INI ALASAN PERUSAHAAN – MENGAMBIL SUMBER AIR MINERAL NGEBOR DARI DALAM TANAH PEGUNUNGAN
KOTA BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), bertemu langsung dengan perwakilan pabrik air mineral PT Tirta Investama (Aqua) untuk mengklarifikasi kontroversi seputar sumber air yang digunakan. KDM, yang juga mengaku sebagai konsumen setia, mempertanyakan narasi iklan “air pegunungan” yang selama ini dipahami publik sebagai air permukaan atau air terjun, padahal air yang diproduksi diambil melalui pengeboran dalam tanah.
Dalam dialog tersebut, terungkap alasan ilmiah dan teknis mengapa perusahaan memilih metode pengeboran air tanah yang dalam (groundwater) alih-alih mengambil air dari mata air permukaan (spring water). KDM menekankan bahwa penjelasan ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara pikiran konsumen dan fakta geologi.
LOGIKA IKLAN VS. BUKTI ILMIAH: AIR PEGUNUNGAN
KDM memulai diskusi dengan mengonfirmasi pemahaman publik: iklan yang menggambarkan air yang jatuh dari gunung (air terjun) membuat konsumen berpikir air ditampung dan diolah. Namun, faktanya air diambil dari dalam tanah.
Perwakilan perusahaan dan ahli hidrogeologi, Pak Azwar, menjelaskan bahwa klaim “air pegunungan” sudah dibuktikan secara ilmiah, sesuai standar BPOM:
Sidik Jari Air: Air yang diambil adalah air pegunungan yang terbukti melalui kajian hidro-isotop (sidik jari air, menggunakan deuterium dan oksigen 18) yang bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Asal-Usul Air: Kajian tersebut membuktikan air yang diekstraksi berasal dari air hujan yang meresap di lereng timur laut Gunung Tangkuban Parahu pada ketinggian tertentu.
Definisi Geologi: Secara definisi, mata air dikategorikan sebagai air permukaan (diatur PUPR), sedangkan air yang diambil dari dalam lapisan bumi melalui pengeboran dikategorikan sebagai air tanah (diatur Badan Geologi).
ALASAN TEKNIS: JAMINAN HIGIENITAS JAUH LEBIH BAIK
Alasan utama perusahaan beralih dari mata air permukaan (yang sempat digunakan pertama kali, sumber satu) ke pengeboran dalam adalah masalah kualitas dan keamanan.
1. Proteksi dari Kontaminasi: Air diambil dari confined aquifer, yaitu lapisan air di bawah lapisan kedap (lapisan kedap), yang bertindak sebagai pelindung alami dari pencemaran.
“Yang punya kedalaman 30 meter dan 100 meter itu lebih aman dari kerentanan dari kontaminasi. Artinya bahwa air yang di bawah tanah yang di bor itu jauh lebih terjamin higienitasnya dibanding yang di permukaan,” tegas ahli perusahaan.
2. Teknik Pengeboran Khusus: Untuk memastikan tidak ada pencampuran air dangkal yang rentan pencemaran dengan air dalam, perusahaan menggunakan teknik pressurized grouting (penyuntikan semen bertekanan) selama pengeboran untuk mengembalikan kekedapan lapisan tanah.
DAMPAK EKSTRAKSI & KOMITMEN KDM
KDM juga mengajukan pertanyaan kritis mewakili kekhawatiran masyarakat, yakni potensi pergeseran tanah dan dampak terhadap ketersediaan air sungai/irigasi.
Risiko Pergeseran Tanah: Perusahaan menyatakan bahwa berdasarkan studi yang dilakukan bersama Badan Geologi (terkait longsor), hingga saat ini belum ada korelasi atau potensi pergeseran tanah yang diakibatkan oleh eksploitasi air.
Ketersediaan Air Warga: KDM menanyakan apakah pengambilan air bawah tanah berdampak pada debit air untuk sawah dan kolam masyarakat. Hasil kajian neraca air yang dilakukan selama lebih dari satu tahun menunjukkan bahwa air hujan yang jatuh, meresap, dan mengalir ke sungai masih surplus.
“Sampai saat ini dari data yang neraca kita punya itu itu enggak ada, tidak ada pengaruhnya karena masih surplus,” jawab perwakilan perusahaan.
Komitmen KDM untuk Pemerintah: Di tengah diskusi, KDM menyoroti kelemahan manajemen pemerintah daerah:
“Pajak air diambil, tapi masyarakat sekitar enggak dikasih air, airnya ngambil dari sawah. Kan ini fakta,” kritik KDM.
KDM menegaskan komitmennya untuk mereformasi manajemen pemerintah: pajak air yang ditarik harus dialokasikan untuk tiga hal utama: distribusi air ke masyarakat sekitar, infrastruktur jalan, dan penghijauan (reboisasi). KDM sebelumnya telah mengambil langkah untuk mereformasi logistik perusahaan, beralih dari truk overload ke mobil sumbu dua, demi keamanan dan kenyamanan jalan.



