DULU BERAS PERELEK KINI KENCLENG SAREBU | KAMPUNG BEBAS MALING WARGA SAKIT TERBANTU

Kang Dedi Mulyadi (KDM) melakukan kunjungan pada malam hari untuk menyaksikan tradisi unik yang telah mengakar di sebuah kampung, yaitu “penagihan sumbangan sapoe” atau iuran harian. Tradisi ini, yang sudah berlangsung sejak KDM kecil hingga saat ini, merupakan wujud nyata kemandirian masyarakat dalam menyediakan jaring pengaman sosial internal. KDM menemukan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar mengumpulkan uang, tetapi telah menjadi tulang punggung bagi keamanan dan kesejahteraan warga.

Tradisi iuran harian ini ternyata telah berlangsung selama kurang lebih delapan tahun. Dahulu, warga menyumbang dalam bentuk “perelek” (beras). Namun, seiring perkembangan zaman, sistem ini bertransformasi menjadi iuran uang tunai yang disebut “Kencleng Sarebu”, di mana setiap rumah secara sadar dan sukarela menyumbang Rp 1.000 per hari. KDM mencatat bahwa sumbangan ini bersifat sukarela, bergantung pada kesadaran masing-masing warga, tanpa adanya paksaan.

Iuran harian ini dikumpulkan oleh para sesepuh atau “aki-aki” kampung yang bertugas secara bergantian. Dalam kunjungannya, KDM menemukan bahwa pengumpulan dana ini diatur ketat berdasarkan wilayah Rukun Tetangga (RT). Setiap tim pengumpul dari satu RT, seperti RT 11, tidak dapat menyeberang atau mengambil iuran di wilayah RT lain, menunjukkan adanya pembagian kewenangan yang jelas dalam manajemen kas kampung.

Meskipun sumbangan per hari hanya Rp 1.000, KDM terkejut mengetahui besarnya dana kas yang telah terkumpul. Pemegang kas mengonfirmasi bahwa dana yang berhasil dihimpun telah mencapai Rp 7 juta lebih, dan uang tersebut disimpan di bank untuk menjamin keamanan. Dana yang besar ini menjadi bukti betapa efektifnya gotong royong kecil secara konsisten dalam menciptakan kekuatan finansial komunitas.

Dana Kencleng Sarebu ini dimanfaatkan secara langsung untuk membantu warga yang tertimpa musibah. Bagi warga yang sakit dan dirawat di rumah sakit, mereka diberikan santunan sebesar Rp 200.000 yang digunakan sebagai uang saku, bekal, atau ongkos bagi keluarga yang menjaga. Sementara itu, untuk warga yang meninggal dunia, keluarganya akan menerima bantuan uang duka sebesar Rp 200.000 hingga Rp 300.000, tergantung kondisi kas.

Selain fungsi sosial, dana kas digunakan untuk kebutuhan publik. Uang tersebut dimanfaatkan untuk pengadaan inventaris seperti bangku untuk musyawarah warga, serta membiayai perbaikan dan pemeliharaan lingkungan. Secara mengejutkan, dana Kencleng Sarebu juga digunakan untuk membayar listrik KWH umum di jalan-jalan kampung dan sawah, yang menghabiskan sekitar Rp 50.000 per bulan.

KDM juga mengonfirmasi bahwa selain iuran, kampung ini memiliki sistem keamanan yang sangat baik dengan adanya ronda malam yang aktif dan berjalan secara bergilir. Di sisi lain, KDM menyoroti dedikasi para pengurus kampung, termasuk Ketua RT yang mengurus dana jutaan rupiah ini. Diketahui, honor bulanan Ketua RT dari desa sangat kecil, hanya Rp 3 juta per tahun, menunjukkan bahwa semangat melayani adalah motivasi utama mereka.

KDM menyimpulkan bahwa dari hal yang sederhana seperti iuran seribu rupiah per hari, masyarakat mampu menciptakan solusi holistik atas berbagai masalah, mulai dari biaya jajan saat sakit hingga urusan penerangan jalan. Dengan sistem ini, warga setempat tidak perlu lagi meminta sumbangan kepada pihak luar, menegaskan keberhasilan model kemandirian dan gotong royong yang kuat di kampung tersebut.

Poin-Poin Utama

  • Nama Tradisi: Iuran harian yang dikenal sebagai “Kencleng Sarebu” (sebelumnya Perelek Beras).
  • Mekanisme: Sumbangan Rp 1.000 per hari per rumah, dilakukan secara sukarela.
  • Durasi: Telah berlangsung selama 8 tahun.
  • *Dana Kas:*Kas yang terkumpul saat ini mencapai Rp 7 juta lebih dan disimpan di bank.
  • Bantuan Sakit: Warga yang sakit (dirawat) diberikan santunan Rp 200.000 sebagai uang saku atau biaya tunggu keluarga.
  • Bantuan Duka: Keluarga yang meninggal diberikan uang duka sebesar Rp 200.000 – Rp 300.000.
  • Infrastruktur: Dana digunakan untuk pengerasan jalan, membeli inventaris (bangku), dan membayar listrik KWH umum (lampu jalan sawah).
  • Keamanan: Kampung memiliki sistem ronda malam yang aktif dan berjalan secara bergilir.
  • Pengabdian RT: Ketua RT bekerja tanpa gaji dari desa (hanya Rp 3 juta per tahun), menunjukkan dedikasi tinggi.