KDM di Forum WJES 2026: ‘Lembur Diurus, Kota Ditata’ sebagai Kunci Kemandirian Ekonomi Jawa Barat

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan pidato inspiratif dalam Forum West Java Economic Society (WJES) 2026 yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat. Dalam acara yang menandai masa transisi kepemimpinan di BI Jabar tersebut, KDM menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat dari konsumtif menjadi produktif demi menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan.

Apresiasi untuk ‘Cahaya’ Bank Indonesia

Membuka sambutannya, KDM memberikan apresiasi tinggi kepada Kepala Perwakilan BI Jabar, Erwin Gunawan Hutapea (yang disebutnya sebagai ‘Nur’), atas kontribusinya menjaga stabilitas ekonomi Jawa Barat selama lebih dari dua tahun terakhir. KDM menyebut kolaborasi yang harmonis telah membuat “rupiah tidak ngamuk” di Jawa Barat, meski tantangan global terus mengintai.

“Ekonomi kita tetap adem karena kepemimpinan Bapak di Jawa Barat. Ke depan, kita menyambut Pak Junanto sebagai pengganti mulai 1 Mei untuk melanjutkan estafet ini,” ujar KDM di hadapan para tokoh penting, termasuk Bupati Bandung Barat dan pimpinan instansi vertikal.

Filosofi Sunda untuk ‘Civil Society’ dan Ketahanan Pangan

Inti pemaparan KDM terletak pada penerapan filosofi Sunda dalam kebijakan ekonomi modern. Ia mengaitkan konsep civil society dengan istilah gemah ripah repeh rapi, yang dimulai dari ketahanan di tingkat keluarga dan desa.

“Kemandirian itu kuncinya adalah produksi, bukan sekadar peredaran uang. Kita sering bicara inflasi tapi lupa menanam,” tegas KDM. Ia memperkenalkan konsep reaketan reaketon buncir leuit loba duit, yang berarti kemakmuran dimulai dari kemampuan memproduksi pangan sendiri yang disimpan di gudang (leuit), sehingga uang hanyalah implikasi dari produktivitas tersebut.

Kritik Tajam Terhadap Budaya Konsumtif dan ‘Lost Generation’

KDM melontarkan kritik keras terhadap gaya hidup konsumtif masyarakat Jawa Barat saat ini. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak sekolah kini lebih akrab dengan skincare, gawai terbaru, dan jajanan tidak sehat dibandingkan aktivitas produktif.

“Anak-anak sekarang mulai kena gangguan kesehatan seperti gagal ginjal dan diabetes karena konsumsi gula yang tinggi dan kurang gerak. Sementara itu, sektor produksi di sawah dikerjakan oleh orang-orang tua berusia 60-70 tahun. Jika ini dibiarkan, kita menghadapi ancaman lost generation,” peringatnya.

Ekonomi Syariah: Kejujuran dan Keadilan

Dalam pandangan KDM, ekonomi syariah bukan sekadar label, melainkan sistem yang berbasis kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Ia menyoroti fenomena “bank gelap” atau rentenir yang mencekik masyarakat dengan bunga hingga 25 persen per hari, yang sering digunakan warga untuk biaya sekolah hingga pesta pernikahan.

“Negara tidak boleh membiarkan kezaliman rentenir ini terjadi. Ekonomi syariah itu ya tukang dagang jujur, sopir jujur, dan negara jujur dalam mengelola uang rakyat,” tuturnya.

Strategi ‘Lembur Diurus, Kota Ditata’

Sebagai langkah konkret, KDM mengusung jargon “Lembur Diurus, Kota Ditata”. Ia berencana merealokasi anggaran dari biaya konsumsi birokrasi yang mahal untuk dialihkan ke sektor produksi, seperti perbaikan irigasi, jalan desa, dan stimulus UMKM.

Salah satu kebijakan yang ditekankan adalah penyediaan layanan kesehatan gratis kelas 3 bagi warga di luar PBI serta penyediaan rumah singgah gratis bagi penunggu pasien di rumah sakit. Ia juga mendorong perekrutan tenaga harian lepas (THL) untuk kebersihan lingkungan dengan upah standar agar uang pajak terdistribusi langsung ke rakyat kecil.

“Lebih baik sukses bermandi keringat daripada sukses bermandi intan berlian tapi tidak ada artinya bagi rakyat. Jawa Barat harus menjadi lokomotif produksi nasional,” pungkasnya.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Of9G3ZblDaE