HUT ke-65 Bank BJB: Gubernur Dedi Mulyadi Sentil Suku Bunga ASN, Minta Reformasi Gaji Pejabat, hingga Buka Kasus Kredit Macet Rp 24 Miliar
BANDUNG – Panggung perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Bank BJB ke-65 menjadi momentum krusial bagi arah kebijakan strategis salah satu bank pembangunan daerah terbesar di Indonesia. Dalam acara yang dihadiri oleh jajaran direksi, komisaris, pejabat daerah, serta para nasabah prioritas tersebut, kritik tajam sekaligus pesan mendalam disampaikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Barat selaku Pemegang Saham Pengendali.
Tidak hanya dipenuhi oleh arahan serius mengenai tata kelola perbankan, acara yang berlangsung meriah ini juga ditutup dengan penampilan bernuansa nostalgia dari penyanyi legendaris asal Malaysia, Amy Search, yang membawakan lagu ikonik “Isabella”.
Sentilan Bunga Kredit ASN: “Bukan Turun, tapi Geser”
Gubernur Jawa Barat mengawali pidatonya dengan menyoroti laporan dari Direktur Utama Bank BJB mengenai penurunan suku bunga pinjaman bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan laporan manajemen, suku bunga pinjaman konsumen untuk ASN mengalami penurunan dari 12 persen menjadi sekitar 11 persen atau kisaran 10,6 hingga 10,9 persen.
Secara gamblang, Gubernur menyebut penurunan yang berkisar di angka 0,6 persen tersebut belum memberikan dampak yang signifikan bagi para abdi negara.
“Tadinya saya mau tepuk tangan yang keras. Suku bunga pinjaman untuk ASN turun dari 12 persen ke 11 persen, cuma 0,6 persen. Jadi kalau mengumumkan turun itu, kalau sedikit mah kagok Pak. Mengumumkan turun itu begini, dari 12 persen ke 10 persen. Kalau dari 12 persen ke 11 persen, ke 10,6 persen, itu bukan turun, itu namanya geser,” seloroh Gubernur yang langsung disambut tawa para hadirin.
Gubernur menekankan pentingnya prinsip kesetiaan dan persahabatan dalam ekosistem bisnis Bank BJB. Menurutnya, ASN merupakan kelompok nasabah yang paling loyal dan minim risiko gagal bayar (wanprestasi) karena sistem pembayaran yang menggunakan skema potong gaji langsung.
Ia menyayangkan jika nasabah yang setia justru dibebani bunga tinggi, sementara debitur besar yang bermasalah seringkali mendapatkan kelonggaran.
“Jangan yang setia itu dikasih beban bunga yang tinggi, sedangkan yang mencurangi bebas dari pinjaman. Ini yang harus dievaluasi dan dikaji agar BJB diceritakan manis oleh para ASN. Karena marketing yang sejati itu bukan memperbanyak orang cantik nongol di media sosial atau gambar artis di reklame, tapi saat orang menikmati produk dan menceritakannya secara alami,” tegasnya.
Usulan Formula Insentif Menjelang Pensiun
Sebagai bentuk apresiasi konkret atas loyalitas ASN yang seringkali menjaminkan Surat Keputusan (SK) pengangkatannya di Bank BJB dari awal karier hingga masa purna bakti, Gubernur mengusulkan sebuah skema kebijakan baru. Ia meminta manajemen melakukan analisis mendalam untuk menurunkan suku bunga secara signifikan saat ASN memasuki tahun-tahun terakhir menjelang masa pensiun.
“Bisa tidak sih suku bunganya diturunkan agak jauh saat mereka menjelang pensiun, misalnya 3 atau 4 tahun sebelum pensiun? Hitung-hitung sebagai bentuk apresiasi, karena pendapatan mereka akan semakin menurun dan mereka harus mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun,” cetusnya.
Reformasi Internal: Pangkas Disparitas Gaji Pejabat
Beralih ke urusan internal, Gubernur menyoroti struktur pengupahan di Indonesia yang dinilai masih memiliki jurang pemisah (disparitas) yang terlalu lebar antara pejabat struktural dan pekerja lapangan. Dampak dari ketimpangan ini membuat banyak pegawai enggan menjadi tim marketing di lapangan yang harus kepanasan dan kehujanan, dan lebih memilih mengejar jabatan struktural karena pekerjaannya lebih ringan namun bergaji besar.
Untuk bertransformasi menjadi bank modern, Gubernur menantang Bank BJB berani melakukan langkah radikal dengan memangkas gaji pejabat struktural dan mengalokasikannya untuk menaikkan pendapatan pegawai lapangan yang produktif.
“Berani memangkas gaji para pejabat BJB diturunkan, kemudian dinaikkan mereka yang bekerja loyal berdasarkan produksi. Baru dari situ orang akan menganggap bahwa kita tidak usah mengejar jabatan, tapi mengejar prestasi,” urainya.
Soroti Kasus Hukum Mantan Pegawai dan Kredit Macet Rp 24 Miliar
Kritik paling tajam dalam pidato tersebut mengarah pada aspek penegakan sanksi (punishment) bagi pegawai yang melakukan pelanggaran hukum. Gubernur membuka sebuah kasus hukum yang tengah menjadi perhatian publik terkait pembunuhan lima orang anggota keluarga di Indramayu, di mana salah satu tersangka utama yang terlibat adalah mantan pegawai Bank BJB Cabang Sumber bernama Aman Yani.
Gubernur mengungkapkan bahwa Aman Yani merupakan mantan pegawai yang terjerat kasus kredit macet senilai Rp 24 miliar dan diketahui menerima transfer ilegal dari nasabah sebesar Rp 700 juta. Namun, pada saat itu manajemen BJB tidak menempuh jalur pidana perbankan atau korupsi, melainkan hanya memberhentikannya secara terhormat hingga yang bersangkutan tetap mendapatkan hak dana pensiun sebesar Rp 600 juta.
“Pertanyaannya adalah, andai kata dulu BJB menghukum Aman Yani dengan pidana korupsi atau penyimpangan pengelolaan uang perbankan, Aman Yani mungkin masih ada (di penjara). Tapi karena BJB tidak memberikan hukuman, sekarang Aman Yani hilang tidak tahu ada tidak tahu tiada, dan uangnya dicairkan oleh pihak lain melalui kuasa hukum,” ungkap Gubernur.
Peristiwa ini dijadikan pelajaran keras agar manajemen Bank BJB bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap segala bentuk mismanajemen atau penyelewengan dana demi menjaga kepercayaan (trust) publik.
Efisiensi Anggaran Iklan dan Penguatan Alokasi CSR
Gubernur juga mendesak Bank BJB untuk memangkas biaya operasional yang tidak krusial dan mengembalikannya sebagai modal kerja. Ia sempat menyindir rekam jejak pengeluaran masa lalu, di mana terdapat alokasi anggaran iklan yang sangat besar mencapai Rp 420 miliar hingga Rp 450 miliar, padahal kebutuhan riilnya dinilai jauh di bawah angka tersebut.
Menurutnya, jika anggaran tersebut diefisienkan, dana tersebut bisa dikonversi menjadi modal kerja untuk menurunkan margin bunga kredit bagi masyarakat dan ASN golongan rendah, seperti petugas kebersihan dan penjaga sekolah.
Terkait dana Corporate Social Responsibility (CSR), Gubernur memandang instrumen tersebut sebagai komponen krusial penunjang pembangunan daerah. Dibandingkan hanya menyetorkan seluruh keuntungan ke kas daerah, optimalisasi dana CSR secara langsung di lapangan dinilai lebih efektif untuk membiayai program sosial seperti perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) bagi rakyat miskin, tanpa harus terus-menerus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menjaga Bank dari Intervensi Politik
Komitmen untuk menjaga profesionalisme perbankan ditunjukkan Gubernur dengan menjamin bahwa selama satu setengah tahun masa kepemimpinannya, ia tidak pernah mengintervensi kebijakan kredit Bank BJB untuk kepentingan politik atau kelompok tertentu.
Berdasarkan evaluasi historis, program-program ekonomi kerakyatan atau kredit kelompok (seperti kelompok tani atau peternak) yang diinisiasi lewat pendekatan atau garansi politik dari kepala daerah hampir seluruhnya berakhir dengan status kredit macet.
“Bank kalau melakukan pendekatan politik untuk menggunakan bank sebagai peminjam, dijamin macet. Kenapa? Karena yang diberi pinjamannya merasa bahwa ini garansi politik. ‘Saya dulu kan pernah dukung gubernur, hari ini saya buat pinjaman BJB lewat kelompok, tidak akan bayar.’ Makanya saya tidak mau masuk ke wilayah itu. Urusan BJB adalah urusan pengelolaan keuangan profesional,” tegasnya disambut riuh tepuk tangan.
Tantangan Digitalisasi dan Gengsi Layanan ATM BJB
Menutup bagian arahannya, Gubernur menantang Bank BJB untuk merombak total teknologi informasi (IT) dan kualitas layanannya agar mampu bersaing dengan bank-bank swasta nasional terkemuka. Ia menyentil fenomena di mana sebagian besar pegawai dan pejabat daerah, termasuk Komisaris dan Sekda, ditengarai memiliki lebih dari satu kartu ATM di dompetnya karena kartu ATM BJB dinilai belum cukup fleksibel dan bergengsi untuk keperluan transaksi harian dalam jumlah besar.
“Saya yakin pegawai BJB di sakunya ATM-nya bukan hanya BJB. Ini mah hanya untuk terima gaji Pak, yang satu lagi itu buat belanja. Artinya ATM Bapak tidak bergerak, uangnya tidak memutar karena tidak gengsi. Gimana caranya sekarang menciptakan kartu ATM yang ketika orang memegang itu merasa bangga,” cetusnya.
Gubernur berharap seiring berjalannya waktu, Bank BJB dapat terus berevolusi meningkatkan teknologi perbankan, menurunkan bunga pinjaman bagi sektor produktif, meningkatkan bunga simpanan bagi nasabah, serta menjadi bank terdepan yang kompetitif di tingkat nasional.
Penutup Manis: Lantunan “Isabella” dari Amy Search
Setelah penyampaian pidato dan rangkaian agenda formal selesai, suasana perayaan HUT BJB ke-65 berubah menjadi penuh kehangatan dan nostalgia. Musisi rock legendaris asal Malaysia, Amy Search, tampil ke atas panggung utama untuk menghibur para undangan.
Dengan suara melengkingnya yang khas dan karismatik, Amy membawakan lagu hit abadinya, “Isabella”. Seluruh hadirin, termasuk para nasabah prioritas dan jajaran pejabat yang sebelumnya menyimak arahan serius, tampak larut dalam lantunan lirik demi lirik lagu tersebut, menutup malam perayaan dengan penuh sukacita.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=p7o0i1vQM2g



