KDM di Pelantikan MUI Jabar: Ulama Harus Jadi Mata Air, Jangan Takut Kritik Pemerintah

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menghadiri prosesi pelantikan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat masa khidmat 2025-2030 di Bale Gede Pakuan, Bandung. Dalam pidatonya, pria yang akrab disapa Kang Dedi ini menyampaikan pesan mendalam mengenai peran strategis ulama dalam menjaga ekosistem alam dan moralitas bangsa di era digital.

Acara pelantikan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Wakil Ketua Umum MUI Pusat, jajaran Forkopimda Jawa Barat, serta ulama dari berbagai ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan Persis.

Kritik Terhadap Kerusakan Alam dan Ketimpangan Sosial

Dedi Mulyadi menyoroti fenomena “hilangnya kesakralan gunung” di Jawa Barat akibat keserakahan manusia. Ia menjelaskan filosofi masyarakat Sunda yang membagi hutan menjadi empat zona, namun kini batas-batas tersebut diterjang demi kepentingan ekonomi sesaat.

“Gunung yang seharusnya menjadi puncak spiritualitas kini tak lagi menjadi tempat bersandar (pananggeuhan). Kita melihat konflik agraria tak berujung, sementara buruh tani di kaki gunung hanya dibayar Rp 27.000 hingga Rp 30.000 per hari di tengah ancaman bencana yang tinggi,” ujar Dedi dengan nada prihatin.

Ia mengkritik keras para “saudagar sayur” dan korporasi besar yang mengeksploitasi lahan pegunungan tanpa memperhatikan dampak ekologis bagi generasi mendatang.

MUI Harus Independen dan Berani Mengeluarkan Fatwa Lingkungan

Dalam kesempatan tersebut, KDM menegaskan bahwa MUI harus tetap menjadi lembaga yang independen. Ia menyatakan bahwa besaran dana hibah yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak boleh membungkam daya kritis para ulama.

“Hibah itu bentuk kecintaan, bukan alat untuk menyandera kepentingan politik 2029 atau 2031. Lidah ulama harus tetap tajam untuk mendoakan dan mengingatkan kaum Thagut, mereka yang mempertuhankan kekayaan dan merampas hak rakyat atas air bersih dan oksigen,” tegasnya.

KDM juga mengusulkan terobosan baru bagi MUI untuk mengeluarkan fatwa terkait kesehatan dan lingkungan. Ia berharap MUI berani mengharamkan konsumsi makanan dengan zat kimia tinggi atau minuman dengan gula buatan yang mengancam kesehatan anak-anak, serta pencemaran udara yang melampaui batas.

Pesan Keteladanan di Era Digital

Dedi menutup pidatonya dengan menyoroti tantangan anak muda zaman sekarang yang mulai menjauh dari nilai peradaban karena hilangnya keteladanan dari para pemimpin dan tokoh masyarakat. Ia berharap MUI Jabar periode ini mampu menjadi “mata air” yang menerangi dan menuntun umat.

“Ingatkan kami ketika kami salah, dan jangan puji kami ketika kami menjalankan kewajiban. Pemimpin yang membangun rasa adil dan mengangkat derajat orang miskin itu memang kewajibannya, tidak perlu dipuji. Tapi harus dicaci manakala menyimpang dari sumpah jabatan,” pungkas KDM.

Pelantikan yang berlangsung khidmat ini juga diisi dengan ceramah kebudayaan dari KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) yang menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JY_CGme3FSY