KDM di Hadapan Menko PMK: Kritik Budaya “Instan” Gen Z dan Dorong Revolusi Pendidikan Berbasis Tradisi Otodidak

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan pidato kebudayaan yang reflektif sekaligus kritis dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri. Dalam sambutannya, KDM menyoroti penurunan daya dukung kebudayaan di tengah masyarakat, khususnya pada generasi muda atau Gen Z.

KDM menekankan bahwa kemajuan teknologi digital yang tidak dibarengi dengan kekuatan karakter budaya telah menciptakan generasi yang cenderung pasif dan kehilangan vitalitas hidup yang dulu dimiliki oleh orang tua zaman dahulu.

Kritik LPG 3 Kg dan Hilangnya Peran Anak dalam Keluarga

Salah satu poin menarik yang disampaikan KDM adalah pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, di mana ia sempat menolak masuknya program LPG 3 kg ke pedesaan. Alasannya, kemudahan teknologi dapur tersebut dikhawatirkan akan memutus rantai aktivitas fisik anak-anak desa, seperti mencari kayu bakar, yang merupakan bagian dari pembentukan karakter.

“Dulu, anak-anak punya peran masing-masing: ada yang mengambil air di sumur sedalam 21 meter, menyapu halaman, hingga menyabit rumput. Aktivitas itu membangun spirit dan vitalitas. Sekarang, sejak bayi sudah kenal HP, aktivitas lingkungan kebudayaannya hilang,” ujar KDM.

Ia juga menyentil fenomena sosial di mana masyarakat lebih mengutamakan “memviralkan” kejadian ketimbang menolong, seperti saat melihat sampah, kecelakaan, atau perkelahian.

Pendidikan Matematika Berbasis Halaman Rumah

KDM mengusulkan transformasi radikal dalam sistem pendidikan. Ia mengkritik metode pengajaran teori yang menjenuhkan dan mendorong adanya “Fisika Terapan” serta “Matematika Kontekstual”. Ia mencontohkan, pelajaran matematika seharusnya dimulai dari mengukur halaman rumah sendiri, kemudian dilanjutkan dengan pelajaran biologi untuk meneliti unsur hara tanahnya.

“Jika anak menanam cabai dan berhasil, nilainya dibedakan. Kalau dijual ke warung kasih nilai 7. Kalau dimakan bareng keluarga kasih 8. Tapi kalau diolah jadi sambal dan dijual bersama sate di depan rumah, kasih nilai 9 karena itu vokasi entrepreneur,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan tentang pentingnya warisan otodidak. KDM mencontohkan bagaimana rumah makan Sunda sering kali gulung tikar setelah pemiliknya meninggal karena anak-anaknya tidak mewarisi “rasa” dan keterampilan memasak orang tuanya, melainkan hanya menikmati hasilnya.

Kekuatan “Melihat dan Mendengar” Masyarakat Jawa Barat

Kepada Menko PMK, KDM menjelaskan bahwa kekuatan utama masyarakat Jawa Barat bukan terletak pada literasi membaca buku teori, melainkan pada kemampuan mendengar dan melihat (observasi langsung). Menurutnya, sistem pemagangan atau otodidak di bengkel atau proyek bangunan jauh lebih efektif bagi warga Jabar ketimbang belajar teori di kelas.

“Jika nilai otodidak ini bersenyawa dengan teknologi pendidikan modern, orang Indonesia akan melebihi Eropa dan Amerika karena memiliki keseimbangan otak kiri dan kanan yang sangat kuat,” tegas KDM.

Sekolah dan Kantor sebagai Pusat Pariwisata

Terakhir, KDM mendorong agar arsitektur bangunan publik di Jawa Barat seperti sekolah dan kantor pemerintah tidak dibuat seragam (monoton). Ia ingin bangunan disesuaikan dengan karakter alamnya: arsitektur gunung untuk di pegunungan, dan arsitektur pantai untuk di pesisir.

Dengan mengadopsi nilai-nilai leluhur dan peninggalan kolonial yang estetik, sekolah bisa menjadi pusat kepariwisataan baru yang menarik wisatawan karena keunikan bentuknya, bukan sekadar tempat belajar yang kaku.

Pidato ditutup dengan harapan agar integrasi antara pembangunan infrastruktur, teknologi, dan nilai spiritual dapat menciptakan masyarakat Jawa Barat yang unggul secara intelektual maupun emosional.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=3iFRvCoqDMQ