KDM di Milangkala Kabupaten Bandung ke-385: Kembalikan Peradaban Air dan Hentikan Pembangunan yang Melawan Takdir Alam

KABUPATEN BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan orasi kebudayaan yang tajam sekaligus reflektif dalam peringatan Hari Jadi (Milangkala) Kabupaten Bandung ke 385. Di hadapan Bupati Dadang Supriatna dan jajaran DPRD Kab. Bandung, KDM menekankan bahwa arah pembangunan masa depan tidak boleh lagi mengabaikan filosofi lokal dan hukum alam.

KDM mengkritik pola pikir pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek namun merusak ekosistem jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa identitas Sunda sangat erat dengan “Cai” (air) dan gunung, yang seharusnya menjadi fondasi dalam menata ruang wilayah.

Filosofi “Bendungan Bandung” dan Kedaulatan Energi

Dalam pemaparannya, KDM membedah asal-usul nama Bandung yang berasal dari kata “Bendungan”. Ia menjelaskan bahwa leluhur Jawa Barat telah meletakkan konsep pembangunan berbasis air yang kini terwujud dalam rangkaian bendungan besar seperti Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.

“Peradaban Sunda itu peradaban air. Saguling artinya bareng ngagulingna, ngagunungna, manunggal. Tidak ada jarak antara manusia dengan alam dan penciptanya,” ujar KDM.

Ia menyesalkan adanya kebijakan masa lalu yang mengizinkan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di dekat bendungan yang sudah menghasilkan energi ramah lingkungan. Menurutnya, hal tersebut merusak estetika dan infrastruktur jalan akibat angkutan batu bara yang melebihi kapasitas.

Transformasi Ekonomi: Dari Buruh Kebun ke Pemilik Homestay

KDM juga menyoroti nasib buruh petik teh di kawasan Bandung Selatan seperti Ciwidey dan Pangalengan yang masih terjebak dalam kemiskinan dengan upah rendah. Ia mengusulkan perombakan total pemukiman buruh (bedeng) menjadi rumah panggung estetik yang berfungsi ganda sebagai homestay.

“Jangan biarkan pengusaha Jakarta saja yang kaya di sini. Kita didik anak-anak buruh petik teh dengan ilmu pariwisata, bahasa Inggris, dan tata boga. Jadikan rumah mereka homestay kelas bintang agar ekonomi kerakyatan benar-benar berputar,” tegasnya.

Ia juga menginstruksikan agar seluruh produk kopi yang dijual di kawasan wisata Kabupaten Bandung wajib menggunakan kopi lokal Bandung, bukan kopi saset pabrikan, guna meningkatkan nilai tambah bagi petani setempat.

Kritik Tata Ruang: “Jangan Melawan Takdir Air”

Terkait masalah banjir yang terus menghantui, KDM memberikan teguran keras terhadap alih fungsi lahan. Ia menyatakan bahwa membangun pabrik atau perumahan di atas sawah dan rawa adalah tindakan “melawan takdir”.

“Meskipun bupati atau rakyat berdoa tujuh hari tujuh malam agar tidak banjir, kalau bangunannya didirikan di atas rawa, ya pasti banjir. Itu sudah ketetapan Allah melalui hukum alam,” tuturnya.

Sebagai solusi masa depan, KDM mendorong perubahan pola pemukiman dari rumah tapak ke arah hunian vertikal (apartemen rakyat) untuk menampung ledakan penduduk tanpa harus terus-menerus memakan lahan produktif dan daerah resapan air.

Revolusi Penanganan Sampah

Menutup pidatonya, KDM memberikan kabar baik terkait pengelolaan sampah di Jawa Barat. Ia mengumumkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di Sari Mukti yang akan segera dimulai. Hal ini diharapkan menjadi solusi permanen bagi masalah sampah yang selama ini membebani wilayah Bandung Raya.

KDM berharap Kabupaten Bandung dapat kembali pada marwahnya sebagai daerah yang “Indah, Rancunit, dan Berwibawa” dengan menjaga harga diri alamnya dari eksploitasi pertambangan yang merusak.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=4zjZHzdFldY