KDM SAMPAIKAN KULIAH UMUM DI SESKO TNI | INI FOKUS UTAMA PEMBAHASANNYA

Kang Dedi Mulyadi (KDM) memberikan kuliah umum di hadapan para perwira siswa dan pejabat utama Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI. Dalam pemaparannya, beliau menyoroti arah baru kepemimpinan nasional yang harus berpijak pada nilai-nilai kultural, filosofis, serta integrasi antara ideologi dan teknologi demi memperkuat pertahanan negara.

Kang Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan kepemimpinan yang lahir dari kejernihan hati dan rasa, bukan sekadar kepemimpinan administratif atau formalitas. Menurutnya, dalam kondisi negara yang genting, hanya pemimpin yang memiliki kedekatan batin dengan rakyat dan tanah airnya yang mampu membawa arah perubahan yang tepat. Beliau memandang TNI bukan sekadar organisasi teknokratis, melainkan lembaga yang tumbuh dari nurani rakyat dengan nilai historis dan ideologis yang mendalam.

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah konsep “Pertahanan adalah Kebudayaan”. Beliau menjelaskan bahwa kekuatan pertahanan Indonesia sejatinya terletak pada kelestarian alamnya. Hutan dan belantara merupakan benteng abadi yang tidak boleh dikhianati melalui eksploitasi berlebihan. KDM mengingatkan bahwa teknologi militer secanggih apa pun akan menjadi tidak berarti jika ideologi bangsa keropos dan lingkungan sebagai ruang pertahanan telah rusak. Kemunggalan TNI dengan rakyat dan alam dianggap sebagai doktrin utama yang harus dipertahankan.

Dalam perspektif pemerintahan, KDM menyoroti masalah disparitas atau kesenjangan yang masih mencolok, baik dari sisi penghasilan maupun fasilitas antara pusat dan daerah. Beliau berpendapat bahwa beban kerja terberat seringkali berada di pelosok atau perbatasan, namun kesejahteraan justru terkonsentrasi di pusat. Hal ini dipandang sebagai ancaman terhadap ketahanan nasional karena dapat melemahkan ikatan emosional dan kesetiaan kolektif terhadap negara.

Menutup kuliah umumnya, Kang Dedi Mulyadi menekankan pentingnya dialektika atau komunikasi yang jujur antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin diharapkan tidak menggunakan istilah-istilah rumit yang menjauhkan diri dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian dari mereka. Beliau juga mengajak para calon pemimpin TNI untuk memiliki jiwa patriotik yang berani mengambil risiko demi kepentingan masa depan, tanpa harus terjebak dalam pragmatisme politik atau sekadar mengejar popularitas di media sosial.

Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan cakrawala baru bagi para perwira Sesko TNI dalam memahami pertahanan negara secara holistik, yang mengintegrasikan kekuatan militer dengan kekuatan budaya dan kearifan lokal Nusantara.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=BCRtHZMJt-o