HADIRI DIES NATALIS UPI | INI YANG DISAMPAIKAN KDM – BICARA PEMUJAAN PENGETAHUAN
Bandung – Dalam sambutannya di Dies Natalis UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Kang Dedi Mulyadi (KDM) pertama-tama memberikan apresiasi sekaligus kritik ringan. Ia menyebut UPI (yang merupakan transformasi dari IKIP) telah “melanggar garis takdir” asalnya sebagai pencetak guru, dengan melahirkan banyak tokoh sukses seperti menteri, wakil ketua DPR, hingga wakil gubernur. Ia berkelakar bahwa para lulusan yang “melanggar takdir” ini biasanya adalah mahasiswa yang dulu dianggap nakal, yang menurutnya seringkali lebih sukses daripada yang terlalu patuh.
KDM kemudian menyinggung ironi jurang produktivitas antara kalangan terdidik dan pekerja keras. Ia membandingkan “orang pintar” (akademisi) yang kurang pekerjaan, dengan “orang bodoh” (seperti tukang sapu, kuli, petani) yang sangat produktif. Ia menegaskan bahwa orang-orang yang dianggap bodoh inilah yang memastikan orang pintar bisa duduk dan makan nasi di meja.
KDM mencontohkan para peracik sambal di rumah makan. Mereka bekerja bukan dengan pikiran akademik, melainkan dengan “rasa, cinta, dan keikhlasan”. Hasil karya mereka tidak pernah ribut soal hak cipta (HAKI), karena dilepaskan untuk dinikmati semua orang. KDM menyatakan, pengetahuan harus diciptakan untuk kemanusiaan, keadilan, dan kemakmuran, bukan untuk memperkaya diri.
Ketika pengetahuan dikapitalisasi menjadi hak cipta, di situlah lahir kapitalisme, hegemoni, dan akhirnya perang. KDM menekankan bahwa kita harus menghentikan “Pemuja Pengetahuan.” Menurutnya, jika pengetahuan dipuja, ia akan disembah dan disejajarkan dengan Tuhan.
KDM berpendapat bahwa yang diperlukan adalah menjadikan pengetahuan di dalamnya terdapat illa (tujuan atau maksud Tuhan). Dengan demikian, pengetahuan bergerak dari kebenaran yang relatif menuju kebenaran yang mutlak. KDM juga menyoroti bahwa Guru Besar (Resi) harus memiliki watak air yang independen dan objektif dalam setiap ucapan dan tindakan, tidak terikat oleh urusan jabatan atau politik.
KDM setuju dengan gelar akademik (ia sendiri berpendidikan S3), namun ia mengkritik budaya di mana gelar menjadi tujuan. Ketika gelar menjadi tujuan, setiap orang mengejarnya tanpa memperhatikan esensi, manfaat, atau etika. Fenomena ini terlihat di pemerintahan, di mana banyak birokrat lebih banyak sekolah dibanding bekerja, sementara publik memerlukan solusi taktis dan teknis.
KDM menyerukan agar UPI mengembalikan jati dirinya sebagai “Bumi Siliwangi”. Filosofi Siliwangi (silih asah, silih asih, silih asuh) dan prinsip Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer) harus menjadi dasar pembentukan karakter. KDM menyayangkan mengapa pendidikan di Indonesia lebih banyak berkutat pada filsafat Romawi, Yunani, atau Prancis, padahal leluhur kita meletakkan filosofi dasar yang kuat.
Dalam konteks pendidikan, KDM mempertanyakan orientasi Fakultas Kedokteran. Jika orientasinya adalah pengobatan (treatment), maka ia telah masuk pada kapitalisme industri farmasi dan alat kesehatan. KDM mempertanyakan di mana letak “roh ketuhanan” ketika seorang dokter memberikan resep mahal yang justru memberatkan penderita. Fakultas kedokteran, menurut KDM, harus lebih berorientasi pada pencegahan.
KDM menawarkan sintesa pendidikan yang memadukan intelektual, emosional, dan spiritual. Ia berpendapat bahwa kultur orang Indonesia, khususnya Sunda, memiliki kekuatan bukan pada budaya membaca, melainkan mendengar dan melihat (otodidak). Oleh karena itu, KDM menyarankan agar kurikulum perguruan tinggi, khususnya UPI, mengintegrasikan nilai-nilai kedisiplinan dan spiritualitas dari sistem pendidikan Pesantren.
KDM menutup pidatonya dengan falsafah bambu (Awi) yang melambangkan pendidikan paripurna. Bambu memiliki filosofi “Congo nyuruk kana buku, ka luhur sirungan ka handap akaran”. Artinya, seorang akademisi harus memiliki pikiran yang tembus ke langit, namun kakinya harus berpijak di bumi (masyarakat). KDM berharap UPI bisa menjadi yang terdepan dengan mengombinasikan teknokrasi masa depan dengan filosofi dasar leluhur.
Poin-Poin Utama
- Pemujanaan Pengetahuan: Kita tidak boleh memuja atau menyembah pengetahuan; pengetahuan harus disandarkan pada illa (tujuan Ketuhanan) untuk mencapai kebenaran mutlak.
- Kapitalisasi Ilmu: Ketika pengetahuan dikapitalisasi (dijadikan hak cipta), ia melahirkan kapitalisme, hegemoni, dan perang, menyimpang dari tujuan aslinya untuk kemanusiaan.
- Peran Resi (Guru Besar): Akademisi harus menjadi Resi (ulama/sarjana) yang objektif dan independen, tidak terikat oleh struktur politik atau jabatan, sesuai filosofi gurat air.
- Kritik Gelar: Mengejar gelar akademik (Doktor) sebagai tujuan, bukan esensi atau manfaatnya, mengabaikan etika dan menciptakan masalah di birokrasi.
- Bumi Siliwangi: UPI harus mengembalikan peradaban dengan mengintegrasikan filosofi lokal Sunda, seperti silih asa, silih asih, silih asuh dan Panca Waluya, daripada hanya berpatokan pada filsafat Barat.
- Fokus Medis: Fakultas Kedokteran harus fokus pada pencegahan (prevention), bukan hanya pengobatan (treatment), yang berisiko mendukung kapitalisme industri farmasi.
- Kultur Belajar: Kekuatan kultur Indonesia (Sunda) ada pada mendengar dan melihat (observasi dan otodidak), bukan hanya membaca. Pendidikan harus menyatukan kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual (IEQ/EQ/SQ).
- Filosofi Bambu (Awi): Filsafat bambu melambangkan insan akademik yang ideal: “Pikiran tembus ke langit, kaki berpijak di bumi” (ka luhur sirungan ka handap akaran).
- Kesenjangan Produktivitas: Orang yang dianggap “bodoh” (buruh/petani) adalah orang yang produktif karena bekerja dengan rasa, cinta, dan keikhlasan, sementara orang pintar sibuk berdebat metodologi.
- UPI Melanggar Takdir: UPI berhasil melanggar “garis takdir” IKIP yang hanya mencetak guru, dengan melahirkan banyak pemimpin sukses yang berani melanggar aturan.



