TKI Asal Indramayu Alami Depresi Berat, Akhirnya Dirawat RS Jiwa Pemprov Jabar
INDRAMAYU – Seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Indramayu, Nurlela (Lela), yang baru saja kembali dari luar negeri, akhirnya mendapatkan penanganan medis intensif. Lela, yang diduga mengalami depresi berat dan trauma, kini telah dibawa untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Kondisi Pasien: Halusinasi dan Trauma Mendalam
Dalam pantauan medis awal di kediamannya, Lela mengaku sudah tidak bisa tidur sejak semalam karena merasa cemas akan keamanan barang-barangnya, terutama ijazah sekolah yang ia perjuangkan selama tiga tahun. Ia merasa khawatir ada orang yang akan mengacak-acak kamarnya karena ketiadaan pintu yang memadai.
Selain gangguan tidur, Lela mengungkapkan adanya halusinasi auditorik berupa suara-suara pria dan wanita yang berbisik-bisik, yang terkadang ia kenali dan terkadang asing. “Mereka berbisik-bisik, cuma kadang bicaranya tinggi juga,” tuturnya. Hal ini diperparah dengan trauma masa lalu di mana ia merasa pernah dikejar-kejar orang dan mengalami ancaman kekerasan seksual, meskipun hal itu belum sempat terjadi.
Analisis Medis dan Kesediaan Keluarga
Tim dokter dari Rumah Sakit Jiwa Pemprov Jabar, dipimpin oleh seorang psikiater, melakukan pemeriksaan langsung di lokasi. Berdasarkan observasi awal, dokter menyimpulkan bahwa Lela mengalami gangguan kejiwaan yang cukup signifikan sehingga memerlukan penanganan khusus di fasilitas medis.
“Ada beberapa gejala gangguan jiwa, kecemasan yang cukup besar, dan kesulitan tidur. Kami menyarankan untuk dilakukan rawat inap agar kondisinya stabil,” ujar dr. Reyhan, psikiater yang menangani Lela. Tim medis memperkirakan masa perawatan akan berlangsung sekitar satu hingga dua minggu hingga kondisi pasien benar-benar stabil untuk dipulangkan.
Meskipun awalnya sempat ragu, pihak keluarga, termasuk ayah Lela, akhirnya memberikan izin penuh demi kesembuhan sang anak. Ayah Lela mengungkapkan kesedihannya melihat kondisi putrinya yang sering mengamuk dan merusak barang sejak pulang dari Taiwan.
Intervensi Dedi Mulyadi dan Koordinasi Lintas Instansi
Penanganan ini juga melibatkan koordinasi langsung dengan Dedi Mulyadi. Melalui sambungan telepon dari Sumatera Utara, Dedi Mulyadi memberikan dukungan moral kepada keluarga dan menginstruksikan tim medis untuk segera membawa Lela ke rumah sakit. Dedi juga sempat memberikan pesan kepada ayah Lela agar fokus pada pengobatan matanya sendiri dan mengurus administrasi seperti SIM agar nantinya bisa kembali bekerja setelah urusan anaknya selesai.
Pemerintah desa setempat melalui Pak Kuwu dan puskesmas juga turut bersiaga untuk membantu transportasi pasien menggunakan ambulans menuju Bandung. Selain masalah kesehatan, pihak BP3MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) juga mulai mendalami adanya laporan terkait masalah gaji yang dialami Lela selama bekerja di Taiwan.
Lela, didampingi oleh ayahnya dan tim medis, bersedia dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Jiwa Pemprov Jabar . Segala kebutuhan administrasi seperti KTP, KK, dan kartu BPJS telah disiapkan untuk memperlancar proses perawatan di Bandung.
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=_OMZI3qiMoc



