Polemik Guru BK Cukur Rambut 18 Siswi di Garut: KDM Turun Tangan, Dorong Rekonsiliasi dan Edukasi Estetika
GARUT – Kasus pemotongan rambut 18 siswi oleh seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di SMKN 2 Garut memicu perhatian publik setelah video mediasi antara pihak sekolah, siswi, dan Dedi Mulyadi (KDM) viral di media sosial. Insiden yang berawal dari teguran terkait penampilan siswi ini berakhir dengan langkah rekonsiliasi yang mengedepankan pendekatan humanis.
Dalam pertemuan tersebut, terungkap latar belakang psikologis dan administratif yang menyertai tindakan disiplin yang dianggap kontroversial itu.
Duduk Perkara: Antara Disiplin dan Penampilan Menor
Guru BK yang bersangkutan, yang telah mengabdi selama 26 tahun, menjelaskan bahwa tindakannya didasari oleh akumulasi keresahan pihak sekolah terhadap penampilan para siswi yang dinilai terlalu berlebihan (menor).
Meskipun para siswi tersebut dikenal rajin dan memiliki catatan akademis yang cukup baik, gaya riasan wajah serta pengecatan rambut dianggap melanggar etika kesopanan sekolah.
“Saya sering mendapat informasi dari berbagai pihak bahwa penampilan anak-anak yang rambutnya pirang di luar sekolah sering kali dipandang rendah oleh orang lain. Saya merasa sedih dan tertekan karena dianggap melakukan pembiaran,” ujar sang guru kepada KDM.
Kritik KDM terhadap Prosedur Pendisiplinan
KDM menyoroti prosedur yang dilakukan pihak sekolah sebelum eksekusi pemotongan rambut. Ia mempertanyakan apakah sekolah sudah memberikan surat teguran tertulis kepada orang tua atau belum. Guru BK mengakui bahwa prosedur surat menyurat tersebut belum maksimal dilakukan karena banyaknya jumlah siswi yang melakukan pelanggaran serupa.
“Ketika ada masalah penampilan, biasakan guru memberikan surat resmi kepada orang tua agar mereka juga tahu dan bisa membicarakannya di sekolah. Kita harus bertindak proporsional,” tegas KDM.
KDM juga mengingatkan bahwa jurusan broadcast tempat para siswi belajar memang memiliki kedekatan dengan dunia hiburan yang mungkin memengaruhi gaya penampilan mereka.
Dialog Estetika: Pilih Makeup Tebal atau Sekolah Gratis?’
Dalam sesi dialog dengan para siswi, KDM memberikan pemahaman baru mengenai biaya hidup dan estetika. KDM menjelaskan bahwa fasilitas sekolah gratis yang mereka nikmati dibiayai oleh pajak negara. Ia menyentil perilaku siswi yang membuang uang jajan hanya untuk mengecat rambut atau membeli skincare mahal di saat mereka masih mendapatkan fasilitas pendidikan gratis.
“Pilih mana: ke sekolah makeup tebal tapi harus bayar iuran bulanan yang mahal, atau makeup tipis alami tapi sekolahnya tetap gratis?” tanya KDM.
Para siswi pun serentak memilih opsi makeup tipis demi mempertahankan sekolah gratis. KDM menekankan bahwa kecantikan alami di usia sekolah jauh lebih berharga daripada riasan yang berlebihan.
Rekonsiliasi dan Solusi Akhir
Guru BK secara terbuka mengakui kesalahannya melakukan tindakan spontan tersebut saat kondisi psikologisnya sedang tidak stabil dan menyatakan permohonan maaf kepada para siswi.
KDM pun mengimbau agar para guru yang sedang mengalami masalah pribadi untuk mengambil waktu istirahat agar tidak melampiaskan kekesalan kepada anak didik.
Sebagai solusi untuk memulihkan kepercayaan diri para siswi yang rambutnya terlanjur dipotong pendek, KDM memfasilitasi mereka untuk merapikan rambut di salon profesional di Garut agar kembali tampil rapi dan bagus.
“Peristiwa hari ini biarlah menjadi pembelajaran. Saya doakan kalian sukses di bidang masing-masing. Tetaplah bersekolah dengan baik tanpa melakukan tindakan yang merugikan orang lain,” tutup KDM mengakhiri mediasi tersebut.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=AQJniUUmvq4



