Visi Baru Jawa Barat: Antara Idealisme Pengusaha, Transformasi Pendidikan, dan Ekonomi Berbasis Ekologi
SUBANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) memaparkan arah kebijakan strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat sektor industri, pariwisata, dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dalam pertemuan yang dihadiri para pelaku kawasan industri dan stakeholder pendidikan tersebut, KDM menekankan pentingnya sinergi antara birokrasi dan dunia usaha untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Membedakan Pengusaha, Pedagang, dan Bahaya “Politisi Calo”
Membuka pemaparannya, KDM memberikan definisi tajam mengenai karakter pelaku ekonomi. Menurutnya, pengusaha sejati adalah seorang ideolog yang memiliki visi jangka panjang dan tidak terjebak pada tampilan materi semata. Sebaliknya, pedagang cenderung bersifat transaksional dan kurang memperhatikan aspek lingkungan atau keberlanjutan.
Namun, peringatan keras diberikan KDM terkait fenomena “calo” dalam kekuasaan. “Calo paling bahaya adalah kalau jadi politisi, anggota DPRD, atau Gubernur. Mereka menggunakan kekuasaan untuk memotong mata rantai ekosistem ekonomi demi keuntungan pribadi,” tegasnya. Ia berkomitmen bahwa birokrasi di bawah kepemimpinannya tidak boleh menyusahkan pengusaha dan harus memangkas SOP yang tidak logis.
Transformasi Pendidikan: Menghapus Budaya “Anak Manja”
KDM menyoroti kelemahan kultural dalam pola asuh anak di Jawa Barat yang ia sebut sebagai budaya “nyaah dulang” atau terlalu memanjakan anak sehingga kehilangan daya juang. Ia mendorong orang tua untuk memberikan “kesulitan” pada anak agar mereka terlatih menyelesaikan masalah hidup.
Di sektor pendidikan formal, KDM menginstruksikan agar sekolah, khususnya SMA dan SMK, mulai menerapkan karakter disiplin industri sejak kelas satu. Pelajaran seperti Fisika, Matematika, dan Biologi harus diajarkan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menargetkan peningkatan jumlah siswa magang di kawasan industri. “Jangan hanya 100 orang, kalau bisa 400 atau 800 orang. Kita harus menciptakan kelas menengah baru dan manajer HRD dari putra daerah sendiri agar ekonomi berputar di Jawa Barat,” tambahnya.
Industri Berbasis Ekologi dan Pariwisata vs Pertambangan
Dalam hal visi ekonomi makro, KDM dengan tegas memilih pengembangan industri berbasis ekologi dan pariwisata dibandingkan sektor pertambangan. Menurutnya, pertambangan sering kali identik dengan konflik dan kerusakan lingkungan yang hanya menyisakan kemiskinan bagi warga lokal setelah sumber dayanya habis.
“Otak saya bukan otak penambangan, tapi otak industri dan pariwisata. Negara maju seperti Swiss atau Singapura tidak punya tambang hebat, tapi mereka punya kepercayaan dan infrastruktur yang luar biasa,” jelas KDM.
Konektivitas Infrastruktur sebagai Kunci Kemajuan
Sebagai penutup, KDM menekankan bahwa kemajuan Jawa Barat bergantung pada konektivitas infrastruktur yang indah dan tertata. Ia menargetkan seluruh jalur dari Bekasi hingga Pangandaran terkoneksi dengan baik untuk memudahkan distribusi ekonomi dan kunjungan wisata.
Ia juga mencontohkan penataan di wilayah Lembang dan Setiabudi yang kini bersih dari bangunan liar sebagai upaya menciptakan kenyamanan bagi investor dan warga. “Kunci kemajuan adalah punya banyak jalan. Dengan infrastruktur yang baik, investasi akan datang dan kebahagiaan masyarakat akan meningkat,” tutupnya.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=j459taMTL_k



