PAK YAI MIM BANTAH SEMUA TUDUHAN YANG DISAMPAIKAN | MINTA KDM BERKUNJUNG KE MALANG
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), mengirim utusannya ke Malang untuk menemui Kiai Mim guna mengklarifikasi serangkaian tuduhan yang sempat dilontarkan oleh seorang wanita bernama Sahara di media sosial. Tuduhan tersebut, yang mencakup isu moral hingga penyebaran video pribadi, telah menjadi perbincangan publik dan menimbulkan citra negatif.
Dalam pertemuan yang dilakukan melalui sambungan video tersebut, Kiai Mim menyambut baik inisiatif KDM dan langsung membantah semua tuduhan yang diarahkan kepadanya, sembari menyampaikan filosofi dan perspektifnya mengenai kondisi sosial dan politik.
Kiai Mim memulai percakapan dengan memuji KDM, menyebutnya sebagai “resi yang menjelma menjadi raja” (Batara Kresna) yang fokus mengurus rakyat dan negara, menepis segala label negatif yang disematkan padanya seperti “gubernur konten”. Ia juga meluruskan penggunaan uang yang diberikan KDM.
Uang tunai sebesar Rp3 juta yang sempat ia terima langsung dibagikan habis kepada masyarakat di stasiun kereta api dan pasar. Sementara itu, dari hadiah Rp10 juta yang diberikan KDM kepada istrinya, Kiai Mim mengaku mengambil Rp5 juta untuk nyawer (memberi tip) dan mendukung komunitas keroncong rock and roll miliknya, meski hal ini sempat menimbulkan perselisihan dengan sang istri.
Tuduhan paling serius terkait pelecehan atau menggoda Sahara dibantah keras oleh Kiai Mim. Ia menggunakan identitasnya sebagai seorang Hafidzul Quran (penghafal Al-Quran 30 Juz) sebagai perisai, menyatakan bahwa ia tidak akan mengambil risiko melakukan niat buruk karena takut hafalan Qurannya akan hilang. Sebaliknya, Kiai Mim balik mengkritik Sahara, menyoroti pakaiannya yang ia sebut “kasiatun ‘ariatun” (berbaju tapi telanjang/ketat) dan kebiasaannya memakai parfum secara berlebihan yang tercium hingga ratusan meter, yang ia sebut sebagai pemicu bahaya dan pikiran negatif.
Kiai Mim juga memberikan klarifikasi mengenai video pribadinya bersama sang istri yang tersebar di media sosial. Ia menjelaskan bahwa video tersebut bocor setelah Sahara mengambil alih kedua ponselnya untuk jangka waktu sekitar satu bulan (total 30 hari) dengan alasan memperbaiki atau mempercepat kinerja ponsel.
Kiai Mim menduga Sahara atau anak buahnya mentransfer data pribadinya, termasuk video tersebut, selama ponselnya berada dalam penguasaan mereka. Ia juga bersumpah tidak pernah mengirimkan chattingan yang berbau cabul kepada Sahara, menegaskan bahwa jika ada pesan seperti itu, kemungkinan besar berasal dari Sahara yang mengakses ponselnya.
Meskipun terlihat ceria dan penuh humor, Kiai Mim mengakui bahwa tuduhan sebagai “Kiai Cabul” membuatnya menangis secara diam-diam dan sangat menyakitkan. Untuk mengatasi tekanan dan potensi bahaya dari pihak yang ingin menjatuhkannya, ia memilih menggunakan humor, candaan, dan bertindak layaknya “orang gila” sebagai mekanisme koping (coping mechanism) untuk memecah konsentrasi orang-orang tersebut. Ia membandingkan kesabaran (sobru) seperti lautan yang dalam yang memiliki batas, dan jika batas itu dilewati, lautan kesabaran itu sendiri yang akan menggulung.
Menutup sesi klarifikasi, Kiai Mim berharap agar konflik dengan tetangganya bisa diselesaikan. Ia menyampaikan harapan agar KDM dapat berkunjung ke Malang untuk bersilaturahmi. Kiai Mim percaya bahwa pertemuan antara KDM dan dirinya akan membawa kedamaian dan menyatukan kembali pihak-pihak yang bertikai, layaknya Amarta dan Astina bersatu. Kiai Mim menunggu KDM untuk minum kopi bersama di Malang, berharap membawa keberkahan rezeki bagi Jawa Timur dan seluruh rakyat Indonesia.
Poin-Poin Utama:
- Bantahan Godaan: Kiai Mim membantah keras tuduhan menggoda Sahara, menjadikan statusnya sebagai Hafidzul Quran (penghafal 30 juz) sebagai pembelaan moralnya.
- Kritik Balik: Ia mengkritik keras Sahara terkait penggunaan parfum berlebihan (tercium hingga ratusan meter) dan cara berpakaian yang disebut kasiatun ariatun (berbaju tapi telanjang/ketat), yang dianggap dapat memancing niat buruk.
- Isu Video Pribadi: Kiai Mim menjelaskan bahwa video pribadinya dengan istri bocor karena Sahara membawa kedua ponselnya selama kurang lebih satu bulan (10 hari dan 20 hari) dengan alasan diperbaiki/dipercepat, dan dicurigai terjadi transfer data saat itu.
- Dana KDM: Uang Rp3 juta dari KDM langsung dibagi habis di stasiun dan pasar.
- Hadiah Istri: Dari hadiah Rp10 juta KDM kepada istrinya, Kiai Mim mengambil Rp5 juta untuk nyawer dan mendukung komunitas seni.
- Pandangan KDM: Kiai Mim memuji KDM sebagai “resi yang menjadi raja” atau Batara Kresna, seorang yang fokus mengurus negara dan rakyat.
- Dampak Emosional: Kiai Mim mengaku menangis secara batin karena tuduhan kiai cabul, yang dianggapnya tidak pantas mengingat usianya.
- Mekanisme Koping: Ia memilih menggunakan humor dan tingkah aneh (wong gendeng) sebagai coping mechanism untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang berniat buruk dan membunuhnya.
- Undangan: Kiai Mim secara terbuka mengundang KDM untuk berkunjung ke Malang (bersilaturahmi).
- Harapan: Kunjungan tersebut diharapkan dapat menyatukan kembali dan menciptakan perdamaian, layaknya Amarta dan Astina bersatu.



