INI PENJELASAN PARA PENELITI GUNUNG PADANG | PENGUJIAN KARBON DILAKUKAN DI AS
CIANJUR – Situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, bukan sekadar warisan sejarah yang diselimuti kabut mistis, melainkan bukti nyata peradaban tinggi leluhur bangsa Indonesia. Penegasan ini disampaikan oleh sejumlah peneliti dan arkeolog saat menerima kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dalam rangka peletakan batu pertama rekonstruksi situs tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, para peneliti memaparkan hasil studi mendalam, termasuk data pengujian karbon yang dilakukan di Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa situs tersebut menyimpan lapisan-lapisan usia peradaban yang jauh lebih tua dari yang diperkirakan.
Menepis Mistik: Peradaban Berbasis Teknologi Tinggi
Dedi Mulyadi secara tegas meminta masyarakat Jawa Barat dan Indonesia untuk berhenti menghubungkan peninggalan masa lalu dengan mistik. Menurutnya, warisan seperti Gunung Padang harus dihubungkan dengan teknologi tinggi yang dimiliki leluhur pada masanya. Ia mencontohkan, proses pengangkatan batu-batu besar di situs tersebut pasti dilakukan menggunakan teknologi, bukan kekuatan gaib.
“Peninggalan masa lalu itu dihubungkan dengan teknologi. Bahwa leluhur kita pada abad itu sudah memiliki teknologi yang tinggi… Jadi ngangkat batu ini pakai orang, bukan pakai jin,” ujar KDM.
Ia juga mengkritik kegagalan sejarah di mana masyarakat tidak hanya meninggalkan peradaban berbasis pengetahuan leluhur, tetapi juga gagal beralih dari abad mistik ke abad rasional, melainkan jatuh ke abad barbar di mana undang-undang pun tidak ditaati.
KDM mendefinisikan “Gunung Padang” dalam kaidah Sunda sebagai puncak tertinggi dari sebuah peradaban (Gunung) di alam yang luas (Padang), mencerminkan cita-cita leluhur menuju puncak kesempurnaan dan kebahagiaan seluruh penghuninya.
Uji Karbon di Amerika Ungkap Usia 6.000 Tahun
Untuk menjawab keraguan dan kritisisme publik, peneliti dari tim ekskavasi menjelaskan secara rinci mengenai uji karbon yang dilakukan terhadap sampel dari Gunung Padang.
Hasil pengujian yang dikirim ke Beta Analytic Lab, Amerika Serikat (Beta Lab Analytical in America), menunjukkan adanya peradaban bertingkat di situs tersebut:
- Lapisan Permukaan (Unit 5): Bagian yang terlihat di permukaan diperkirakan berumur sekitar 500 tahun sebelum Masehi (SM).
- Lapisan Bawah (Unit 2): Di lapisan lebih dalam, ditemukan struktur yang jauh lebih tua, diperkirakan berumur 6.000 tahun.
Uji karbon ini dilakukan terhadap jejak karbon dari makhluk hidup yang mati, seperti sisa akar pohon atau jejak binatang yang ditemukan di antara sela-sela batu dan di dasar fondasi (tanah kerikil) lapisan Unit 2. Para peneliti menegaskan bahwa data ini membuktikan adanya peradaban lama yang kemudian diikuti oleh peradaban baru di lokasi yang sama.
Fungsi Situs: Pusat Ritual dan Ilmu Kosmologi
Para peneliti dan ahli geografi menjelaskan bahwa Gunung Padang memiliki fungsi multidimensi:
- Pusat Ritual dan Astronomi: Secara arsitektur, situs ini merupakan tempat ritual utama, tetapi juga berfungsi sebagai lokasi untuk mengamati benda-benda langit (klimatologi/astronomi). Pengamatan ini memungkinkan leluhur mengetahui kapan waktu yang tepat untuk bertani dan bercocok tanam.
- Kesatuan Ilmu Pengetahuan: Dedi Mulyadi menegaskan, leluhur menggabungkan ilmu pengetahuan menjadi satu kesatuan: pemahaman kosmologi, spiritualitas (meditasi), astronomi, dan geologi adalah bagian dari satu ritual.
- Topopilia (Tempat Paling Aman): Ahli geografi, Dr. Taqiyuddin, menambahkan bahwa situs ini dipilih sebagai tempat yang paling aman, sebuah konsep yang disebut topopilia atau tempat penyempurnaan paling sempurna. Lokasinya yang relatif aman dari ancaman Gunung Api di utara dan patahan di sekitarnya menjadi pilihan leluhur sebagai tempat hidup yang aman dan menerus.
Rencana Rekonstruksi dan Pemugaran
KDM menegaskan komitmen Pemprov Jawa Barat untuk ikut bertanggung jawab penuh dalam merekonstruksi Gunung Padang bersama pemerintah pusat (Kementerian) dan Kabupaten Cianjur.
Arsitek yang terlibat dalam pemugaran menjelaskan bahwa rekonstruksi yang akan dilakukan tidak akan mengubah bentuk umum situs. Fokus pemugaran adalah menegakkan batu-batu yang miring agar wujud utamanya terlihat. Hal ini dilakukan karena tidak ada referensi bentuk asli yang ditinggalkan oleh peradaban terdahulu.
KDM juga mendorong agar jalan masuk menuju situs dilebarkan dan diambil alih menjadi jalan provinsi untuk memudahkan akses, serta membangun kawasan parkir yang terintegrasi dengan museum di sekitar situs.
Sumber: https://youtu.be/LYpYIBPMJFc?si=UMp8WpHRSUy6uqam



