BANDARA KERTAJATI SEPI | KDM USULKAN JADI PUSAT INDUSTRI PERTAHANAN DALAM NEGERI
MAJALENGKA – Persoalan sepinya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka terus menjadi sorotan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), secara tegas mengusulkan langkah revolusioner untuk menghidupkan kembali bandara yang kerap disebut sebagai “proyek mati” tersebut.
Bukan sekadar mengandalkan penerbangan komersial, KDM mengusulkan agar Kertajati diintegrasikan menjadi Pusat Industri Pertahanan Dalam Negeri. Hal ini disampaikan KDM dalam acara ground breaking Kawasan Aerospace Park Kertajati dan Hanggar Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, beserta jajaran Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dan juga jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Rabu (31/12/2025).
Menghidupkan Kertajati: Tugas Terberat Gubernur
Dalam pidatonya, KDM mengakui bahwa menghidupkan Bandara Kertajati adalah salah satu tantangan kepemimpinan terberat yang ia hadapi. Dibandingkan dengan menangani masalah tata ruang di Bekasi atau Karawang, menarik minat maskapai dan penumpang ke Kertajati memerlukan sinergi yang luar biasa besar antara pemerintah daerah dan pusat.
“Salah satu tugas saya sebagai gubernur yang perlu pemikiran, gagasan, lobi, dan kemampuan bicara dengan berbagai pihak adalah menghidupkan Kertajati. Ini menurut saya paling berat,” ujar KDM di hadapan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono serta Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy.
Relokasi PTDI dan Ekosistem Industri Pertahanan
Usulan paling mencolok yang dilontarkan KDM adalah pemindahan pusat industri pertahanan, seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dari Bandung ke kawasan Kertajati. Menurutnya, pemindahan ini secara ekonomi sangat menguntungkan karena perbedaan nilai aset tanah antara Bandung dan Majalengka sangat besar.
Selisih nilai tanah tersebut, lanjut KDM, bisa digunakan untuk biaya pembangunan fasilitas baru yang lebih modern tanpa harus membebani APBN secara berlebih. KDM berargumen bahwa keberadaan industri militer akan memberikan rasa aman dan daya tarik luar biasa bagi investor manufaktur lainnya.
- Keamanan: Pengusaha cenderung merasa lebih nyaman berinvestasi di kawasan yang terintegrasi dengan militer.
- Ekosistem Baru: Jika PTDI dan industri pertahanan masuk, maka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sekitarnya akan tumbuh secara otomatis.
Pusat Haji, Umrah, dan Konektivitas Kereta
Selain industri pertahanan, KDM menawarkan dua langkah konkret lainnya untuk memastikan Kertajati tidak lagi hanya menjadi tempat “bancakan” atau makan siang warga lokal di hari Minggu:
- Pusat Haji dan Umrah: KDM mendesak agar seluruh jamaah haji dan umrah asal Jawa Barat dipusatkan di Kertajati. Jika kebijakan ini sudah pasti, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen membangun asrama haji seluas 20 hektar di sekitar bandara.
- Aktivasi Jalur Kereta Api: KDM berencana melakukan lobi dengan PT KAI untuk mengaktifkan kembali atau membangun jalur kereta yang menghubungkan Kertajati dengan wilayah Cirebon dan sekitarnya (Kadipaten), guna mempermudah akses penumpang.
Optimisme Baru di Tahun 2026
KDM menyambut baik dimulainya penerbangan Garuda Indonesia untuk umrah pada awal Januari 2026 sebagai langkah awal. Baginya, fasilitas MRO yang baru saja di-ground breaking adalah jantung dari industri penerbangan yang akan menjaga kelaikan pesawat di Indonesia sebagai negara kepulauan.
“Kita harus optimis, tidak boleh pesimis. Bandara ini sudah terbangun dan menurut saya ini salah satu yang terbaik di Indonesia. Tinggal kemauan saja untuk mengintegrasikannya,” tutup KDM.
sumber : https://youtube.com/watch?v=gduCjeOe-S8



