KDM Ajak Investor China Pindahkan Pabrik ke Jawa Barat, Targetkan Serap 3.000 Tenaga Kerja
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) melakukan langkah strategis untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi daerah dengan merayu investor asal China agar memindahkan basis produksinya ke Jawa Barat. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat di Gedung Pakuan, KDM menawarkan berbagai kemudahan, termasuk program pelatihan tenaga kerja pra-rekrutmen.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan perusahaan manufaktur teknologi raksasa yang saat ini tengah membangun pabrik di kawasan Arta Industrial Hill, Karawang. Perusahaan ini diketahui sebagai produsen alat tulis kantor (ATK), printer, mesin absensi, hingga kalkulator.
Komitmen Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
Dalam dialognya, pihak perusahaan menyampaikan rencana untuk mulai membangun industri secara resmi pada bulan Maret mendatang, tepat setelah hari raya Lebaran. Pabrik ini ditargetkan akan menyerap sekitar 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja lokal.
Dedi Mulyadi menekankan agar proses rekrutmen tidak menunggu hingga pabrik selesai dibangun pada tahun 2027. Ia mengusulkan skema “pra-rekrutmen” di mana anak-anak SMK dan SMA di sekitar kawasan industri Karawang dapat mengikuti pelatihan atau magang terlebih dahulu di pabrik sementara milik perusahaan yang saat ini berada di Bogor.
“Kita siapkan misalnya 1.500 orang, kemudian diberangkatkan ke Bogor untuk ikut magang selama satu tahun. Jadi ketika pabrik di Karawang berdiri, mereka sudah siap bekerja tanpa perlu pelatihan lagi dari nol,” ujar Dedi.
Ajak Pindahkan Basis Produksi dari Vietnam ke Jabar
Tidak hanya fokus pada pabrik di Karawang, KDM juga mencoba meyakinkan investor untuk memindahkan induk perusahaan mereka yang saat ini berada di Vietnam ke Jawa Barat. KDM menyoroti bahwa Indonesia, khususnya Jawa Barat, memiliki potensi besar untuk menjadi basis eksportir ke pasar Amerika Serikat dan Jepang.
Pihak investor sempat menyinggung bahwa biaya pengiriman dari Vietnam saat ini masih lebih murah karena volume pengiriman yang sangat besar dan adanya insentif pajak (tax holiday) dari pemerintah Vietnam. Namun, KDM menanggapi dengan menawarkan kebijakan yang lebih pro-rakyat.
Prinsip “Orang Bekerja Lebih Penting dari Pajak”
KDM menegaskan filosofi kepemimpinannya bahwa keberadaan lapangan kerja bagi masyarakat jauh lebih krusial dibandingkan sekadar mengejar pendapatan pajak negara. Ia menyatakan kesiapannya untuk mengusulkan insentif pajak bagi industri pionir asalkan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Bagi saya pajak itu penting, tapi orang bekerja jauh lebih penting. Lebih baik membebaskan perusahaan dari pajak, yang penting warga saya bekerja. Kalau warga bekerja, beban negara turun; tidak perlu lagi subsidi kesehatan atau BLT karena mereka sudah punya penghasilan,” tegas KDM.
Ia menambahkan bahwa dengan tumbuhnya industri, negara tidak perlu lagi terlalu bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang berisiko merusak lingkungan. Sumber daya alam justru bisa dialihfungsikan sebagai tempat rekreasi atau “healing” bagi para pekerja industri.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pihak investor dengan pemerintah daerah pada pekan depan untuk meresmikan kerja sama program magang dan penyerapan tenaga kerja tersebut.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=XH9oSZLEMq8



