Kang Dedi Mulyadi Tegaskan Filosofi “Abdi Nagri”: ASN Harus Mengabdi dengan Rasa, Bukan Jabatan

BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan pidato reflektif di hadapan seluruhAparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Jawa Barat, menandai delapan bulan kepemimpinannya. Dalam pidato tersebut, KDM memperkenalkan filosofi kepemimpinan baru yang mengubah cara pandang birokrasi terhadap pengabdian, kekuasaan, dan pembangunan.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sekadar ingin memimpin pemerintahan, melainkan mengembalikan makna sejati pengabdian ASN sebagai pelayan negara dan rakyat, bukan sekadar aparatur administratif.

Filosofi “Abdi Nagri” dan Kemanunggalan

KDM mengajak seluruh ASN untuk kembali pada nilai luhur “Abdi Nagri”, istilah yang diambil dari bahasa Sunda yang berarti pelayan negeri. Ia menilai istilah “ASN” terlalu kering dari makna spiritual dan sosial.

“Kata Abdi bukan berarti budak, tetapi bentuk pengabdian total. Secara teologis kepada Allah, dan secara sosiologis kepada rakyat. Rakyat adalah tuan, kita adalah pelayan,” ujar KDM.

Filosofi ini menuntut ASN untuk memiliki totalitas dan kesatuan hati dalam bekerja — meleburkan ego pribadi dan menjadikan diri bagian utuh dari negara. Dari sinilah lahir konsep kemanunggalan, yaitu kesatuan antara pikiran, rasa, dan tindakan dalam pelayanan publik.

Lebih lanjut, KDM menegaskan pentingnya pembangunan berbasis rasa, terinspirasi dari nilai-nilai peradaban Pajajaran dan ajaran Prabu Siliwangi, yang menempatkan rasa atau empati sebagai fondasi peradaban.

“Pembangunan tidak cukup dengan logika dan data, tetapi harus ditata berdasarkan rasa, bergerak bersama semesta menuju Tuhan,” ungkapnya.

KDM juga menyoroti pentingnya kesatuan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam. Menurutnya, orang beriman adalah mereka yang digerakkan oleh empati — membantu sesama, menjaga alam, dan merawat sungai.

Birokrasi Baru dan Kepercayaan Publik Sebagai Modal

Dalam kesempatan yang sama, KDM meminta maaf kepada seluruh ASN atas perubahan total pola pikir dan tata kelola pemerintahan di lingkup Pemprov Jabar. Ia menegaskan, perubahan ini lahir dari perjalanan spiritual dan kemanusiaannya, bukan semata strategi politik.

Salah satu konsep baru yang ia dorong adalah “algoritma publik tanpa biaya”, yakni kekuatan narasi publik dan kepercayaan masyarakat yang bergerak alami tanpa dana promosi besar, buzzer, atau konsultan media.

“Jawa Barat bisa viral bukan karena uang, tapi karena empati rakyat. Kesadaran kolektif ini adalah kekuatan sejati,” jelas KDM.

Ia menyebuttingkat kepercayaan publik terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencapai 97,4%, yang menurutnya menjadi modal kerja paling berharga dibanding anggaran apa pun.

Nasihat Keuangan: “ASN Harus Punya Aset, Bukan Hanya Rekening”

KDM juga memberikan nasihat keuangan yang berakar dari pengalaman hidupnya. Ia menekankan bahwa keyakinan adalah kunci utama dalam mengelola keuangan, seperti yang dicontohkan oleh ibunya semasa kecil.

ASN, kata KDM, harus terus berjuang dan tidak berpuas diri — bahkan jika perlu berutang untuk aset produktif seperti tanah atau rumah, karena aset memiliki nilai jangka panjang.

“Uang di rekening itu tidur, tapi tanah akan terus tumbuh nilainya. ASN harus hidup gagah setelah pensiun,” ujarnya.

KDM menutup pidatonya dengan ajakan bagi seluruh ASN Jawa Barat untuk kembali pada semangat pengabdian sejati — menjadi abdi nagri yang tidak hanya menjalankan administrasi, tetapi juga menyalakan rasa kemanusiaan dan cinta tanah air dalam setiap kebijakan.

“Negeri ini akan kuat jika kita menyatukan pikiran, rasa, dan tindakan. ASN bukan alat birokrasi, tapi ruh pengabdian bagi rakyat dan negara,” pungkasnya.