KDM Beri Solusi Total di Balai Pananggeuhan: Jerat Utang, Penipuan Daring, Jaminan Kesehatan Anak, hingga Tawaran Kontrak Kerja PJU
Balai Pananggeuhan, posko aduan yang dipimpin oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM), kembali menjadi saksi bisu berbagai masalah yang menghimpit rakyat. Dalam sesi kali ini, KDM berinteraksi langsung dengan warga yang menghadapi krisis mulai dari jeratan utang bank, penipuan online, hingga persoalan kesehatan anak yang terabaikan. KDM secara tegas memisahkan mana masalah yang harus ditanggung negara dan mana yang harus diselesaikan oleh warga itu sendiri.
Warga pertama yang mengadu adalah seorang ibu dari Ciwastra, Kota Bandung. Ia datang dengan kisah pahit mengenai jaminan kesehatan keluarganya. Akibat suaminya kena PHK, iuran BPJS Kesehatan mereka menunggak hingga Rp 1.120.000. Keterlambatan ini bukan sekadar angka, melainkan berdampak nyata, bahkan sempat menyebabkan anak pertamanya terkena malapraktik saat sunat, meskipun tunggakan tersebut akhirnya berhasil diselesaikan setelah pengaduan sebelumnya.
Segera setelah aduan tersebut, KDM menerima pengaduan lain dari seorang ibu yang mengeluhkan masalah ekonomi lainnya, yaitu bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) yang tidak kunjung cair selama kurang lebih satu tahun. Saat didalami oleh KDM, terungkap fakta yang mengejutkan: dana PKH yang seharusnya untuk kebutuhan konsumsi ternyata pernah dialokasikan untuk membayar cicilan utang bank BRI sebesar Rp 10 juta, yang dipinjam untuk modal dagang kecil.
KDM melayangkan kritik pedas terhadap tindakan warga ini, menyebutnya sebagai “ngarawu ku siku” sebuah peribahasa Sunda yang berarti mengambil risiko atau melakukan sesuatu di luar batas kemampuan finansial. KDM menyoroti bahwa banyak kesusahan muncul karena warga meminjam uang bank dalam jumlah besar (Rp10 juta) untuk modal dagang kecil, sehingga bantuan sosial pun akhirnya tersedot untuk melunasi utang. KDM menekankan, utang yang melebihi kemampuan ini adalah masalah yang diciptakan sendiri.
Sesi aduan berlanjut dengan kedatangan seorang bapak dari Rembang, Jawa Tengah, yang melakukan perjalanan jauh untuk mengadukan kasus penipuan online. Bapak ini menjadi korban kerugian sebesar Rp 28.770.000. Penipu menggunakan nama tokoh publik, John LBF, dan bahkan melakukan video call yang diyakini KDM menggunakan teknologi AI (kecerdasan buatan). Modus penipuan ini adalah iming-iming penebusan sepeda motor murah dan pengurusan surat kendaraan, namun terus meminta transfer uang dengan berbagai alasan, seperti kendala tilang.
KDM menegaskan bahwa penipuan daring adalah ranah lapor polisi (Tim Siber Mabes Polri), bukan urusan Balai Pananggeuhan. Namun, KDM menunjukkan empati atas perjalanan jauh korban dari Rembang. KDM memberikan uang saku sebagai “ibadah sosial” agar bapak tersebut memiliki bekal yang cukup untuk kembali ke Jawa Tengah.
Kasus paling mendesak datang dari seorang bapak dari Cianjur, yang mengadukan kondisi anaknya yang menderita penyakit serius, yaitu liver dan TB (Tuberculosis). Anak tersebut sudah berstatus rawat jalan dari RS Welas Asih.
Masalah utama yang dihadapi bapak ini bukanlah biaya medis (yang dapat ditanggung), melainkan biaya non-medis: ongkos konsultasi rutin ke rumah sakit yang mencapai Rp100.000 sekali jalan. Ketiadaan biaya transport ini menghambat kesembuhan anak, yang juga diperparah oleh kondisi ekonomi bapak tersebut yang juga mengidap penyakit gula.
KDM segera mengambil alih tanggung jawab. Ia menyatakan bahwa kesehatan anak adalah tanggung jawabnya sebagai Gubernur. KDM menjanjikan pemberian uang saku Rp 2 juta untuk biaya konsultasi dan akan menjamin pemenuhan kebutuhan gizi anak selama satu tahun penuh melalui transfer bulanan. KDM juga akan memanggil dokter anak untuk memeriksa kondisi anak langsung di Balai Pananggeuhan.
Untuk mengatasi kemiskinan sang bapak, KDM menawarkan solusi pekerjaan berkelanjutan. Setelah mengetahui bapak tersebut memiliki keahlian sebagai kontraktor instalasi listrik, KDM menawarkan posisi sebagai tenaga kerja kontrak khusus untuk menangani jaringan PJU (Penerangan Jalan Umum) di bawah Dinas Perhubungan, memberikan harapan untuk penghasilan bulanan yang stabil.
KDM juga menerima aduan dari seorang ibu yang terjerat utang bank Rp10 juta karena ditipu oleh ibu dan adiknya sendiri saat akan membeli motor untuk berdagang. Meskipun KDM tidak dapat membayar hutang, ia menawarkan bantuan pengacara gratis dari tim hukumnya untuk mendampingi ibu tersebut menghadapi bank dan mencari keadilan dari penipuan yang dilakukan keluarganya.
Masalah lain yang diangkat adalah tunggakan biaya sekolah swasta untuk menebus ijazah sebesar Rp 6.200.000. KDM merespons dengan memastikan bahwa Pemprov Jabar telah menyiapkan anggaran untuk beasiswa pendidikan gratis di sekolah swasta bagi masyarakat miskin di tahun 2026.
KDM menutup sesi dengan pesan tegas tentang kemandirian: “Kesehatan anak Bapak tanggung jawab saya… kehidupan Bapak untuk cari makan tanggung jawab Bapak”. KDM meminta warga untuk berhenti mengeluh dan berimajinasi ingin mendapat sesuatu secara instan, melainkan harus fokus pada usaha yang berkelanjutan dan logis.
Balai Pananggeuhan membuktikan fungsinya sebagai pusat intervensi sosial yang holistik. Melalui KDM, warga tidak hanya mendapatkan bantuan dana, tetapi juga solusi jangka panjang, mulai dari jaminan kesehatan, peluang kerja, hingga pendampingan hukum gratis, demi mengatasi kesulitan yang bersifat struktural dan pribadi.
Poin-Poin Utama: KDM Tangani Aduan di Balai Pananggeuhan
- Kasus Ibu Ciwastra (Tunggakan BPJS)
– Akar Masalah: Suami PHK, menyebabkan tunggakan BPJS (sebesar Rp 1.120.000), berdampak pada malapraktik anak. - Kasus Ibu Lain (PKH & Jeratan Utang)
– PKH Seret: Bantuan PKH tidak cair selama 1 tahun karena dana sebelumnya dipakai untuk membayar cicilan utang bank BRI Rp 10 juta. - – Kritik KDM: Perilaku “ngarawu ku siku” (mengambil utang melebihi kemampuan) sebagai masalah yang diciptakan diri sendiri.
- Kasus Bapak Rembang (Penipuan Online)
– Asal & Kerugian: Dari Rembang, Jawa Tengah, tertipu Rp 28.770.000.
– Modus: Penipuan yang mengatasnamakan John LBF menggunakan video call AI.
– Intervensi KDM: Memberi uang saku transport Rp 500.000 dan menyarankan lapor polisi. - Kasus Bapak Cianjur (Krisis Kesehatan Anak & Pekerjaan)
– Kondisi Anak: Menderita penyakit serius liver dan TB.
– Kendala: Tidak punya biaya ongkos konsultasi rutin (Rp 100.000 sekali jalan).
– Solusi Kesehatan KDM:
– Menyatakan kesehatan anak adalah tanggung jawabnya.
– Memberi uang saku Rp 2 juta dan menjamin kebutuhan gizi selama 1 tahun.
– Solusi Pekerjaan KDM: Menawarkan pekerjaan sebagai tenaga kerja kontrak khusus instalasi listrik PJU. - Kasus Tambahan & Prinsip KDM
– Bantuan Hukum: Menawarkan pengacara gratis untuk ibu yang tertipu saudara dan terjerat utang bank Rp 10 juta.
– Pendidikan: Merespons ijazah tertahan (Rp 6,2 juta) dengan rencana beasiswa pendidikan gratis di sekolah swasta bagi warga miskin (mulai 2026).
– Filosofi KDM: Kesehatan anak adalah tanggung jawab Gubernur, mencari nafkah adalah tanggung jawab Bapak; ajakan untuk berhenti mengeluh dan fokus pada usaha.



