CIANJUR HARI JADI KE 349 | PESAN KDM BIKIN MERINDING
CIANJUR– Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Cianjur ke-349, Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pidato kebudayaan yang mendalam dan sarat akan pesan spiritual. Bertempat di hadapan jajaran pemerintah daerah, termasuk Bupati Cianjur beserta unsur Forkopimda dan anggota DPRD, Kang Dedi mengingatkan para pemimpin untuk tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan nilai immaterial dan pelestarian lingkungan.
Dalam pidatonya, Kang Dedi Mulyadi menggarisbawahi dua pilar utama pembangunan bagi seorang pemimpin, yaitu perkara yang “karampa” (teraba/fisik) dan perkara yang “karasa” (terasa/spiritual).
“Pembangunan fisik itu mekanikal, ukurannya adalah anggaran. Rumusnya gampang, tinggal pangkas anggaran perjalanan dinas, seminar, dan seremonial yang tidak perlu, lalu fokuskan seluruhnya untuk kinerja pelayanan rakyat mulai dari perbaikan jalan, sekolah, hingga irigasi,” ujar KDM. Ia juga mengapresiasi kemajuan infrastruktur di Cianjur seperti perbaikan jalan beton di wilayah Cikadu yang kini mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Namun, fokus utama yang ditekankan oleh KDM adalah pembangunan aspek immaterial atau spiritualitas berbasis kebudayaan Sunda. Menurutnya, jati diri manusia Sunda tercermin dari filosofi kelestarian alam, yang ia simbolisasikan melalui keseimbangan antara laut (energi feminin/Nyi Ratu) di Cianjur Selatan dan gunung/hutan (energi maskulin/Maung Siliwangi).
“Menikah dengan laut artinya pemimpin dan rakyat harus menyatu dengan alam, tidak boleh merusak mangrove, mengeksploitasi pasir secara berlebihan, ataupun menghancurkan sagara demi kepentingan ekonomi sesaat. Pemimpin yang merusak alamnya sendiri demi uang adalah pemimpin yang keliru,” tegas Kang Dedi.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan sosial masa kini terkait ancaman hilangnya generasi masa depan lost generation akibat perubahan kultur negatif, maraknya judi online, pinjaman online, hingga penurunan kualitas interaksi anak-anak akibat gawai. Sebagai solusi substantif, ia mengajak pemerintah daerah untuk merubah paradigma pembangunan dengan tidak hanya mengejar pencapaian administratif seperti opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), melainkan memastikan hasil nyata dari anggaran belanja benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
Kang Dedi Mulyadi juga mendorong perubahan citra kawasan Cianjur, dari imej negatif masa lalu menjadi wilayah yang melahirkan perempuan-perempuan mandiri dan cerdas. Caranya adalah dengan peningkatan mutu pendidikan gratis yang dibarengi pelatihan keterampilan khusus dan bahasa asing.
Melalui peringatan hari jadi ini, diharapkan seluruh pemangku kebijakan di Kabupaten Cianjur dapat bersinergi dengan visi spiritual dan ekologis tersebut demi mewujudkan tatanan masyarakat Cianjur yang gemah ripah, repeh rapih, ngahenang, ngahening (aman, damai, tentram, dan sejahtera).
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=dTOTJ7oo6q8



