SEKDA YAKINKAN DANA YANG TERSEDIA DI KASDA HANYA 2,4 T | KDM : KALAU BOHONG SAYA BERHENTIKAN
BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menggelar pertemuan dengan jajaran pejabat keuangan daerah termasuk Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda), Herman Suryatman, Mantan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jawa Barat, Nanin Hayani, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Kepala Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Jawa Barat, Asep Supriatna, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jawa Barat saat ini, Norman Nugraha dan Direktur Utama (Dirut) Bank BJB, Yusuf Saadudin untuk mengklarifikasi isu sensitif mengenai dana daerah yang tersimpan di Bank.
Pertemuan ini menanggapi isu nasional dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebutkan adanya dana daerah sebesar Rp 4,1 Triliun yang tersimpan, bukan dibelanjakan. KDM menuntut kejujuran mutlak dari para pejabat dan mengancam pemecatan jika ditemukan adanya kebohongan atau manipulasi data.
Klarifikasi Saldo RKUD yang Sesungguhnya
KDM mendesak penjelasan langsung mengenai uang di Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Jawa Barat. KDM menjelaskan filosofi kepemimpinannya yang berlawanan dengan tradisi lama: kas daerah harus habis dibelanjakan untuk pembangunan, bukan disimpan sebagai dana cadangan (SILPA) atau deposito untuk mendapatkan bunga.
Para pejabat keuangan kemudian memberikan klarifikasi serentak. Berdasarkan data resmi RKUD per 17 Oktober, dana yang tersimpan di Bank Jabar sebagai rekening kas pemerintah provinsi adalah Rp 2,4 Triliun, bukan Rp 4,1 Triliun seperti yang dirilis Kementerian Keuangan. Mereka juga meyakinkan KDM bahwa Pemprov Jabar tidak pernah menyimpan uang dalam bentuk deposito di luar Bank Jabar.
“Berdasarkan data di kami di RKUD Pak, rekening kas umum daerah, per tanggal 17 itu ada 2,4 Pak Triliun,” tegas Sekda Jabar, Herman Suryatman.
Setelah mendapat jawaban tersebut, KDM langsung melayangkan ultimatum keras kepada seluruh pejabat yang hadir. Ia menuntut kejujuran 100% dan menegaskan bahwa ia akan segera memverifikasi data tersebut ke Bank Sentral/Bank Indonesia.
“Sekda, kalau bohong kamu saya berhentikan. Siap. Tapi ini enggak main-main nih, ini integritas Pak,” ancam Dedi Mulyadi kepada Sekda. KDM bahkan menjanjikan surat pemberhentian esok hari jika ditemukan adanya dana yang disembunyikan.
Strategi “Minus” dan Anti-SILPA KDM
Dalam sesi diskusi keuangan, KDM menjelaskan strategi manajemen anggarannya. KDM secara tegas menyatakan bahwa ia lebih memilih menjadi “tukang belanja untuk pembangunan daripada tukang menabung untuk dapat bunga”.
Ia menginstruksikan jajarannya untuk membelanjakan semua anggaran secara agresif dan progresif, menghindari adanya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) yang tinggi di akhir tahun. Untuk mencapai hal ini, KDM menawarkan strategi ekstrem, yaitu membuat target belanja lebih tinggi daripada pendapatan yang sudah pasti tercapai. Logika KDM: lebih baik membuat anggaran terlihat minus (defisit) agar semua dana terserap, daripada menggunakan nomenklatur hukum yang rumit dan membuat uang menyeberang (tidak terpakai) ke tahun anggaran berikutnya.
Pejabat BPKAD kemudian memaparkan bahwa dengan total kewajiban belanja yang harus dibayar hingga Desember mencapai Rp 7,6 Triliun, sementara potensi pendapatan yang akan masuk mencapai sekitar Rp 10,2 Triliun, anggaran Pemprov Jabar sebenarnya aman dan sanggup menanggung semua kewajiban pembangunan. KDM pun mendesak agar sisa anggaran segera digunakan untuk lelang proyek tambahan (hotmix jalan) dan bantuan untuk rakyat miskin.
Poin-Poin Utama Sidak Keuangan
- Isu Dana Tersimpan: KDM mengklarifikasi tudingan Menteri Keuangan mengenai adanya dana Pemprov Jabar sebesar Rp 4,1 Triliun yang disimpan di bank.
- Klarifikasi Pejabat: Sekda dan BPKAD meyakinkan KDM bahwa saldo riil di RKUD per 17 Oktober hanya Rp 2,4 Triliun.
- Ancaman Pemecatan: KDM mengancam akan memberhentikan Sekda dan pejabat terkait jika data Bank Sentral/Bank Indonesia menunjukkan adanya uang Rp 4,1 Triliun yang disembunyikan.
- Filosofi KDM: KDM menegaskan ia lebih suka menjadi “tukang belanja untuk pembangunan” daripada “tukang menabung untuk dapat bunga”.
- Strategi Anggaran: KDM menginstruksikan penggunaan strategi anggaran tanpa SILPA tinggi, bahkan menyarankan membuat anggaran terlihat minus (defisit) agar semua dana terserap habis untuk belanja.
- Komitmen Belanja: KDM mendorong agar sisa anggaran segera digunakan untuk membiayai proyek tambahan seperti hotmix jalan dan bantuan rumah rakyat miskin sebelum akhir tahun.



