KDM BINGUNG BATU DI GUNUNG PADANG MENANCAP RIBUAN TAHUN | KAGUMI TATA RUANG YANG DIBUAT LELUHUR

KAB.CIANJUR – Kekaguman mendalam menyertai langkah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), saat mengeksplorasi situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Dalam kunjungan yang bertujuan menginisiasi rekonstruksi situs tersebut, KDM  dibuat terperangah oleh kejeniusan tata ruang dan teknologi konstruksi leluhur yang mampu membuat batu-batu raksasa menancap kokoh selama ribuan tahun.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa situs ini bukan sekadar tumpukan batu alami, melainkan struktur bangunan sistematis yang dibangun dengan teknologi canggih pada zamannya.

Teknologi Konstruksi “Jepit Batu” yang Mengherankan

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah saat KDM mempertanyakan bagaimana batu-batu columnar jointing (batu kolom) bisa berdiri tegak dan bertahan selama ribuan tahun tanpa bantuan alat berat modern.
“Ieu make dana desa nancapkeun ieu kuat sabaraha bulan? Ieu geus ribuan tahun (Ini pakai dana desa menancapkan ini kuat berapa bulan? Ini sudah ribuan tahun),” kelakar KDM sambil mengagumi ketahanan struktur tersebut.

Peneliti menjelaskan bahwa leluhur menggunakan teknik “Jepit Batu”. Batu-batu tersebut diangkat menggunakan pengungkit bambu (awi), lalu bagian dasarnya dijepit oleh susunan batu lain di kanan-kirinya secara rapat. Tekanan dari berat batu-batu di sekitarnya pada tiap tingkatan (teras satu hingga lima) membuat formasi tersebut sangat stabil dan tidak mudah roboh.

Batu-batu ini awalnya merupakan bagian dari gunung batuan columnar jointing, mirip dengan yang ditemukan di Gunung Wayang. Leluhur kemudian menambang dan menyusunnya menjadi bangunan sistematis yang memiliki lima tingkatan atau bordes.

Kekaguman Kepada Tata Ruang Gunung Padang

Dedi Mulyadi memuji kehebatan tata ruang masa lalu yang ia nilai jauh lebih pintar daripada arsitektur modern yang sering kali mengabaikan aspek geologi demi uang.

“Pemilihan titik di sini itu tata ruang luar biasa hebat pintar, Pak, lebih pintar dari kita,” tegas KDM.

Ia mengkritik bagaimana saat ini bukit-bukit (pasir) dan lembah sering kali dirusak untuk pembangunan pemukiman atau industri hanya karena faktor suap atau komersial. Sebaliknya, leluhur memilih lokasi Gunung Padang sebagai pusat peradaban berdasarkan meditasi dan pemahaman mendalam tentang alam, sehingga tercipta “Hawa Murni” di lokasi tersebut.

KDM juga mengusulkan agar situs ini ditutup sementara untuk umum hingga proses rekonstruksi selesai. Hal ini diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat perilaku pengunjung yang tidak bertanggung jawab, seperti membuang sampah atau merusak susunan batu demi berswafoto.

Misteri Batu Bergores dan Simbol Belah Ketupat

Eksplorasi berlanjut ke area yang lebih sakral. Peneliti menunjukkan adanya batu bergores yang ditemukan di lereng timur dan teras lima. Goresan-goresan tajam berbentuk segitiga dan belah ketupat ini dipastikan bukan hasil erosi alami, melainkan dibuat oleh manusia menggunakan alat pada masa itu.

Meskipun belum bisa dipastikan apakah goresan tersebut merupakan aksara purba atau simbol tertentu, keberadaannya memperkuat bukti bahwa situs ini adalah pusat kebudayaan yang kompleks. Salah satu batu yang menonjol adalah Batu Tapak Maung, yang memiliki lekukan mirip telapak kaki harimau, yang diduga kuat sebagai hasil pahatan manusia.

Puncak kekaguman terjadi di teras lima, di mana terdapat simbol belah ketupat di puncak tertinggi, yang masih menjadi misteri dan bahan penelitian intensif para ahli.

Lapisan Peradaban: Dari 500 SM hingga 6.000 SM

Peneliti memaparkan hasil ekskavasi yang mengejutkan mengenai kedalaman struktur bangunan:

  • Kedalaman 0-2 meter: Ditemukan susunan batu columnar jointing dari periode sekitar 500 SM yang beratnya mencapai 2,3 ton per batu.
  • Kedalaman 4-11 meter: Setelah melewati lapisan tanah, ditemukan kembali struktur batu yang jauh lebih tua, diperkirakan berasal dari 6.000 SM.
  • Kedalaman 33-37 meter: Melalui proses pengeboran, ditemukan indikasi adanya lapisan budaya ketiga yang jauh lebih tua lagi.

Sebagai simbol komitmen pelestarian, Dedi Mulyadi bersama tim peneliti melakukan penegakan tiga batu menhir di teras lima. Langkah ini merupakan bagian dari upaya rekonstruksi untuk mengembalikan posisi batu ke tempat asalnya berdasarkan dokumen foto lama zaman Belanda dan tahun 1980-an.

sumber : https://youtube.com/watch?v=P22Bw-KDoG8