Harmoni Budaya di Karawang: Saat Seni Sunda, Jawa, dan Betawi Menyatu dalam Kirab Kebahagiaan

KARAWANG – Gemuruh suara terompet pencak silat dan riuh rendah tawa warga mewarnai perhelatan Kirab Budaya yang digelar di Kabupaten Karawang. Acara ini menjadi panggung sakral sekaligus hiburan bagi masyarakat, di mana berbagai elemen kesenian dari Jawa Barat dan Jawa Tengah bertemu dalam satu harmoni yang memukau.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang memandu jalannya acara, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar iring-iringan, melainkan wujud nyata dari kemanunggalan budaya yang mampu membawa kebahagiaan bagi warga.

Keberagaman Nusantara dalam Satu Panggung

Kemeriahan kirab diawali dengan penampilan delegasi seni dari berbagai daerah. Kehadiran seniman dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memberikan warna tersendiri dengan tarian khasnya yang dinamis. Dedi Mulyadi sempat berkelakar dengan para penari, mencairkan suasana di tengah terik matahari Karawang.

Tidak hanya dari Jawa Tengah, seniman dari Brebes juga turut berpartisipasi, menunjukkan betapa cairnya batas-batas administratif ketika seni sudah berbicara. “Ini luar biasa, wong Brebes juga hadir di sini,” ujar Dedi di atas panggung kirab.

Surak Ibra: Atraksi Akrobatik dari Garut

Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian adalah kesenian Surak Ibra dari Kabupaten Garut. Kesenian yang mengandalkan kekompakan dan kekuatan fisik ini diperagakan oleh para seniman yang saling melempar dan mengangkat satu sama lain dengan penuh energi.

Komedian Mang Ohang yang turut serta dalam rombongan tersebut berhasil mengocok perut penonton dengan aksi lucunya. Mang Ohang bahkan harus menggunakan make-up yang membuatnya sulit dikenali, sebuah totalitas peran yang diapresiasi oleh Dedi Mulyadi. “Dia terlalu menjiwai peran sampai tidak bisa bicara,” canda Dedi saat melihat aksi akrobatik tersebut.

Simbol Perlawanan dan Kebahagiaan Rakyat

Kirab budaya ini juga diisi dengan iringan kuda-kuda yang membawa anak-anak dan warga berkeliling. Di tengah kemeriahan tersebut, Dedi Mulyadi secara aktif berinteraksi dengan warga, membagikan “saweran” sebagai bentuk apresiasi terhadap antusiasme masyarakat. Baginya, seni harus bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat, baik secara psikologis maupun ekonomi.

Suasana semakin memuncak saat alunan musik khas Karawang, Goyang Karawang, mulai dimainkan. Warga dan pejabat yang hadir pun larut dalam kegembiraan, menari bersama sebagai simbol kebersamaan tanpa sekat.

Apresiasi untuk Seniman: Rumah Layak Huni

Di penghujung sesi, sebuah momen haru terjadi ketika Dedi Mulyadi memberikan apresiasi khusus kepada seorang pemain terompet handal bernama Mang Alan yang dijuluki “Dewa Terompet” asal Subang.  Setelah mendengar kondisi rumah sang seniman yang kurang layak, Dedi secara spontan memberikan bantuan perbaikan rumah sebesar Rp 40 juta.

“Ini adalah bentuk penghargaan untuk seniman yang telah menjaga warisan budaya kita. Semoga bantuannya bermanfaat untuk memperbaiki rumah,” pungkas Dedi yang disambut ucapan syukur dari sang seniman.

Acara kirab budaya ini menegaskan posisi Karawang sebagai titik temu berbagai kebudayaan yang ada di Pulau Jawa, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan seni tradisi di tengah arus modernisasi.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=g8yErU-MI5w