Gubernur Jawa Barat Sampaikan Pesan Kebahagiaan dan Kemanusiaan dalam Peringatan 50 Tahun HKBP
BANDUNG — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghadiri perayaan ulang tahun ke-50 Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan menyampaikan sejumlah pesan moral yang sarat nilai budaya, toleransi, dan kemanusiaan.
Pidato Gubernur diawali dengan sapaan khas daerah, yaitu “Sampurasun” yang mencerminkan budaya Sunda, serta “Horas” yang menjadi salam khas masyarakat Batak — menandakan semangat persaudaraan dan penghormatan terhadap keberagaman.
Spirit dan Karakter Masyarakat Batak
Dalam sambutannya, Gubernur Dedi Mulyadi menyoroti sejumlah karakter positif masyarakat Batak dan jemaat HKBP. Menurutnya, orang Batak dikenal memiliki semangat kerja keras dan kegembiraan hidup yang tinggi.
“Orang Batak itu selalu punya spirit pesta dan kerja keras. Mereka tidak boleh hidup miskin, karena harus mampu berbagi dan mengundang kerabat dalam acara seperti pernikahan atau pemakaman,” ujar Gubernur.
Selain itu, masyarakat HKBP dinilai memiliki keseimbangan antara nilai religius dan budaya lokal. Musik gereja yang diiringi instrumen tradisional seperti Sarune dan Taganing menjadi bukti bahwa masyarakat Batak mampu memadukan keimanan dengan identitas budaya.
“Musik Batak yang riang mencerminkan karakter mereka yang selalu bahagia dan tidak mudah larut dalam kesedihan,” tambahnya.
Dedi Mulyadi juga menyoroti kuatnya jati diri masyarakat Batak yang tercermin dari sistem marga. Ia bahkan mengusulkan agar masyarakat Sunda memiliki sistem serupa untuk menjaga identitas keluarga dan leluhur.
“Mungkin ke depan kita bisa belajar dari itu. Misalnya, Dedi Mulyadi, anaknya Mulyadi Putra, dan seterusnya,” tuturnya.
Tentang Kebahagiaan dan Toleransi
Gubernur Dedi Mulyadi menekankan bahwa kebahagiaan merupakan kunci untuk menjaga kedamaian dan menghindari perpecahan.
“Orang yang cara berpikirnya berorientasi pada kebahagiaan tidak akan menciptakan pertikaian. Orang yang suka mempermasalahkan perbedaan adalah orang yang tidak bahagia,” ucapnya.
Ia juga menyinggung karakter masyarakat Batak yang dikenal berbicara dengan nada tinggi namun berhati tulus.
“Kalau orang Batak bicara keras, jangan langsung dianggap marah. Hati mereka ‘rinto’, lembut dan jujur — wajahnya Rambo, hatinya Rinto,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Dedi juga menyoroti peran penting perempuan Batak dalam rumah tangga. Menurutnya, laki-laki Batak yang gagah dan kuat justru hidupnya mapan karena seluruh pengelolaan keuangan dipercayakan kepada istri.
“Karena uangnya sudah diamankan istri, biaya kenakalan jadi tidak ada,” selorohnya dengan nada humoris.
Sementara itu, Gubernur menilai masyarakat Sunda merupakan suku paling toleran terhadap perbedaan, namun memiliki kelemahan dalam hal keterbukaan.
“Orang Sunda itu sangat toleran dan terbuka terhadap perbedaan, tapi sering defensif dan tidak berterus terang, sehingga mudah terdominasi,” jelasnya.
Kepemimpinan dan Pesan Universal
Dalam bagian akhir pidatonya, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya kepemimpinan yang terbuka, jujur, dan berpihak pada kemanusiaan. Ia menyebut gaya kepemimpinannya berbeda dengan pola tradisional Sunda yang cenderung tertutup.
“Bahasa yang saya gunakan dalam kepemimpinan dan media sosial adalah bahasa universal, bahasa kemanusiaan — bukan sekadar bahasa suku,” tegasnya.
Ia menambahkan, inti ajaran agama adalah menyelesaikan masalah masyarakat kecil, seperti orang miskin, anak yatim, dan kelompok lemah.
“Para nabi diutus untuk melawan pemimpin yang tidak adil dan orang kaya yang kikir,” ungkapnya.
Menurutnya, keadilan sosial harus diwujudkan melalui transparansi penggunaan uang negara serta perlakuan setara antara pengusaha dan pekerja.
“Orang kaya harus memposisikan pegawai dan buruh setara, misalnya makan bersama dan mendengarkan keluh kesah mereka,” katanya.
HKBP dan Semangat Kebahagiaan
Mengakhiri pidatonya, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa meskipun cara beribadah setiap umat berbeda, namun semua manusia memiliki rumah spiritual yang sama, yaitu hati yang dipenuhi cinta kasih.
“Tuhan tidak menilai dari baju, jas, atau sepatu mahal, melainkan dari keimanan dan ketulusan terhadap sesama manusia,” tuturnya.
Ia menutup sambutannya dengan ucapan selamat ulang tahun ke-50 untuk HKBP, seraya berharap agar jemaat selalu dilimpahi kebahagiaan dan semangat persaudaraan.



