KDM Pantau Longsor Cisarua: Bantah Faktor Alih Fungsi Lahan hingga Janji Relokasi 40 Unit Rumah

BANDUNG BARAT, KOMPAS.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan peninjauan intensif di lokasi bencana longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kunjungannya ini, KDM menyoroti perbedaan pandangan teknis mengenai penyebab longsor serta mematangkan rencana relokasi bagi warga terdampak.

Debat Penyebab Longsor: Alih Fungsi vs Morfologi

Berdasarkan keterangan dari Badan Geologi ESDM Anjar Heriwaseso, bencana longsor yang terjadi dipicu oleh faktor morfologi lereng yang sangat curam dan tanah gembur, diperparah dengan curah hujan ekstrem di atas 200 mm/hari. Anjar menyatakan bahwa alih fungsi lahan bukan menjadi penyebab utama bencana tersebut.

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi memiliki pandangan tersendiri. Meski secara geologis titik awal longsor mungkin bukan karena alih fungsi, namun dampak kerusakan di area bawah menjadi lebih parah karena ketiadaan pohon penahan yang kokoh.

Logikanya sederhana seperti lomba panjat pinang. Walau yang di atas turun, kalau yang di bawah kokoh menahan, dia tidak akan jatuh. Masalahnya di sini, di bawah sudah tidak ada lagi batuan kokoh, kayu, atau akar yang kuat untuk menahan material longsor,” ujar KDM di lokasi.

Relokasi dan Bantuan Finansial

KDM memastikan pemerintah provinsi akan segera melakukan relokasi bagi warga yang rumahnya hancur. Ia merencanakan pembangunan 40 unit rumah baru dengan desain konstruksi khusus pegunungan di lokasi yang lebih aman.

Terkait bantuan darurat, KDM menjelaskan bahwa bantuan Rp 10 juta telah disalurkan kepada 34 kepala keluarga (KK) terdampak langsung. Dana ini dimaksudkan sebagai biaya sewa kontrakan selama dua bulan agar warga tidak menumpuk di posko pengungsian yang berisiko menimbulkan stres. Selain itu, bantuan Rp 1 juta juga diberikan kepada 134 KK yang sempat mengungsi namun rumahnya masih kategori aman untuk kembali.

Santunan bagi Anggota Marinir dan Polri yang Gugur

Bencana ini juga menyisakan duka mendalam bagi institusi TNI dan Polri. KDM berkomitmen memberikan santunan sebesar Rp 25 juta per ahli waris bagi 23 anggota Marinir yang gugur saat bertugas/latihan di area tersebut.

Santunan serupa juga diberikan kepada keluarga dua anggota Babinkamtibmas dari Polres Cimahi yang meninggal dunia akibat kecelakaan saat menuju lokasi bencana. Secara khusus, KDM menyatakan akan menjadikan anak-anak anggota Polri tersebut sebagai anak asuhnya hingga jenjang kuliah.

Rencana Penghijauan dan Nasib Petani

Mengenai lahan seluas 355 hektar milik Perhutani dan 5 hektar milik rakyat di area rawan, KDM berencana melakukan penghijauan total dengan tanaman vegetasi bambu dan tanaman hutan.

Bagi warga yang selama ini menggarap lahan sayur di tanah Perhutani, KDM memastikan tidak akan memutus mata pencaharian mereka. Warga akan dilibatkan dalam proses penanaman pohon hutan dan buah, dengan skema upah harian sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 selama masa tumbuh tanaman.

“Kita tidak boleh hidup dalam kecemasan. Setiap hujan besar cemas, setiap musim hujan cemas. Kita harus kembalikan fungsi vegetasi agar masyarakat bisa tinggal dengan nyaman dan aman,” tegasnya.

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=zaiNXaf1stk