru, khususnya tenaga honorer dan P3K, serta menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM pengajar agar mampu membimbing siswa dalam praktik terapan.

KDM menegaskan bahwa pendidikan harus kembali ke prinsip “sebab-akibat” atau ekosistem yang utuh, di mana setiap ilmu yang dipelajari menghasilkan manfaat langsung bagi lingkungan dan bangsa. “Pelajaran harus berubah menjadi energi, bukan malah membuat siswa mengantuk dan jenuh,” tegasnya.

sumber: