INI PESAN MUNAJAT CINTA | SAMBUT TAHUN BARU 1448 H DAN MURID BARU 2026/2027
BANDUNG — Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sekaligus menyongsong tahun ajaran baru persekolahan 2026/2027, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) mengajak seluruh elemen pendidikan dan masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam mengenai penguatan karakter berbasis nilai spiritual dan cinta kasih.
Dalam acara penuh khidmat bertajuk “Munajat Cinta” yang dihadiri oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), jajaran direksi Bank BJB, serta para Kepala Sekolah SMA dan SMK Negeri se-Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menekankan pentingnya mengembalikan ekosistem keluarga dan sekolah sebagai pusat penempaan moral anak bangsa.
Kerinduan pada Pendidikan Berbasis Keikhlasan dan Ketulusan
Di hadapan ribuan pendidik, KDM secara terbuka mengungkapkan rasa haru sekaligus keprihatinan atas pergeseran nilai sosial yang melanda generasi masa kini. Beliau membawa memori kolektif hadirin pada potret kehidupan generasi era 70-an, sebuah masa di mana keterbatasan fasilitas fisik justru melahirkan manusia-manusia yang tangguh karena dibesarkan dalam lingkungan penuh keikhlasan.
“Kelahiran anak-anak zaman dulu dibantu oleh paraji yang tulus bertaruh waktu di tengah malam tanpa mematok tarif. Ibu-ibu zaman dulu mendidik anak tanpa seminar pranikah, mampu membesarkan belasan anak agar menjadi orang hebat dengan bekal makanan sederhana penuh cinta kasih. Agamanya hadir dalam bentuk penyerahan diri yang nyata, bukan sekadar upacara seremoni dan simbol semata,” ujar KDM dengan nada bergetar.
Beliau mengkritisi realitas modern, di mana proses persalinan sering kali menjadi beban finansial yang berat bagi warga kurang mampu, sehingga sejak lahir anak-anak seolah sudah terbebani masalah psikologis. Pemprov Jabar menegaskan komitmennya untuk terus hadir melalui instrumen kebijakan publik guna membantu meringankan beban biaya persalinan bagi keluarga miskin.
Krisis Karakter: Ketika Teknologi Mengabaikan Sentuhan Jiwa
Pemprov Jabar menggarisbawahi bahwa kecanggihan teknologi informasi, metodologi pembelajaran barat, hingga standardisasi fasilitas seperti smartboard akan menjadi rapuh dan runtuh jika kehilangan fondasi spiritual serta ketulusan interaksi antara guru dan murid.
“Pendidikan itu sejatinya mengukir karakter di atas batu, meninggalkan jejak mendalam dalam jiwa anak. Guru zaman dulu mendidik dengan hati, dan murid menerima setiap bimbingan dengan rasa takzim. Target utama kita bukanlah sekadar mengejar angka-angka survei atau prestise riset, melainkan membentuk anak-anak Jawa Barat yang cageur, bageur, bener, pintar, singer,” tegas Gubernur.
Fenomena kenakalan remaja saat ini, seperti maraknya aksi kekerasan pelajar di jalanan (tawuran membawa senjata tajam), dinilai berakar dari rapuhnya ketahanan keluarga. Kesibukan orang tua yang mengabaikan asuhan emosional, kecenderungan saling menyalahkan antar-pihak, hingga hilangnya kehangatan di atas meja makan rumah menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bersama.
Komitmen Pemprov Jabar dalam Menekan Angka Kekerasan
Melalui pendekatan yang integratif dan humanis, Pemprov Jabar terus berupaya keras mengikis potensi penyimpangan sosial di kalangan remaja. Upaya pembinaan disiplin termasuk program kemitraan strategis dengan barak militer terbukti berhasil menurunkan angka kekerasan pelajar di jalanan Jawa Barat secara signifikan.
“Kita menghadapi generasi yang mengalami kekeringan rasa cinta. Jika hari ini perilaku anak-anak kita berbeda, itu karena ekosistem keluarganya sudah berubah, jenis makanannya berubah, dan konsumsi teknologi informasinya juga berubah. Oleh karena itu, melalui momentum tahun baru hijriah ini, mari kita bangun kembali kekuatan asuhan berbasis ‘Cinta Munajat’ agar sekolah menjadi rumah aman yang memanusiakan manusia,” pungkas KDM.
Pemprov Jabar juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kepala sekolah dan tenaga pendidik yang terus berjuang di garda terdepan, khususnya dalam menghadapi dinamika penerimaan peserta didik baru yang kerap diwarnai tekanan sosial yang tinggi. Pemprov berkomitmen untuk terus mendampingi, mengawal transparansi, dan memberikan perlindungan bagi para guru dalam menjalankan tugas mulianya melahirkan generasi emas Jawa Barat yang berkarakter luhur.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JtTCunQ58F4



