KDM BIKIN PARA CEO BAHAGIA SAAT SAMPAIKAN ARAH PENGEMBANGAN KAWASAN REBANA
KOTA BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pidato visi yang disambut hangat para CEO dan investor dalam acara pengembangan Kawasan Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati). KDM tidak hanya memaparkan rencana teknis, tetapi juga menawarkan reformasi fundamental dalam tata kelola investasi, termasuk jaminan keamanan dari gangguan premanisme dan efisiensi birokrasi yang cepat.
Kunjungan KDM ke pertemuan tersebut, yang diwarnai suasana gembira, menegaskan komitmennya untuk menghapus tiga “sumbatan” kronis yang selama ini menjadi momok bagi para pengusaha di Indonesia.
Jaminan Keamanan Mutlak: Intervensi Pasukan Khusus
KDM mengakui bahwa gangguan dari preman, ormas, dan LSM di lapangan adalah masalah nyata yang menaikkan biaya dan menimbulkan stres. Masalah ini, mulai dari tuntutan jatah pasokan material hingga limbah, tidak dapat diselesaikan hanya dengan jalur negosiasi formal.
“Kalau investasi di kita ini stres, Pak, capek, rumit. Jangankan pengusaha, saya Gubernur saja kalau jadi pengusaha enggak mau pusing,” ujar KDM.
Sebagai solusi, KDM menjanjikan Kehadiran Negara (State Presence) yang tegas:
– Tim Perlindungan Bersenjata: KDM akan membentuk tim gabungan yang terdiri dari unsur Brimob, Marinir, dan Kopassus. Tim ini akan berposisi di kantor pelayanan investasi regional, siap bergerak di bawah komando Gubernur.
– Kecepatan Respon: KDM menekankan bahwa tim bersenjata ini akan langsung turun begitu ada laporan gangguan. “Orang Indonesia itu bisa dikendalikan… apalagi jawaban asal konsisten,” tegas KDM, merujuk pada keberhasilannya menertibkan pertambangan ilegal di Parung Panjang.
KDM menutup bagian ini dengan gurauan yang memecah tawa hadirin, namun mengandung pesan serius tentang komitmennya: “Kalau investasinya di Jawa Barat dijamin aman, kenapa? Karena ada gubernur yang duda 24 jam standby.”
Reformasi Birokrasi: Memotong Alur Perizinan
KDM mengkritik bahwa birokrat di Indonesia cenderung fokus pada narasi prosedural (titik koma) daripada fakta teknis, membuat perizinan menjadi lambat dan mahal. Ia mengusulkan perombakan sistem perizinan agar tidak lagi menjadi sumber korupsi dan ketidakpastian.
– Sistem Alarm Perizinan: KDM berencana mengintegrasikan sistem perizinan dengan sistem informasi yang terhubung ke perangkatnya. Jika ada perizinan yang tertahan lebih dari tiga hari, sebuah alarm akan berbunyi di handphone Gubernur. Alarm ini berfungsi sebagai sinyal bagi tim pengawasan khusus untuk langsung turun dan mengkoordinasikan di mana letak masalahnya.
– Peran Konsultan: KDM bahkan mengusulkan agar konsultan Amdal dan konsultan teknis lainnya diminta berkantor di pusat layanan investasi untuk mempermudah koordinasi dan memutus mata rantai birokrasi yang memakan biaya.
Filosofi Kepemimpinan: Intuisi di Atas Intelektual
Di awal pidatonya, KDM memaparkan filosofi kepemimpinannya yang dinilai menarik oleh para CEO. Ia membedakan antara pintar dan cerdas.
– Pemimpin Cerdas: KDM menegaskan bahwa pemimpin harus cerdas (memiliki IEQ, EQ, dan SQ), bukan sekadar pintar. Orang pintar cukup bekerja di bank atau menjadi staf teknis. Pemimpin harus mampu membaca fenomena dan tanda-tanda (tanda-tanda) untuk mengambil keputusan intuitif yang tepat.
– Kritik Birokrat: KDM mengkritik keras birokrat yang memiliki karakter sudra (hanya mementingkan perut) namun berada di kasta satria (pengelola kekuasaan), sehingga mudah tergoda uang dan manipulasi dalam rapat.
Visi Ekonomi Berkeadilan: Pajak Kembali ke Wilayah Industri
KDM menyoroti anomali sosial di mana perusahaan membayar pajak dalam jumlah besar ke negara (dapat mencapai Rp124 miliar per tahun), namun warga di sekitar pabrik tetap miskin, kekurangan air, dan terpaksa melakukan aksi gangguan.
Dana Pajak Harus Dibalikkan: KDM berjanji akan menggunakan daya tawarnya kepada pemerintah pusat untuk memastikan dana pajak dari pengusaha dikembalikan dan dimanfaatkan untuk tiga hal:
1. Infrastruktur: Membangun dan mengkoneksikan jalan, tol, dan drainase di wilayah industri.
2. Penyediaan Kebutuhan Dasar: Jaringan air bersih dan penanganan bencana.
3. Menciptakan Kelas Menengah Baru: Melalui program seperti Sekolah Manajer, KDM ingin anak-anak lokal yang bekerja sebagai security atau office boy dididik menjadi tenaga manajerial berpenghasilan tinggi, sehingga mereka bisa mempekerjakan asisten rumah tangga dan driver, yang kemudian akan menggerakkan ekonomi bawah.
KDM menyimpulkan, tujuannya adalah menciptakan keseimbangan: “Kelas menengah [pembayar pajak] harus dijaga dan didorong tumbuh, sedangkan kelas bawah harus disubsidi.” Dengan demikian, konflik antara borjuis (pengusaha) dan proletar (buruh/rakyat) dapat diredam karena keduanya saling membutuhkan dan diuntungkan oleh kehadiran industri.



