SELALU MACET DI PUNCAK | INI LANGKAH KDM BANGUN JALUR PUNCAK 2
SUBANG – Kemacetan horor yang kerap melumpuhkan jalur Puncak, Bogor, setiap musim libur Lebaran dan Tahun Baru, menjadi perhatian serius Dedi Mulyadi (KDM). Dalam sebuah pertemuan strategis bersama pimpinan daerah se-Jawa Barat, KDM memaparkan langkah konkret pembangunan Jalur Puncak 2 sebagai solusi komprehensif untuk memecah kepadatan kendaraan sekaligus mendorong keadilan ekonomi di wilayah yang selama ini terisolasi.
Pembangunan proyek infrastruktur besar ini direncanakan menghubungkan lima kabupaten sekaligus, yakni Bogor, Cianjur, Karawang, Purwakarta, hingga Bandung Barat, dengan total estimasi anggaran mencapai Rp 2,6 triliun.
Integrasi Kawasan: Menembus Isolasi Ekonomi
KDM menegaskan bahwa Jalur Puncak 2 bukan sekadar jalan alternatif, melainkan poros ekonomi baru yang terintegrasi. Jalur ini akan menyusuri kaki Gunung Sanggabuana hingga melingkari Waduk Jatiluhur, kemudian tersambung ke wilayah Loji hingga Karawang Barat.
“Ide saya, Jalur Puncak 2 harus terintegrasi antara Bogor dengan Cianjur, Karawang, Purwakarta, hingga Bandung Barat. Ini untuk mendistribusikan rasa adil dan menghormati sejarah leluhur,” ujar KDM dalam dialog tersebut.
Targetnya, pembangunan ini mampu mengurangi beban kemacetan di jalur Puncak eksisting hingga 50 persen. Selama ini, ketimpangan ekonomi sangat terasa; jika jalur Puncak (kanan) sangat maju, wilayah Sukamakmur (kiri) justru memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Kabupaten Bogor meski memiliki potensi kopi dan wisata alam yang luar biasa.
Detail Teknis: Target 3 Tahun Rampung
Berdasarkan paparan Dinas Pekerjaan Umum, Jalur Puncak 2 akan membentang sepanjang 43,32 kilometer. Proyek ini terbagi dalam lima segmen, mulai dari Sentul hingga Cipanas. Rencananya, lebar jalan akan ditingkatkan menjadi 7 meter agar layak dilalui kendaraan besar dengan standar yang memadai.
KDM meminta agar proyek ini segera dilelang dan dilaksanakan secara multiyears.
– Estimasi Biaya: Sekitar Rp 800 miliar untuk pengerjaan ideal di wilayah Bogor, dan total Rp 2,6 triliun untuk konektivitas seluruh wilayah terdampak.
– Durasi Proyek: Ditargetkan selesai dalam 3 tahun agar tertata rapi, meski KDM berharap jalur tersebut sudah bisa “tembus” dan fungsional dalam satu tahun ke depan.
Komitmen Lingkungan: Sanggabuana Menuju Taman Nasional
Di tengah ambisi pembangunan jalan, KDM memberikan catatan keras mengenai kelestarian alam. Ia melarang keras perubahan tata ruang dari hutan menjadi area permukiman atau industri padat setelah jalan dibuka.
KDM justru mengusulkan agar status hutan Sanggabuana ditingkatkan menjadi Taman Nasional. Dengan demikian, segala aktivitas penambangan di sekitar wilayah tersebut harus dihentikan total.
“Hutan dan perkebunan tidak boleh berubah (fungsinya). Jangan sampai kita membuka jalan hanya untuk mempercepat kematian alam. Sanggabuana harus dilindungi,” tegasnya.
Kolaborasi Lintas Sektor
Keunikan dari proyek ini adalah skema pengerjaannya yang kolaboratif. KDM melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pihak pengembang (swasta) yang menghibahkan tanah, hingga keterlibatan TNI melalui program Karya Bakti untuk pembukaan lahan di medan yang sulit.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan instruksi KDM agar seluruh Kepala Dinas PU dari Bogor, Cianjur, Karawang, dan Purwakarta segera menyatukan desain dan rencana gambar dalam satu kesatuan rencana pembangunan Jawa Barat yang terputar sempurna.
sumber : https://www.youtube.com/watch?v=ymG-3mN23Tk



