NGOBROL SANTAI PROF. BAGUS MULJADI | MISTIK JALAN – PERADABAN TAK BERBIAYA
Kang Dedi Mulyadi melakukan diskusi mendalam bersama akademisi University of Nottingham, Prof. Bagus Muljadi, mengenai peluncuran proyek ensiklopedia Sunda yang merangkum kearifan lokal dalam bingkai sains modern. Pertemuan ini menegaskan pentingnya menoleh kembali ke akar budaya sebagai kompas pembangunan masa depan.
Berikut adalah poin-poin utama dari diskusi tersebut:
Peluncuran Ensiklopedia Sunda yang Komprehensif
Proyek ini merupakan catatan sejarah pertama yang merangkum cara berpikir masyarakat Sunda ke dalam tiga jilid utama, yakni fokus pada alam, manusia, serta teknologi dan buah pikir. Karya ini melibatkan berbagai ahli mulai dari geografer, sejarawan, hingga matematikawan untuk membuktikan bahwa kearifan lokal bukan sekadar hal eksotis, melainkan memiliki dasar sains yang kuat.
Filosofi Alam sebagai Orang Tua dan Guru
Dalam pandangan hidup Sunda, alam diposisikan sebagai “Indung” (ibu), guru, dan raja. Berbeda dengan pandangan Barat yang cenderung melihat manusia sebagai pusat (eksepsional) dan alam hanya sebagai utilitas, filosofi Sunda menekankan totalitas pada alam atau hukum kausalitas. Hal ini dinilai menjadi solusi atas krisis lingkungan global saat ini.
Mistisisme sebagai Metode Pelestarian Alam yang Efektif
Diskusi mengungkap bahwa konsep “pamali” atau mistifikasi tempat-tempat tertentu (seperti keberadaan sosok gaib di mata air atau hutan) sebenarnya adalah cara cerdas dan “tanpa biaya” dari leluhur untuk menjaga ekosistem. Prof. Bagus Muljadi menekankan bahwa sains tertinggi justru lahir dari upaya manusia bergumul dengan hal-hal yang misterius, sebagaimana pandangan Albert Einstein.
Bambu sebagai Identitas Peradaban Berkelanjutan
Masyarakat Sunda secara filosofis memilih bambu sebagai bahan utama kehidupan karena sifatnya yang cepat tumbuh kembali (anti-deforestasi). Penggunaan bambu dalam arsitektur dan alat rumah tangga mencerminkan kesadaran tinggi akan siklus alam yang berkelanjutan.
Transformasi Hukum dan Rasa
Kang Dedi Mulyadi menyoroti bahwa sistem hukum modern yang hanya berbasis pasal tertulis (positivisme) seringkali kehilangan aspek “rasa” dan kesadaran. Dalam tradisi Sunda, perdebatan moral dan kesadaran batin merupakan tingkatan hukum yang lebih tinggi daripada sekadar aturan tertulis.
Komitmen Penelitian Nusantara
Sebagai tindak lanjut, ensiklopedia ini akan disediakan secara daring (online) melalui repositori universitas agar dapat diakses publik secara luas. Kang Dedi Mulyadi menyatakan komitmennya untuk mendukung penelitian serupa di seluruh wilayah Nusantara demi menjaga kekayaan intelektual leluhur Indonesia.
Sinergi antara nalar sains modern dan rasa kearifan lokal ini diharapkan menjadi basis teknokratik baru bagi para pengambil kebijakan di Indonesia.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=-FONd-wznhU



