KDM dan Warga Amerika Berdarah Sunda Sepakat Hijaukan 80 Hektar Lahan Kritis di Cimenyan
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan langkah strategis untuk memulihkan ekologi di wilayah Cimenyan, Kabupaten Bandung. KDM menggandeng Wendy Ratnasari, seorang warga keturunan Sunda yang telah menetap selama 30 tahun di Amerika Serikat, untuk menghijaukan kembali lahan miliknya seluas 80 hektar.
Lahan tersebut selama ini dikenal sebagai zona kritis karena pola tanam sayuran musiman yang dinilai mengancam keseimbangan ekologi dan menjadi faktor penyebab banjir serta longsor di wilayah Bandung Raya.
Transformasi dari Sayuran ke Kopi
Dalam pertemuan formal di Lembur Pakuan, KDM dan Wendy bersepakat untuk mengubah jenis komoditas yang ditanam warga penggarap di lahan tersebut. Jika sebelumnya lahan dipenuhi sayuran, ke depan akan ditanami pohon kopi dan tanaman tegakan yang berfungsi sebagai penghasil oksigen serta penyerap air.
“Kita bersepakat merubah jenis tanaman dari sayuran menjadi kebun kopi. Agar warga penggarap tidak kehilangan pendapatan, mereka akan mendapatkan alokasi pembiayaan bulanan daripada sekadar menjadi kuli panggul,” ujar KDM saat berdialog dengan Wendy.
Wendy Ratnasari yang memiliki latar belakang manajemen ekonomi di Amerika Serikat, mendukung penuh gagasan ini. Ia berharap proyek ini tidak hanya menghijaukan lahan, tetapi juga membawa kemandirian ekonomi bagi warga setempat melalui program hilirisasi kopi.
Konsep Holistik: Rumah Sakit di Tengah Hutan
Selain penghijauan, Wendy mengungkapkan mimpinya untuk membangun kawasan terintegrasi yang mencakup fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pariwisata. Mengingat Cimenyan merupakan wilayah dengan akses layanan kesehatan yang sulit, ia berencana membangun rumah sakit yang menyatu dengan alam (holistik).
“Saya ingin tanah ini hijau semua, yang dibangun sedikit saja. Ada rumah sakit yang juga bisa untuk rehabilitasi dengan teknologi maju. Jadi, kebun ini bukan hanya fungsi perkebunan, tapi juga edukasi dan kesehatan,” jelas Wendy.
KDM menyambut baik konsep tersebut. Ia menegaskan bahwa pembangunan modern tidak harus berarti melakukan “betonisasi”. Ia merujuk pada tata ruang di negara maju yang sangat ketat dalam menjaga jarak antar-bangunan dan melestarikan pohon.
Kritik Terhadap Budaya “Musiman” dan Pendidikan
Di sela-sela diskusi, KDM sempat melontarkan kritik terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia yang seringkali mengikuti tren atau musiman dalam bertani maupun berbisnis, yang sering memicu over supply dan anjloknya harga.
Ia juga menyoroti sistem pendidikan IPA di sekolah yang menurutnya terlalu akademis. KDM mendorong agar sekolah-sekolah mulai mengajarkan praktik langsung, seperti mengubah limbah kulit singkong atau daun menjadi pupuk organik, daripada sekadar memberikan pekerjaan rumah (PR) yang bersifat teori.
Sentuhan Budaya dan Hubungan dengan Alam
Pertemuan tersebut juga membahas hal unik mengenai hubungan manusia dengan alam. KDM mengungkapkan kebiasaannya yang jarang menggunakan alas kaki di rumah sebagai cara untuk melepas stres dan menyerap energi bumi.
“Orang yang tinggal di lingkungan banyak pohon biasanya terhindar dari stres. Saya belum pernah melihat gajah stres karena lingkungannya masih banyak pohon,” kelakar KDM.
Penandatanganan nota kesepahaman ini menandai dimulainya babak baru bagi pelestarian lingkungan di Cimenyan. KDM berharap langkah Wendy menjadi inspirasi bagi pemilik lahan luas lainnya untuk lebih mengutamakan fungsi ekologis dibanding keuntungan jangka pendek dari sektor properti atau pertanian konvensional.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=uOnHjuL_zOY



