Jawa Barat Diterjang Rob, Longsor, dan Banjir: Gubernur Beberkan Penyebab Utama dan Fokus Penanganan Tahun 2026

Bandung — Sejumlah bencana melanda berbagai wilayah di Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir, mulai dari rob di daerah Mayangan, longsor di Cisalak, hingga banjir dan sawah terendam di Kabupaten Bandung serta Bandung Barat.

Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan laporan lengkap penanganan dan langkah strategis pemerintah provinsi dalam video yang di upload di akun media sosial @dedimulyadioffcial.

Dalam video tersebut, Kang Dedi memulai dengan memastikan bahwa rob di Mayangan, Subang, kini telah surut. Menurutnya, kejadian tersebut merupakan fenomena rutin ketika air laut berada pada posisi pasang tinggi.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Bupati Subang untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan,” ujarnya.

Rumah Terbawa Arus di Cisalak, Warga Diungsikan

Bencana lain terjadi di daerah Cisalak, di mana empat rumah terbawa arus akibat longsor. Seluruh warga telah diungsikan ke tempat aman. Pemerintah memastikan bahwa rumah-rumah yang rusak akan diganti dan direlokasi, mengingat wilayah tersebut merupakan kawasan rawan longsor dengan kondisi tanah yang labil serta hutan yang tidak lagi stabil.

Sawah Terendam di Bandung Barat, Petani Alami Kerugian

Di Kabupaten Bandung Barat, sawah-sawah terendam banjir akibat meluapnya sungai. Peristiwa ini menyebabkan kerugian bagi para pemilik sawah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen membantu pemulihan lahan dan mendukung para petani yang terdampak.

Banjir di Kabupaten Bandung, Gubernur Soroti Alih Fungsi Lahan

Banjir juga terjadi di berbagai titik di Kabupaten Bandung. KDM menegaskan bahwa alih fungsi lahan di Ciwidey dan Pangalengan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya arus air saat hujan.

Ia menyoroti praktik penebangan pohon dan penggantian perkebunan teh menjadi perkebunan sayur yang menyebabkan kerusakan ekosistem.
“Saya ingatkan, ini dampak dari apa yang dilakukan saudara-saudara,” tegasnya.

Termasuk pula perusakan hutan seluas 160 hektare yang baru-baru ini terungkap. Dedi berharap para pelaku segera ditangkap.

Ia juga meminta penghentian pendirian kawasan rekreasi dan bangunan—baik resmi maupun tidak resmi—yang mengubah daerah resapan air menjadi permukiman dan area bisnis.

Masyarakat Masih Tinggal di Daerah Aliran Sungai

Gubernur menyoroti fakta bahwa masih banyak warga yang tinggal di sepadan sungai dan daerah aliran sungai (DAS). Ketika debit air meningkat, wilayah tersebut langsung terdampak banjir besar.

Fokus Pemerintah Tahun 2026: Penataan Bandung Raya dan Hulu Sungai

Setelah menyelesaikan penanganan banjir di Karawang, Bekasi, Kota Bekasi, dan sebagian Bogor, Dedi menegaskan bahwa tahun 2026 pemerintah provinsi akan fokus melakukan penataan besar-besaran di Bandung dan sekitarnya.

Ia mengakui penataan ini akan menimbulkan reaksi dan perlawanan dari berbagai pihak, terutama pada musim kemarau. Namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut harus dilakukan demi penanganan banjir yang komprehensif.

Program besar yang akan dilaksanakan meliputi:

* Normalisasi dan pengerukan sungai
* Perubahan tata ruang wilayah rawan banjir
* Reboisasi di kawasan pegunungan
* Pembangunan cekungan dan danau kecil yang telah berubah menjadi permukiman

BPBD Jawa Barat Siap Bertugas

Segala upaya ini akan dibarengi dengan dukungan penuh dari BPBD Provinsi Jawa Barat, yang disebutnya telah siap melakukan distribusi logistik dan memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

“Kami supporting seluruh kebutuhan masyarakat. Terima kasih,” tutup Gubernur.

sumber : https://www.tiktok.com/@dedimulyadiofficial/video/7580142395350715656